Tuhan Tidak Menciptakan Bencana

Posted on April 24, 2013

0


-Berlebihan itu tidak baik! –pepatah dahulu

Kedatangan bencana alam tentu tidak diinginkan. Air kotor membanjiri kota, tanah longsor menimbun desa, hingga hujan asam perusak bangunan, siapapun tidak ada yang menginginkannya. Namun, kedatangan bencana alam yang sering tiba-tiba itu tak bisa ditahan oleh siapapun. Apakah Tuhan campur tangan dalam kejadian ini? Tentu saja jawabnya iya. Tuhan akan selalu mengurus alam semesta dengan cara-Nya. Lantas, apakah Tuhan patut disalahkan atas kejadian ini? Tunggu dulu, mari kita cermati.

Alam semesta yang seimbang

Dalam teori mana pun, semua orang percaya bahwa alam semesta tercipta dalam keseimbangan yang sempurna. Sumber daya alam sudah tercipta sesuai proporsi masing-masing. Langit tercipta sesuai proporsinya, menebar air hujan, dan berubah warna-warni sesuai waktunya. Matahari dan bulan tercipta sesuai proporsinya, silih berganti menghiasi pergantian waktu alam semesta. Bumi pun sama, memiliki proporsi sendiri. Diatasnya tumbuh berbagai macam makhluk hidup, seperti pohon, tanaman merambat, besar, kecil, hewan herbivora, omnivora, karnivora, dan sumber alam lainnya. Hanya manusia –satu-satunya makhluk hidup berakal- yang terkadang tidak proposional, berlebihan memanfaatkan alam semesta.

Dengan dalih pemenuhan kebutuhan primer, sekunder, bahkan tersier, manusia bersikeras menggunakan akalnya untuk terus memanfaatkan sumber daya alam hingga nyaris habis tak bersisa. Memang benar, alam semesta tercipta untuk dipimpin manusia, dipimpin dengan benar. Namun nyatanya, ada saja manusia yang mengaku pemimpin alam semesta yang tak peduli dengan aturan mainnya. Seenaknya sendiri membuat aturan, lalu mengabaikan risiko besarnya -mengubah keseimbangan alam.

Berlebihan

Kata “berlebihan” sering dikaitkan dengan hal-hal negatif walaupun tak semuanya benar. Namun, memahami kata pepatah dulu, kata “berlebihan” memanglah bermakna negatif. Tidak hanya untuk urusan pribadi, seperti rasa cinta berlebihan yang bisa berujung sakit hati atau bersantai –meluangkan waktu berlebihan- yang akan melalaikan kewajiban, ternyata kata “berlebihan” ini berlaku juga di alam semesta.

Pemanfaatan sumber daya alam yang berlebihan tentu akan baik pada awalnya –bagi pihak tertentu-, namun tidak akan pernah baik pada ujungnya. Contoh kecilnya adalah penebangan hutan ilegal. Menebang kayu-kayu hutan sepuasnya dan penjualan kayu dengan harga tinggi di masa lampau ataupun masa kini sangatlah prospektif. Bagaimana tidak? Di tengah kebutuhan ekonomi yang tinggi, dengan harga kayu saat ini mencapai 3,8 juta/m3, tentu sangat cukup untuk memenuhi kehidupan seseorang hingga beberapa tahun atau beberapa generasi ke depan. Mirisnya, lahan kosong tidak berpohon itu dengan sekejap disulap menjadi deretan rumah mewah, tidak ditanami pohon seperti semula.

Jika sedikit saja dipahami, semua itu adalah salah. Dulu, nenek moyang kita memang sering menebang pohon di hutan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Tetapi, mereka mengambil kayu-kayu hutan sesuai porsinya, hanya untuk membangun rumah dan sebagai kayu bakar, cukup. Tak akan merusak hutan seperti saat ini. Manusia sudah berlebihan –serakah-. Kebutuhan sandang, pangan, dan papan sudah tercukupi, tapi tetap saja masih ingin menghabisi pohon di hutan. Tak tahukah mereka pohon adalah sumber kehidupan?

Pohon adalah sumber kehidupan

Kehidupan manusia sangat bergantung dari ketersediaan oksigen dan air. Dalam satu hari, manusia normal akan membutuhkan oksigen sebanyak 2880 liter dan mengonsumsi air yang lebih banyak. Semua itu disediakan oleh alam secara gratis, terutama pohon.

Daunnya yang rindang akan menghasilkan oksigen dalam jumlah banyak. Tak hanya itu, akarnya yang kuat dan menancap di dalam tanah akan membantu menyerap air hujan yang turun ke bumi. Lalu, air yang diserap akan disimpan sebagai cadangan air tanah. Ketika fungsi akar pohon tidak berjalan, maka bencana berbeda akan terjadi pada dua musim berbeda.

Saat musim penghujan datang, air hujan akan lolos mengalir sesuai gravitasi, dari dataran tinggi –gunung- menuju dataran rendah tanpa diserap tanah. Bayangkan ketika curah hujan sedang tinggi. Air yang banyak, tak terserap oleh tanah karena tidak ada pohon, akan mengalir deras menuju dataran rendah. Dan naasnya, puing-puing sampah di beberapa sudut dataran rendah ikut dalam arus aliran air, hingga akhirnya air meluap ke permukiman, terjadilah bencana bernama banjir. Tak hanya itu, kadangkala air yang mengalir membawa partikel-partikel tanah yang bisa berujung pada bencana lainnya, longsor.

Sebaliknya, bencana ketika musim kemarau adalah kekurangan air bersih. Itu bisa difahami. Ketika akar pohon tidak berfungsi dengan baik, penyerapan air hujan tidak maksimal, maka di musim kemarau cadangan air tanah sedikit, sumur-sumur akan kering. Malang, manusia yang bergantung pada air tanah akan membeli air bersih atau menjadikan air kotor sebagai alternatif. Jika itu terjadi, maka bencana selanjutnya adalah timbulnya penyakit kulit, diare, dan penyakit lainnya. Menyeramkan.

Apakah Tuhan yang menciptakan bencana? Tentu tidak. Manusia berlebihan-lah yang bertanggung jawab. Apakah Tuhan tidak bisa menahan terjadinya bencana? Tentu sangat bisa. Tapi, mari kita lihat sisi positifnya. Tuhan hendak menegur kita lewat bencana, menyadarkan manusia agar tetap hidup seimbang, tak berlebihan dalam memanfaatkan sumber daya alam.***

 

Dina Nurdiana 

10409006

Ditandai:
Posted in: Opini