Sang Pemimpin Menyelamatkan Eksistensi Diri

Posted on April 24, 2013

0


Kemunculan akun resmi Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono – atau biasa dipanggil SBY – di jejaring sosial Twitter masih hangat diperbincangkan di negeri ini. Akun bernama @SBYudhoyono tersebut resmi diverifikasi pada hari Sabtu, 13 April 2013, dan langsung mendapat sambutan hangat dari masyarakat “Twitterland”. Hanya satu hari sejak peluncurannya, akun ini telah di-follow oleh sekitar 400.000 pengguna Twitter. Sampai hari ini, Rabu, 17 April 2013,  follower akun tersebut sudah lebih dari 1.000.000.

Sebenarnya, Istana Presiden juga memiliki akun Twitter resmi dengan nama @IstanaRakyat. Namun, SBY masih merasa perlu memiliki akun pribadi. Sebelum ini, sejak tahun 2005, Presiden juga sudah membuka layanan SMS ke nomor 9949 bagi masyarakat yang ingin mengajukan aduan langsung. Tapi layanan ini sekarang sudah dihentikan, karena ada masalah teknis yang membuat pulsa pengirim SMS menjadi terpotong. Selain itu, SMS dari masyarakat juga sering tidak mendapat balasan.

Mungkin Presiden kita juga peka dengan kemajuan teknologi informasi masa kini. Fitur SMS sudah ketinggalan jaman. Sekarang orang-orang “nongkrong” di jejaring sosial. Banyak figur publik, bukan hanya selebriti, memiliki akun Twitter. Bahkan para tokoh agama, seperti Dalai Lama dan Paus Vatikan, juga memanfaatkan jejaring sosial Twitter. Para tokoh politik juga tidak mau ketinggalan. Menurut pengakuan SBY, di antara para pemimpin G20, saat itu hanya 4 orang yang belum memiliki akun Twitter, termasuk dirinya. Akhirnya, Presiden kita pun ikut membuat akun Twitter.

Di akunnya, SBY mengirimkan tweet tentang responnya terhadap berbagai persoalan negara, seperti kecelakaan Lion Air dan kisruh UN. Ia juga sering menyampaikan salam kepada rekan-rekannya. Tidak semua tweet beliau bersifat serius, ada juga tweet yang menampilkan fotonya bersama cucu-cucu tercinta. Lucunya, beliau juga follow beberapa selebriti muda Indonesia yang menurut sebagian orang menggelikan untuk di-follow oleh seorang Presiden.

Secara tampilan, halaman profil Twitter SBY mirip dengan milik Presiden Amerika Serikat, Barack Obama (@BarackObama). Namun, ketika membandingkan kontennya, ada perbedaan yang sangat terasa. Kedua akun pribadi ini sama-sama dibantu dikelola oleh Staf Khusus. Tapi untuk konten serius, tweet Presiden Obama terlihat lebih profesional. Pemilihan kata-kata untuk Twitter Presiden Obama juga terasa jauh lebih memikat, dengan isi yang padat. Melihat hal ini, SBY dan stafnya sepertinya masih harus belajar teknik komunikasi di media sosial.

Respon masyarakat negeri ini pun bermacam-macam atas kemunculan akun Twitter SBY. Ada yang mendukung, ada juga yang nyinyir. Bukan hanya masyarakat Indonesia yang merespon. Bintang porno luar negeri, Vicky Vette, melalui akun Twitternya bahkan menggoda SBY dengan nakal. Sontak para pengguna Twitter menggunakannya sebagai bahan candaan.

Tujuan SBY untuk “berbagi sapa, pandangan, dan inspirasi” memang terfasilitasi melalui Twitter. Namun, ada keraguan bahwa  cara ini tidak akan efektif. Mungkin masalahnya ada pada timing – pemilihan waktu. Dulu, pada awal masa pemerintahannya, citra SBY memang baik. Saat itu masyarakat baru mengenal SBY. Setidaknya SBY paling memiliki figur ideal seorang pemimpin. Badan tegap berisi, wajah juga menarik untuk dipandang. Tak heran jika dari kalangan ibu-ibu banyak yang mengidolakan SBY. Selain itu, masyarakat Indonesia memang lebih suka dengan sesuatu yang “baru” daripada yang “lama”. Yang “baru” itu selalu diharapkan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Namun, setelah 9 tahun pemerintahan SBY, masyarakat Indonesia ternyata belum merasa puas dengan kinerja sang Presiden. Pemilik badan tegap itu ternyata tidak memiliki ketegasan. Di awal pemerintahannya, beliau berjanji akan memberantas korupsi. Namun sampai sekarang korupsi masih merajalela. Satu tahun menjelang pensiun sebagai presiden, SBY juga semakin dipusingkan dengan kasus korupsi yang membelit partainya.

Citra pemimpin tertinggi negeri ini merosot drastis. Sebagian orang yang kecewa dengan SBY justru menggunakan kreativitas mereka untuk membuat candaan tentang sang Presiden di media sosial. Mungkin karena candaan berbau hinaan ini semakin marak, Presiden merasa perlu untuk mengadakan kembali Undang-Undang tentang Penghinaan Presiden dalam Pasal 265 RUU KUHP. Tapi percuma, langkah tersebut justru semakin memperjelas bahwa saat ini Pak Presiden sudah tidak dihormati oleh rakyatnya.

Rasa hormat atau respek tidak dapat diminta secara paksa. Ia harus diberikan dengan sukarela. Presiden SBY termasuk orang yang mudah mendapatkan rasa hormat dari masyarakat. Namun, memang “mempertahankan” itu jauh lebih sulit daripada “mendapatkan”. SBY harus menunjukkan melalui kinerjanya, bahwa beliau memang layak diberi rasa hormat. Sekarang, ketika rasa hormat itu sudah mulai pudar, masa beliau memerintah akan segera habis, apa lagi yang dapat dilakukan? Untuk apa lagi beliau berusaha menyelamatkan eksistensi dirinya? Mungkin, beliau hanya ingin memperlambat matahari terbenam.***

 

Gaby Almira

10509028

Kimia ITB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ditandai:
Posted in: Opini