Presiden Gaul, Lebih Dekat dengan Masyarakat?

Posted on April 24, 2013

0


Adanya akun resmi twitter milik Presiden SBY memang menjadi fenomenal di Indonesia saat ini. Akun yang belum genap dua minggu itu telah menjadi bahan pembicaraan hingga gurauan dan bahkan ejekan di media sosial tersebut. Ingin lebih dekat dengan masyarakat namun malah menjadi bahan bully-an, Bapak SBY memang mesti banyak bersabar, tidak hanya prihatin.

Twitter adalah salah satu situs media sosial di dunia maya (internet) yang dirilis pada pertengahan satu dasarwarsa terakhir ini. Dalam situs ini, pengguna  twitter diberikan keleluasaan dalam dan kemudahan dalam menginformasikan keadaan yang dialaminya. Situs ini lebih sederhana pemakaiannya dibandingkan media sosial yang telah ramai sebelumnya, yaitu Facebook. Oleh karena itu lah situs ini sangat digemari oleh masyarakat luas.

Dalam keterangannya sebelum peresmian akun tersebut, dengan akun twitter-nya SBY ingin dapat mengamati langsung bagaimana aspirasi masyarakat. Selain itu beliau juga berbagi inspirasi.

Hal ini menurut saya sangat baik. Pemimpin memang perlu untuk lebih dekat dengan masyarakat. Selama hal itu tidak hanya untuk pencitraan, saya rasa bukan tidak mungkin SBY di akhir masa pemerintahannya ini dapat lebih disayangi rakyatnya, yaitu dengan lebih banyak mengamati langsung. Saya rasa ini adalah metode pendekatan yang sah karena presiden juga manusia yang butuh eksis dan mengikuti trend masa kini.

Selain SBY sebenarnya telah banyak pejabat pemerintah atau tokoh masyarakat telah memiliki akun twitter ini. Sebut saja yang cukup rajin nge-tweet adalah Tifatul Sembiring (Menkominfo RI), Sudjiwo Tejo (seniman), A. A. Gym (ulama), Karni Ilyas (jurnalis), dan Joko Widodo (Walikota DKI Jakarta). Dalam kesehariannya di dunia maya, pejabat pemerintah dan tokoh masyarakat tersebut tentu sudah sangat sering berinteraksi dengan masyarakat Indonesia. Adanya akun tersebut cukup mampu membuat masyarakat Indonesia menjadi lebih ingin tahu dan mendapat inspirasi darinya. Sejauh yang dapat dilihat masyarakat cukup antusias menyimak bagaimana isi tweet yang disampaikan. Terlebih baik lagi mereka juga tidak segan-segan berinteraksi dan membalas pertanyaan yang ditujukan kepadanya.

Saat ini, akun yang bernama “@SBYudhoyono” telah mencapai satu juta follower –akun yang mengikutinya dalam twitter. Bahkan sebelum peresmiannya pun jumlah follower-nya sudah mencapai angka yang fantastis. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia ingin tahu lebih banyak tentang sosok presidennya. Selain itu hal ini menjadi keuntungan juga bagi Pak SBY. Akun ini dikelola oleh tim dibawah staf ahli presiden.

Beberapa respon positif dan negatif telah banyak diutarakan meskipun yang banyak terdengar adalah negatifnya. Bila diamati di timeline twitter, cukup banyak gurauan dan hinaan yang ditujukan kepada akun presiden ini. Hal itu disampaikan oleh akun tertentu yang tidak dapat diketahui langsung bagaimana identitas asli pemilik akun tersebut. Sepertinya wibawa sosok seorang presiden menjadi turun drastis dalam dunia maya ini. Hal ini memang menjadi resiko yang harus siap ditanggung oleh presiden. Selain itu yang cukup disayangkan adalah jumlah following –akun yang diikuti dalam twitter– yang tidak kian bertambah. Hal ini menjadi sangat meragukan tujuan dibuatnya akun ini untuk lebih dekat dengan masyarakat. Hanya akun yang diikuti saja yang akan selalu tampil  informasi terbarunya. Seolah akun ini hanya untuk memberitahukan bagaimana sosok presiden melalui tweet-nya yang sarat dengan kesan pencitraan. Di samping itu berhembusnya berita bahwa akan ada wartawan yang “beruntung” yang akan menjadi salah satu following-nya telah memperburuk kesan negatif ini.

Bila dilihat dari isi tweet yang pernah disampaikan, sebenarnya tidak –atau masih belum- ada yang salah dan sensasional. Kebanyakan dari isinya adalah berupa nasihat dan hal yang dengan keluarga. Sesekali juga beliau menyampaikan sesuatu yang berkaitan dengan pemerintahannya namun masih normatif. Menurut saya bisa jadi jumlah follower yang sangat banyak adalah karena masyarakat saat ini telah gelisah dan penasaran dengan kinerja pemerintah di akhir masanya ini. Sehingga tentu akan banyak juga follower yang menantikan “pencerahan” terhadap kepemimpinan presidennya. Adanya akun ini, bila hanya untuk menyampaikan tweet yang sifatnya curhatan berpotensi dapat menambah tingkat ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah.

Interaksi telah pernah terjadi antara presiden dengan tokoh masyarakat yaitu Abraham Samad. Dalam percakapan yang diawali dan disampai oleh Ketua KPK RI itu, tersirat penegasan mengenai bagaimana posisi dan peran KPK dalam menangani kasus korupsi. Hal ini mungkin berkaitan dengan isu akhir-akhir ini berhembus bahwa KPK berada dalam kendali pihak istana presiden yang tidak lain adalah presiden sendiri. Namun tidak banyak interaksi balik yang disampaikan oleh akun presiden hingga pukul 3.00 hari ini selain kalimat “Presiden SBY: Speak is silver. Silence is golden”. Pernyataan tersebut boleh dipandang sebagai sikapnya terhadap penyataan Ketua KPK namun menurut saya hal itu dapat mendatangkan kesan ketidakpedulian. Bila boleh ditambahkan, kalimat tersebut bisa diteruskan dengan “But act is maybe a diamond, more valuable”.

Bukan hal yang mudah bagi seorang presiden yang dalam dunia nyata telah banyak mendapat kritik untuk dapat membumikan diri di dunia maya. Namun adanya akun ini masih memiliki potensi baik baik presiden dengan lebih memperbanyak isi tweet yang mampu menjawab kegelisahan masyarakat. Selain itu seperti pejabat pemerintah dan tokoh yang lain, sebaiknya presiden lebih banyak berinteraksi dan menanggapi komentar masyarakat yang ditujukan kepadanya. Di samping itu yang perlu dilakukan adalah menambah follower tanpa memandang posisi pemilik akun tersebut dan kepentingan presiden terhadapnya. Akun twitter kepresidenan juga telah dimiliki oleh Presiden Amerika Serikat dengan jumlah following mencapai enam ratus ribu.***

Firman Iqro Bismillah 10209108

Ditandai:
Posted in: Opini