Pesawat Tua Tidak Aman?

Posted on April 24, 2013

0


Transportasi udara merupakan salah satu moda transportasi yang saat ini mulai banyak digunakan di Indonesia. Transportasi udara juga merupakan moda transportasi yang berkembang paling pesat dibandingkan moda transportasi lain di Indonesia. Hal ini disebabkan semakin murahnya harga tiket yang dijual oleh maskapai-maskapai penerbangan, baik lokal maupun internasional. Yang tadinya hanya bisa dinikmati oleh masyarakat kalangan “atas”, sekarang sudah bisa dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat. Seperti salah satu slogan dari maskapai berbiaya murah terkenal yang kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi “Semua Orang Bisa Terbang”, naik pesawat di zaman sekarang sudah menjadi hal yang lumrah. Permasalahannya adalah, masih banyak mitos-mitos yang beredar mengenai dunia penerbangan di kalangan masyarakat awam. Salah satu dari mitos yang beredar adalah bahwa pesawat tua lebih tidak aman dibandingkan pesawat baru. Dalam dunia penerbangan, tentu saja hal ini tidak benar. Berikut adalah beberapa alasan mengapa pernyataan bahwa pesawat tua tidak aman itu tidak sepenuhnya benar.

Hal yang pertama adalah semua pesawat yang diperbolehkan untuk terbang di suatu negara pasti sudah melewati berbagai macam tes dan sertifikasi oleh lembaga berwenang di negara tersebut. Lembaga-lembaga yang berwenang ini juga tentunya tidak main-main dalam memberikan sertifikat keamanan pesawat, karena pengeluaran sertifikat ini akan menyangkut keselamatan nyawa ratusan penumpang yang akan diangkut oleh pesawat tersebut. Biasanya, sebuah pesawat yang dijual oleh pabrik pesawat akan disertifikasi oleh lembaga-lembaga internasional yang diakui oleh banyak negara, seperti FAA (Federal Aviation Administration) dari Amerika Serikat atau JAA (Joint Aviation Authorities) dari Eropa, dan juga disertifikasi oleh lembaga sertifikasi negara pembuat pesawat dan juga negara pengoperasi pesawat. Jadi, semua pesawat yang sudah diperbolehkan terbang tentunya akan memiliki tingkat keselamatan yang sama sesuai dengan standar yang telah ditetapkan lembaga-lembaga tadi, baik pesawat itu tua atau pun muda.

Hal yang kedua, ada banyak faktor yang mempengaruhi keselamatan sebuah pesawat. Seperti bagaimana pesawat tersebut dirawat, bagaimana sebuah maskapai menggunakan pesawat tersebut, apakah pesawat tersebut selalu diperiksa secara rutin, dan faktor lainnya. Biasanya, faktor yang paling mempengaruhi adalah dalam aspek perawatan. Jika pesawat yang sudah tua dirawat dengan baik, pesawat tersebut tentunya akan bisa terbang dengan baik pula. Sebaliknya, jika pesawat yang baru keluar dari pabrik tidak dirawat dengan baik, tentunya tingkat keamanan penggunaan pesawat tersebut pun akan menurun. Ini terbukti dengan adanya ratusan pesawat yang berumur puluhan tahun yang masih terbang hingga hari ini tanpa ada masalah, sedangkan ada pesawat lain yang baru berumur beberapa tahun atau bahkan beberapa bulan, namun sudah memiliki masalah teknis dalam pengoperasiannya. Salah satu contoh pengguna pesawat tua ini berada di salah satu negara maju, yaitu Amerika Serikat. Salah satu maskapai terbesar di sana, Northwest Airlines, masih menggunakan pesawat jenis McDonnell Douglas DC-9 yang rata-rata sudah berumur hampir 40 tahun di saat sudah banyak pesawat baru mulai berdatangan. Bahkan, setelah maskapai tersebut melakukan merger bersama Delta Airlines di tahun 2010, pesawat DC-9 tersebut masih sempat dipakai selama beberapa bulan dan bahkan ada beberapa pesawat yang ditarik dari masa pensiun sebelum akhirnya digantikan lagi oleh pesawat yang lebih baru. Ini membuktikan bahwa pesawat tua juga masih bisa bersaing dengan pesawat-pesawat yang lebih baru pada segmen pasar tertentu.

Sebenarnya, seperti semua benda buatan manusia, pesawat juga memiliki batas umur pengoperasian. Umur pengoperasian pesawat juga bermacam-macam, biasanya bergantung pada misi pengoperasian pesawat tersebut. Umur pengoperasian pesawat ini biasanya merupakan acuan berapa lama penggunaan pesawat tersebut akan optimal. Namun, jika umur tersebut sudah dilewati, bukan berarti pesawat tersebut sudah tidak bisa digunakan. Biasanya produsen pesawat akan menawarkan modifikasi perpanjangan umur pengoperasian pesawat, namun tentunya efisiensi pesawat tersebut tidak akan sebaik sebelum dilakukan modifikasi. Dalam hal ini, benar bahwa pesawat tua memiliki kekurangan dibandingkan pesawat baru, yaitu dalam hal biaya pengoperasian. Namun, hal ini seharusnya tidak mempengaruhi keamanan pesawat, hanya mempengaruhi sisi bisnis dari maskapai yang mengoperasikan pesawat tersebut.

Satu hal lagi yang biasanya sering dihubung-hubungkan antara umur pesawat dengan teknologi adalah bahwa pesawat bertenaga baling-baling (turboprop) merupakan teknologi tua yang seharusnya tidak lagi digunakan. Hal ini tentunya salah besar, karena pada dasarnya ada segmen pasar di mana pengoperasian pesawat turboprop akan jauh lebih efisien dan menguntungkan dibandingkan pesawat yang bermesin jet atau turbofan yang umumnya dimiliki maskapai Indonesia sekarang ini. Nyatanya, pengembangan pesawat turboprop masih berjalan hingga hari ini, terbukti dengan keberlanjutannya program pesawat-pesawat seperti ATR 72-600 buatan Prancis dan Italia atau pun Bombardier Dash-8-Q400 buatan Kanada. Bahkan, pesawat jenis turboprop ini sangat banyak digunakan pada rute terbang jarak dekat di Benua Eropa dan Amerika sana.

Dari yang sudah dijabarkan di atas kita bisa melihat, bahwa di antara faktor yang mempengaruhi keamanan sebuah pesawat, umur pesawat hanya merupakan bagian kecil dari itu. Pada akhirnya, umur pesawat hanya akan mempengaruhi biaya operasional pesawat yang tentunya akan lebih mahal dan pemeliharaannya akan lebih sulit dibandingkan pesawat yang lebih baru. Oleh sebab itu, kita bisa mengatakan bahwa kita tidak perlu khawatir mengenai umur pesawat jika kita memutuskan untuk menggunakan moda transportasi yang semakin hari semakin populer ini.***

Muhammad Rafi Hadytama

13611006

Aeronotika dan Astronotika

Ditandai:
Posted in: Opini