Krisis Kepemimpinan di Indonesia

Posted on April 24, 2013

0


Bungkam itu bukan putusan tepat, ketika negeri ini gaduh oleh suara politisi jahat. Bersuaralah, atau negerimu ini bakal jatuh kepada para bedebah”

Rakyat, dewasa ini sudah sadar dengan realita dan fakta-fakta yang terjadi di kalangan pejabat elit di pemerintahan kita. Apalagi kita sudah sering disuguhi berita-berita khas tentang para politikus ini di media cetak maupun televisi. Mulai dari kasus korupsi yang kerap terjadi dimana-mana, oknum yang terlibatpun mulai dari pejabat elit hingga tingkat sekelas kepala desa. DPR yang sering kali “bolos” ketika rapat sidang paripurna. Rakyatpun pada akhirnya semakin apatis dengan wacana demokrasi ini.

Dari beberapa proses pemilihan umum yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan tingginya angka golput (golongan putih). Seperti yang terjadi pada pemilihan gubernur di Sumatra Utara. Pemilihan gubernur dimenangkan oleh golongan putih. Di Kota Medan sendiri jumlah DPT (Daftar Pemilih Tetap) berjumlah 2.121.551 orang. Namun presentase golongan putih adalah yang terbanyak yaitu sebesar 63,38%. Sedangkan jumlah pemilih hanya berkisar 36,62%.

Hal ini bisa terjadi dikarenakan masyarakat yang kecewa dengan kinerja para pemimpinnya mulai dari tingkat yang paling rendah hingga tingkat presiden sekalipun. Banyak sekali masyarakat yang tertipu dengan sosok “pemimpin” ini. Mereka semuanya hanya mengobral janji-janji yang ingin memakmurkan dan menyejahterakan rakyat. Ketika mereka telah terpilih, janji tersebut seolah hanya menjadi angin yang berlalu.

Indonesia merupakan negara yang kaya. Tengoklah lantunan lagu Ibu Pertiwi, hutan, gunung, sawah, lautan, semuanya adalah kekayaan Indonesia. Namun, kemanakah negeri kita yang hebat ini ? Negara kita memiliki garis pantai terpanjang, tetapi anehnya masih mengimpor garam dari luar. Negara kita memiliki tambang emas setinggi gunung, tapi lihatlah rakyat yang hidup di sekitar daerah pertambangan, mereka tetap hidup miskin.

Menurut Dwidjoyowianto (1998) dalam bukunya Indonesia 2020, pemimpin harus mengatasi paradoks yang selama ini menjadi momok bagi kepemimpinan di Indonesia. Hingga saat ini Indonesia masih menunggu sosok seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang benar-benar bisa membawa perubahan di Indonesia. Sosok yang amanah, bertanggungjawab, memiliki rasa nasionalisme yang tinggi, dan cinta kepada rakyat Indonesia. Sosok yang bisa mengatur potensi sumber daya alam Indonesia untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Sayangnya praktik demokrasi di negara kita ini masih belum bisa melahirkan sosok pemimpin Indonesia yang seperti itu. Yang terjadi adalah hal sebaliknya, banyak sekali pemimpin yang dipilih secara demokratis namun akhirnya mengecewakan.

 

Kurangnya rasa percaya diri

Krisis kepemimpinan yang terjadi di Indonesia terjadi karena adanya rasa kurang percaya diri yang dimiliki masyarakat Indonesia. Pada dasarnya banyak orang Indonesia yang cerdas, yang memiliki integritas tinggi, namun mereka semua diam. Dan akhirnya orang-orang yang “gila kekuasaan” lah yang sekarang berdiri di kursi pemerintahan Indonesia. Sungguh ironis negeri kita ini.

 

Kurangnya pendidikan moral bangsa

Krisis kepemimpinan juga terjadi karena pendidikan moral yang kurang diterapkan kedalam setiap diri masyarakat di Indonesia. Bisa dilihat dari banyaknya kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme yang terjadi di Indonesia. Seolah tidak ada habisnya. Masalah korupsi yang satu belum selesai, sudah muncul lagi beberapa kasus korupsi yang baru. Betapa bobroknya moral para pejabat kita diatas sana.

Baru-baru ini juga terjadi kasus kecurangan dalam pengerjaan Ujian Nasional. Masih banyak pula siswa yang berorientasi pada nilai, bukan pada proses, sehingga tidak sedikit yang melakukan kecurangan seperti mencontek dan saling bekerja sama dalam pengerjaan soal ujian. Bukankah pendidikan moral seharusnya dididik semenjak dini, agar kelak generasi muda Indonesia bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik lagi.

 

Proses kaderisasi kepemimpinan

Proses kaderisasi pemimpin di Indonesia masih sangat buruk. Partai yang seharusnya berperan sebagai tempat mengkader sosok pemimpin tersebut justru dapat dengan mudah dimanipolitik. Tidak heran banyak tokoh-tokoh baru yang muncul secara tiba-tiba padahal mereka tidak punya latar belakang pendidikan politik sama sekali.

Seharusnya, pendidikan kaderisasi kepemimpinan sudah dibangun semenjak dini. Karena untuk membentuk mental seorang pemimpin sejati tidaklah mudah, butuh proses yang sangat panjang  didalamnya. Seperti pola kaderisasi persiapan mental pembentukan kader dalam sebuah organisasi, perlu adanya sistem yang komprehensif, konseptual, sistematik, dan terarah sehingga akan melahirkan sosok yang matang dan berkualitas.

Entah kapan, sosok pemimpin itu akan hadir ditengah kita. Seperti oase yang berada ditengah padang pasir. Sosok yang bisa menyegarkan, memberikan ide-ide, dan gagasan baru, yang bisa menyelesaikan segala permasalahan di Indonesia. Yakinlah bahwa suatu hari nanti mereka akan ada di tengah kita. Yakinlah bahwa nanti akan ada sosok seorang pemimpin yang bisa yang tidak hanya membawa idealisme mereka, namu juga membawa perubahan dan menyelesaikan segala keburukan yang terjadi di dalam pemerintahan kita.***

 

Devi Farah Dina

10311018

 

Ditandai:
Posted in: Opini