CISITU – MINIATUR JAKARTA DI KAWASAN BANDUNG UTARA

Posted on April 24, 2013

0


Kemacetan lalu lintas tentunya bukan hal yang aneh bagi sebagian atau bahkan kebanyakan orang yang tinggal di kota-kota besar. Tidak hanya di Jakarta saja yang terkenal dengan fenomena kemacetan lalu lintas, Bandung pun tak mau kalah untuk pula bermacet ria. Kemacetan lalu lintas karena banyak terpasang lampu merah tentu tidak mengherankan tapi bagaimana jika kemacetan tersebut disebabkan oleh badan jalan yang tak mampu menyediakan lahan untuk ‘jalan’ karena diserobot oleh para pengguna parkir sembarangan. Mungkin hal ini banyak terjadi di wilayah Bandung tapi jika di zoom in dan diperhatikan dengan cermat fenomena parkir sembarangan sampai mengakibatkan kemacetan parah terjadi di wilayah kecil Bandung Utara tepatnya di Wilayah Cisitu, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong.

Cisitu, tempat kos nyaman bagi kebanyakan mahasiswa perantauan ini merupakan kawasan super strategis karena lokasinya yang dekat dengan berbagai perguruan tinggi terkemuka di Bandung, sebut saja ITB, Unpad, Unisba, Unpas dan Unikom, serta adanya akses transportasi yang mudah diperoleh yaitu dengan tersedianya angkot cisitu-tegallega yang bisa mengantarkan para penumpangnya ke tempat tujuan manapun asal masih dalam jangkauan trayeknya.  Namun tidak semulus dibayangkan, Cisitu saat ini tak seindah dugaan melainkan telah bertransformasi menjadi laiknya miniatur Jakarta yang dilanda macet berkepanjangan walaupun macet yang terjadi tidak sepanjang hari melainkan di waktu-waktu sibuk dan bisa dilanda macet parah saat weekend tiba.  Penyebab kemacetan di Cisitu tak lain karena meningkatnya para pengguna kendaraan pribadi khususnya kendaraan roda empat tidak sebanding dengan banyaknya lahan parkir bagi kendaraan roda empat tersebut, alhasil banyak para pengguna kendaraan yang melakukan parkir liar alias dengan seenaknya menggunakan badan jalan untuk lahan parkir mereka. Entah apa yang ada dipikiran para pengguna parkir liar tersebut saat mereka dengan seenaknya memarkir mobil mereka di badan jalan, padahal jelas terlihat bahwa badan jalan Cisitu hanya cukup untuk dua jalur kendaraan roda empat. Jika ada satu saja mobil yang parkir di badan jalan, jelas bisa menghambat para pengguna jalan lainnya untuk melintas apalagi jika mobil yang diparkir lebih dari satu.

Seperti yang terjadi di hari Jumat, 12 April 2013 pukul 9 pagi, saat saya sedang menaiki angkot cisitu-tegal lega menuju kampus terjadi hal yang sungguh menjengkelkan luar biasa, macet parah, hingga saya tertahan di angkot selama hampir tiga puluh menit lamanya. Yang membuat jengkel dan kesal, kemacetan tersebut disebabkan oleh adanya lima mobil yang tanpa dosa terparkir di badan jalan sehingga para pengguna jalan lainnya harus bergantian melewati satu jalur karena jalur satunya terhalang oleh mobil-mobil yang terparkir itu. Kemacetan semakin menjadi-jadi karena di jam tersebut banyak sekali para pengguna kendaraan yang memacu kendaraanya terlebih angkutan umum pun banyak yang berseliweran, sungguh ini merupakan pengalaman pahit yang tidak mengenakkan.

Melihat fenomena tersebut, tidak berlebihan nampaknya jika kita menyebut  Cisitu sebagai miniatur Jakarta di kawasan Bandung Utara. Walaupun penyebab kemacetan di Cisitu tidak sekompleks penyebab kemacetan yang terjadi di Jakarta, tapi mirip juga bukan? Kemiripan tersebut bisa dilihat dari banyaknya pendatang yang menghuni Cisitu. Statistik menyebutkan bahwa Kawasan Cisitu diisi oleh 65 % pendatang dan hanya sekitar 35 %  saja yang merupakan penduduk Cisitu asli. Para pendatang tersebut pun saat ini telah banyak yang memiliki kendaraan pribadi khususnya kendaraan roda empat dan tak diragukan kalangan mahasiswalah yang menempati posisi pertama sebagai pendatang ‘tajir’ yang memiliki kendaraan roda empat pribadi, walaupun tidak sedikit juga mahasiswa yang masih bergantung pada angkutan kota sebagai alat bantu untuk bepergian kemana-mana.  Kemiripan yang lain bisa dijumpai dari banyaknya badan jalan yang digunakan sebagai lahan parkir. Walaupun saat ini pemerintah Jakarta telah cukup ketat mengeluarkan peraturan dan menindak para pelaku pengguna parkir liar dengan berbagai macam hukuman, tak dapat dipungkiri masih banyak pengguna ‘bandel’ yang tetap memarkir kendaraan mereka di badan jalan, sehingga menjadi salah satu penyebab kemacetan lalu lintas di Ibukota. Hal serupa terjadi di Cisitu, belum adanya peraturan tegas yang mengatur guna jalanan maupun pengguna jalan menyebabkan para pelaku jalanan mangkir alias bertindak seenaknya, diantaranya dengan memarkir kendaraan pribadi mereka di badan jalan yang menjadi penyebab utama kemacetan di Cisitu.

Tidak salah memang jika para pendatang tersebut memiliki kendaraan pribadi dan menggunakan kendaraan pribadi mereka dengan sekehendak hati,  tapi alangkah lebih baik jika ‘penggunaan’ kendaraan pribadi tersebut dengan cara yang bijaksana, salah satunya dengan memarkir kendaraan di tempat yang semestinya untuk parkir bukan malahan di badan jalan seperti ini. Bukannya ajaran agama manapun menyebutkan bahwa  sebagai pribadi haruslah kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Dengan parkir sembarangan apalagi parkir di jalan umum jangankan bermanfaat, tindakan tersebut malah menyusahkan orang banyak. Bijaklah dalam berlaku kawan, karena seringkali kita berpikir bahwa tindakan yang kita lakukan sepele dan biasa saja tapi tak jarang tindakan tersebut bisa merugikan orang lain, seperti halnya parkir liar ini – sepele, tapi bagi orang lain menyebalkan luar biasa.***

 

 Isa Maryam

10109105

Ditandai:
Posted in: Opini