Wirausaha Bermodal Mimpi

Posted on Desember 16, 2012

1


Adalah sebuah impian semua wirausaha untuk membangun usahanya dengan modal nol. Terlebih bagi masyarakat Indonesia, dimana kultur untuk wirausaha masih terhalang oleh paradigma modal sebagai langkah pertama dalam membangun usaha. Namun apakah sesungguhnya konsep kewirausahaan tanpa modal benar-benar eksis? Apakah model bisnis tersebut sanggup menghasilkan jutaan dolar dengan modal mendekati nol? Apakah sudah ada yang menerapkannya di Tanah Air? Apakah model bisnis ini bisa membantu Indonesia keluar dari krisis ekonomi? Untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut, jawabannya adalah ya. Terlebih lagi, Anda-pun memiliki peluang untuk turut berkecimpung di dalamnya.

Apa rahasianya?

Konsep berbisnis dengan modal nol (atau mendekati nol) umumnya diterapkan di dalam dunia teknologi informasi. Para petarung bisnis bisa memulai usahanya hanya bermodal ide kreatif dan komputer pribadi mereka. Sebagai contoh, jejaring sosial Facebook yang dipimpin oleh Mark Zuckerberg asal Amerika dimulai ketika Mark masih berstatus mahasiswa di Harvard. Bahkan situs populer tersebut ternyata dikembangkan dari kamar asrama Mark dan hanya bermodal komputer pribadinya. Semenjak rilis pertamanya di berbagai kampus Amerika, Facebook terus menyedot pengguna dari berbagai kalangan dan usia hingga menembus kancah internasional. Berdasarkan pengamatan Tempo, pada 2009 Facebook mencatat pendapatan yang mencapai US$ 800 juta – hanya 5 tahun semenjak peluncuran perdana situs tersebut. Fenomena kesuksesan Facebook ini mungkin contoh paling riil dari kesuksesan sebuah usaha dengan modal minim. Perusahaan-perusahaan baru ini, yang masih mencari target pasar dan terus-menerus mengembangkan model bisnis mereka lazim disebut startup. Masih banyak contoh kisah sukses startup seperti Facebook. Di Indonesia, perintis startup terus bertambah seiring berjalannya waktu. Ambillah contoh startup dalam ranah video game seperti Agate, Sangkuriang, dan Nightspade. Di aspek sosial, ada NoLimit yang menggunakan social media analytics tools untuk menganalisis sentimen masyarakat terhadap kejadian atau produk tertentu. Kemudian ada Koprol, yang meskipun saat ini sudah gulung tikar, namun sempat menarik perhatian raksasa internet Yahoo! pada tahun 2010 untuk mengakuisisinya. Startup-startup ini telah menunjukkan sebuah jalan baru untuk merintis usaha. Terlebih lagi bisnis ini memiliki potensi besar untuk mendatangkan penghasilan yang menggiurkan. Tidak hanya untuk kepentingan pribadi, apabila startup-startup di dalam negeri mendapat dukungan dan kesempatan untuk berkembang lebih jauh mereka akan menjadi jalan keluar krisis ekonomi yang melanda negara kita.

Mengapa harus startup?

Hingga saat ini perekonomian Indonesia masih terbilang belum mandiri dan berani berinovasi. Sektor pangan, sumber daya energi dan gas, perbankan, hingga retail membuat struktur keuangan yang tidak sehat di dalam negara kita. Untunglah, penguasaan sektor-sektor penting oleh perusahaan asing belum menguasai pemikiran-pemikiran kreatif dan semangat insan tanah air. Kehadiran jaringan internet dalam dunia TIK telah menjadi media penting pertumbuhan industri maupun startup-startup lokal.

Dalam sebuah survey yang diadakan oleh Deloitte pada tahun 2011, ternyata kegiatan yang berhubungan dengan internet di dalam negeri bisa menghasilkan 1.6% dari produk domestik bruto (PDB) nasional – atau setara dengan Rp 116 trilliun. Bisnis TIK dalam negeri rupanya telah melampaui industri gas alam cair (1.45% PDB) dan ekspor peralatan elektronik dan listrik (1.51% PDB). Sudah saatnya pemerintah dan wirausaha mengalihkan investasi ke sektor TIK – salah satunya dengan mendorong dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi startup-startup lokal. Berdirinya startup-startup baru di berbagai tempat dalam tempo yang relatif singkat menunjukkan bahwa masih banyak insan Indonesia yang memiliki gagasan dan semangat dalam membangun kemandirian bangsa. Yang mungkin tidak disangka-sangka, ternyata cukup banyak pemuda-pemudi merintis pendirian startup-startup ternama di tanah air. Dari lingkungan mahasiswa jurusan Informatika ITB sendiri terdata hampir setiap tahunnya terdapat jebolan yang sukses menerapkan keilmuan mereka langsung ke dunia nyata. Misal CEO Sangkuriang – Okasugandi (2003) CEO  Agate – Arief Widhiyasa (2005), CEO NoLimit – Aqsath R. Naradhipa (2006), COO Nightspade – Dody Dharma (2006), COO Traveloka.com – Dannis Muhammad (2007), CEO Arsanesia – Adam Ardisasmita (2008), CEO SandangIndonesia.com – Lyco A. Purwoko (2008), dan besar kemungkinan untuk terus berlanjut.

Daftar pendiri sekaligus pemilik startup di usia muda tersebut menunjukkan bahwa masyarakat umum memiliki kesempatan yang sama tanpa memandang usia. Tidak dibutuhkan pengalaman karena jatuh bangun sudah menjadi bagian dari perkembangan semua bisnis, termasuk startup. Yang terpenting adalah bagaimana merangkai ide atau impian sepanjang waktu tanpa kehilangan arah sepanjang keberjalanan startup. Model bisnis ini sangatlah cocok dengan kondisi masyarakat yang serba terbentur dengan kesulitan modal dan regulasi. Apakah Anda memiliki impian yang layak diperjuangkan? Mungkin Anda sudah memiliki satu modal terpenting dalam memulai bisnis startup.

Bagaimana memulainya?

Tidak ada panduan khusus yang mutlak diikuti oleh para pendiri startup. Ada yang memulai ketika masih di bangku kuliah, ada yang bermodal nekat dan berani jatuh-bangun membangun usahanya sambil belajar. Pada dasarnya titik awal yang perlu ditetapkan adalah impian Anda sendiri, kemudian kerendahan hati dan keingintahuan untuk terus mencapai impian tersebut melalui startup Anda. Jangan lupa untuk mencari teman atau kenalan yang memiliki visi sama karena bisa jadi Anda memulai startup bersama secara berkualitas namun dengan modal saweran. Selamat bermimpi!***

 

Akhiles L. Danny Sindra                                                                                                                 135 09 063

 

Posted in: peristiwa