WC Sunken : Sisi Lain Kampus World Class University

Posted on Desember 16, 2012

0


Wendi (19 tahun) seorang mahasiswa Teknik Penerbangan angkatan 2011 lari terbirit, sedikit terburu seraya mengernyitkan dahinya selepas memasuki sebuah WC di pojok Sunken Court. Ia keluar dengan muka masam, tangan kiri menutup hidung, dan lari sambil melambaikan tangan kepada rekannya yang sedang menunggu di salah satu sekretariat unit Pramuka. “Mau ke WC Comlabs dulu ya, mau buang air besar”, katanya. “Lha, bukannya barusan dari WC?” Sahut rekannya. “WC Sunken jorok”, tukas Wendi.

WC Sunken Court dengan berbagai cap “jorok”-nya seperti sudah mengakar kuat di benak mahasiswa kampus ITB. Masih ingat kiranya tiga tahun lalu tepatnya akhir tahun 2010, segerombolan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi mahasiswa unit Sunken Court menggalang dana “perbaikan WC Suken”. Kotak provokasi dan propaganda “perbaikan WC” merupakan bentuk kritik mahasiswa terhadap rektorat ITB yang lambat dalam penanganan perbaikan WC Sunken.

Tuntutan perbaikan WC Sunken sebenarnya sudah ada sejak Ridwansyah Yusuf Ahmad menjabat sebagai Presiden KM ITB di tahun 2009. Setelah itu, tiap tahun mahasiswa melalui Kementerian Kesejahteraan Mahasiswa rutin melakukan advokasi perihal perbaikan WC sunken kepada rektorat. Hanya saja baru pada Agustus 2012 tuntutan tersebut dikabulkan. WC Sunken yang “super jorok” disulap menjadi WC yang lebih “layak”.

“Sebagai kampus yang katanya World Class University setidaknya kita telah memiliki WC yang pantas”, kata salah seorang anggota Pramuka ITB. Sindiran tersebut tepat kiranya dilontarkan kepada pihak rektorat selaku penentu kebijakan. Menurut majalah online Berkala ITB, ada empat tahap rencana strategis ITB dalam merealisasikan jargon World Class University. Dalam kurun waktu antara 2010-2015 merupakan tahap kedua pengembangan tersebut. Tahap kedua adalah tahap pengembangan diri ITB menjadi inovator dan inkubator dalam mencapai  kemandirian teknologi bangsa. Teknologi tersebut dibutuhkan untuk mendukung kemajuan berbagai aspek kehidupan berbangsa, untuk mencapai kesejahteraan negara di berbagai bidang.

Sayang seribu sayang, eksistensi ITB sebagai inovator dan inkubator dalam teknologi belum dibarengi dengan keberpihakan kebijakan rektorat dalam hal-hal sepele seperti WC Sunken. Akibatnya celotehan-celotehan “Katanya kampus World Class University, tapi WCnya standar nasioanal pun tidak!!” masih bergaung di telinga kita hingga saat ini.

Menjaga Bersama

“Air susu dibalas dengan air tuba”

Peribahasa di atas mungkin tepat untuk menggambarkan apa yang dilakukan dengan apa yang didapatkan rektorat terhadap WC Sunken. Cerita Wendi di awal tulisan terjadi di pertengahan Oktober 2012 ini. Bayangkan, WC Sunken yang baru direnovasi akhir Agustus kembali tidak berfungsi di pertengahan Oktober. Dua bulan jelas bukan waktu rusak yang ideal bagi bangunan yang direnovasi. Kisah Wendi yang harus jauh-jauh pergi ke Gedung Comlabs untuk menunaikan panggilan alam menambah goresan sejarah cerita panjang WC Sunken.

Tidak berlebihan kiranya jika mahasiswa yang merupakan intelektual muda untuk turut serta diberi beban “menjaga bersama” WC Sunken. Wendi hanya salah seorang contoh mahasiswa kurang beruntung yang mendapati WC sunken rusak kembali, padahal umurnya belum genap tiga bulan. “Kalau rusak saluran airnya tidak apa, tapi rusak karena ulah manusia yang jorok, itu masalah” tegas Wendi. Setelah di cross check, ia mengaku pernah melihat mahasiswa yang tidak menyiram closet setelah buang air besar. “WC Sunken milik kita semua, mari kita jaga bersama” ajak Wendi.***

 

TEGUH WIBOWO

10609015

Ditandai:
Posted in: feature