Waktu pun Menjadi Pemersatu

Posted on Desember 16, 2012

0


Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia;

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia;

Kami poetra dan poetri Indonesia mengjoenjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia

Naskah berejaan lama di atas merupakan teks Sumpah Pemuda dibacakan pada Kongres Pemuda (27 – 28 Oktober 1928). Hari tersebut pun menjadi hari yang bersejarah dalam pergerakan kemerdekaan bangsa kita dari para penjajah. Ya, tanggal 28 Oktober pun diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda, bukti otentik bahwa Bangsa Indonesia telah lahir.

Persatuan dan kesatuan. Itulah tujuan utama dibuatnya naskah tersebut. Indonesia terdiri dari berbagai pulau dan suku bangsa, dengan kebudayaan yang kaya dan beraneka ragam. Variasi yang ada di berbagai daerah biarlah menjadi warna yang tidak membuat kita semua terpisah. Itulah kenapa dinamakan persatuan, karena bukan berarti kita menjadikan semua keranekaragaman menjadi sama (satu), namun kita mengingat akan hal yang mempersatukan kita, yaitu tanah air, bangsa, dan bahasa persatuan.

Di pertengahan tahun ini, suatu isu muncul di tengah masyarakat. Tak hanya di dunia maya artikel dan ulasan bermunculan, tetapi juga percakapan di antara masyarakat. Indonesia akan memiliki satu zona waktu saja (WITA), dan 28 Oktober 2012 dipilih sebagai waktu yang tepat untuk mewujudkannya. Apakah hal ini pun berhubungan dengan salah satu bentuk persatuan kita sebagai bangsa Indonesia?

Indonesia memiliki tiga zona waktu yang berbeda, yaitu WIB (Waktu Indonesia bagian Barat), WITA (Waktu Indonesia bagian Tengah), dan WIT (Waktu Indonesia bagianTimur). Pembagian waktu tersebut menyebabkan terjadinya perbedaan waktu 1 jam di setiap wilayah yang dibatasinya. WITA berjalan lebih cepat 1 jam terhadap WIB dan WIT berjalan 1 jam lebih cepat dibandingkan WITA.

Beberapa fenomena menarik pun terjadi dengan perbedaan zona waktu ini. Misalnya saja pada saat tahun baru. Biasanya stasiun televisi meliput terjadinya perayaan tahun baru di tiga wilayah waktu berbeda. Alhasil, bagian WIT yang merayakan tahun baru pertama kali pun mendapatkan ucapan selamat tahun baru terlebih dahulu dari kedua wilayah waktu lain. Selain itu saat kita berpergian, baik untuk tujuan wisata maupun pekerjaan. Saat kita menaiki pesawat dari Bandung  ke Bali, maka kita akan mengalami pergantian wilayah waktu di mana saat jam 12.00 WIB kita tiba, berarti sudah jam 1 siang WITA.

KP3EI (Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) adalah pelopornya. Melalui Okezone.com, Kadiv Humas dan Promosi KP3EI, Edib Muslim mengatakan dasar pemberlakuan zona satu waktu ini di antaranya adalah efisiensi birokrasi dan peningkatan daya saing ekonomi. Menurutnya, dengan adanya satu waktu ini maka dari 190 juta penduduk yang biasanya melakukan aktivitas bersamaa dalam zona WIB, akan meningkat menjadi 240 juta penduduk. Edib menambahkan, penyatuan waktu dilakukan demi mendorong peningkatan kinerja birokrasi dari Sabang hingga Merauke. Hal ini bertujuan untuk mendorong daya saing bangsa dalam hal sosial-politik, ekonomi, hingga ekologi.

Deputi Menko Perekonomian Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, Lucky Eko Wuryanto pun berpendapat dengan menerapkan satu waktu bagi Indonesia maka semua dapat bergerak bersama.

Berbagai polemik pun bermunculan menanggapi artikel tersebut. Ada yang mempermasalahkan tentang kesehatan, karena perlu penyesuaian waktu bangun, tidur, dan aktivitas keseharian lain. Bayangkan saja berati pada masyarakat di wilayah timur Indonesia yang terbiasa masuk pukul 7 untuk bekerja, nantinya jam 6 pagi waktu setempat mereka harus sudah siap berada di kantornya.

Jadi, mengingat teks sumpah pemuda di atas, haruskah bertambah lagi satu poin? Kami, putra dan putri Indonesia, memakai zona waktu yang satu, zona waktu Indonesia (bagian tengah). Tidakkah lebih baik kita berpikir menjunjung persatuan pada tiga poin lain di teks tersebut, yang belum sepenuhnya terwujud.

Coba kita bayangkan, bukankah dengan adanya perbedaan waktu demikian pun beberapa hal seperti arus lalu lintas dan pemakaian listrik,  menjadi lebih bergilir dan tidak memberi beban yang sama, meskipun dengan perbedaan satu jam?

Memang keputusan mengenai masalah ini dikabarkan diundur di berbagai pemberitaan. Namun, kalaupun terwujud, kita semua harus bersiap menanggung risiko yang ada. Terlepas dari semua ini, selamat menyambut hari Sumpah Pemuda nanti!

Linda Agustina S.

Sains dan Teknologi Farmasi

107 09 053

 

Ditandai:
Posted in: feature