Sekolah, Lahan Parkir, dan SIM

Posted on Desember 16, 2012

0


“Jangan karena siswa tidak dapat parkir lalu telat masuk kelas membuat proses belajar-mengajar tidak kondusif” ujar Isnaeni selaku Humas SMAN 20 Bandung.

Lahan parkir yang tidak cukup kadang meyulap badan jalan menjadi lahan parkir. Beberapa siswa malah membawa kendaraan pribadinya ke sekolah tanpa memiliki Surat Izin Mengemudi. Hal-hal ini mungkin tidak terjadi pada siswa SD  maupun SMP, tetapi terjadi pada siswa SMA. “Tidak boleh mengendarai kendaraan ke sekolah, bila ketahuan akan ditegur” ucap Nanang yang merupakan security di SMPN 2 Bandung. Nanang menjelaskan bahwa untuk siswa SMP belum waktunya untuk mengendarai kendaraan pribadi, mungkin lain halnya dengan siswa SMA.

“Anak sekolahan masih labil dalam membawa kendaraan, itulah alasannya ada batas umur untuk mengajukan pembuatan SIM (Surat Izin Mengemudi-red)” ujar Isnaeni. Isnaeni menjelaskan bahwa seharusnya hanya siswa yang sudah cukup umur yang memiliki SIM, tapi nyatanya ada siswa kelas X yang sudah memiliki SIM. Sekolah sudah memberikan surat edaran kepada orang tua murid agar siswanya mematuhi peraturan-peraturan berlalu-lintas, salah satunya adalah mempunyai SIM (Surat Izin Mengemudi). Tapi sekolah tidak bisa melarang siswa yang sudah mempunyai SIM untuk membawa kendaraannya ke sekolah.

Nabil (14), siswa kelas X, mengaku sudah mempunyai SIM C dan membawa motor ke sekolah setiap harinya. Dia mengemukakan bahwa orang tua mendukung dirinya memiliki SIM, karena lebih repot bila harus diantar-jemput oleh orang tuanya. Reza (15), siswa kelas X, belum memiliki SIM tetapi tetap mebawa motor ke sekolah karena rumahnya yang jauh. Reza mengaku tidak pernah ditanyai pihak sekolah apakah sudah memiliki SIM atau belum. Mereka berdua sepakat bila ongkos yang dikeluarkan lebih mahal daripada naik kendaraan umum.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 1 dan 2 menjelaskan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan diatas, pemerintah menetapkan 8 SNP (Standar Nasional Pendidikan Indonesia) yang salah satunya adalah Standar Sarana dan Prasarana. Di dalam Permendiknas (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional) Nomor 24 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana Sekolah/Madrasah Pendidikan Umum, tidak ada poin tentang sekolah diwajibkan untuk memiliki lahan parkir. Malah ada poin yang mengatakan bahwa tempat bermain/berolahraga tidak digunakan untuk tempat parkir. Hal ini selaras dengan yang dikemukakan oleh Isnaeni. Lahan parkir yang tersedia tidak dikhususkan untuk parkir kendaraan murid. Lahan parkir yang ada dari dulu hanya sebesar itu, dengan bertambahnya murid yang membawa kendaraan pribadi membuat lahan parkir tidak mencukupi dan siswa memarkirkan kendaraannya di badan jalan di depan sekolah.

Meskipun lahan parkir tidak cukup, siswa-siswa tetap membawa kendaraan pribadinya ke sekolah dengan berbagai alasan. Marta dan Tika, siswi kelas XII memilih untuk membawa motornya ke sekolah karena rumahnya cukup jauh dari sekolah, dan bisa mempersingkat lama perjalanan ke sekolah bila menggunakan motor. Pam Pam (17) siswa kelas XII memiliki alasan lebih irit bila menggunakan motor ke sekolah, tetapi yang dihitung adalah selisih ongkos dengan menggunakan kendaraan umum dan bensin yang harus dikeluarkan. Biaya pajak dan service motor yang harus dikeluarkan tiap bulannya adalah urusan orang tuanya. Dyo (15), siswa kelas X, yang setiap harinya diantar-jemput orang tuanya mengaku kadang-kadang membawa mobil ke sekolah karena adiknya sering telat bangun dan dia takut terlambat datang ke sekolah.

Sekolah sudah melakukan apa yang harus dilakukan. Sekolah perlu dukungan dari berbagai pihak termasuk orang tua murid dan pemerintah kota Bandung. Isnaeni berharap permasalahan ini bisa ditanggulangi, karena ujung-ujungnya yang kena dampaknya adalah pengajar.

 

Risqi Berliandie R.

13007041

Teknik Kimia ITB

Ditandai:
Posted in: feature