“Pelukan” Untuk Mereka Yang Autis

Posted on Desember 16, 2012

0


Ketika kita sedang berada dalam kondisi tertekan, sedih, dan cemas tentunya akan sangat menyenangkan jika kita mendapatkan sentuhan fisik seperti pelukan atau remasan dari orang yang kita sayangi. Para ilmuwan juga menjelaskan bahwa pelukan dapat menyebabkan peningkatan kadar hormon oksitosin – hormon yang mempererat (hubungan) – sehingga menurunkan tekanan darah dan mengurangi resiko terkena serangan jantung. Sentuhan fisik yang positif memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan, pelukan yang baik berkomunikasi langsung pada tubuh dan jiwa sehingga membuat orang yang dipeluk merasa disayangi dan istimewa.  Normalnya, tidak ada orang yang tidak suka dipeluk oleh orang terdekatnya.

Namun situasi ini sedikit berbeda bagi penderita autisme. Baik anak-anak maupun orang dewasa penderita autisme justru seringkali merasa tidak nyaman berada dalam pelukan orang lain, walaupun itu orangtuanya sendiri. Hal ini disebabkan karena mereka kurang bisa mengkomunikasikan kebutuhan mereka akan lamanya waktu atau jumlah tekanan. Sehingga pelukan yang diberikan justru memberikan atau menambah rasa frustasi bagi kedua pihak, baik itu yang dipeluk maupun yang memberi pelukan.

Pada tahun 1965, seorang wanita penderita autisme, Temple Grandin, yang saat itu berusia 18 tahun, menciptakan alat yang dia beri nama “kotak pelukan”. Grandin menciptakan alat ini karena dia membutuhkan stimulasi tekanan namun merasa ter-over-stimulasi saat ada orang yang memberikannya pelukan. Kotak pelukan ini memiliki dua sisi papan empuk yang bagian bawahnya terhubung membentuk huruf V. Untuk menggunakannya, seseorang harus berbaring, tengkurap, atau berjongkok diantara dua papan. Dengan menarik tuas, maka kedua sisi papan akan terdorong secara bersamaan untuk menciptakan tekanan. Tuas tersebut juga memungkinkan anak atau orang dewasa penderita autis untuk bisa mengontrol jumlah dan lamanya tekanan.

Berbagai penelitian masih terus dilakukan untuk membuktikan efektivitas dari kotak pelukan ini dan bagaimana sebenarnya penderita autisme bereaksi terhadap tekanan dan bagaimana tekanan yang diberikan oleh benda justru dapat memberikan efek yang menenangkan daripada tekanan yang diberikan oleh orang lain yang memiliki kedekatan secara emosional. Menurut Edelson dkk, Kotak pelukan dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap persepsi sensorik dari para penderita autis yang sering mengalami perilaku yang mengganggu atau menyulitkan. Dengan mendapatkan tekanan, mungkin para penderita autis menyalurkan perhatiannya ke satu perasaan, yaitu tekanan, sehingga teralihkan dari berbagai pikiran atau rangsangan lain yang dirasa mengganggu. Bagi sebagian besar penderita autis, rasa cemas dapat benar-benar membuat mereka merasa tidak berdaya, frustasi, dan sangat sulit untuk menunjukkan perilaku sosial yang tepat, sehingga tekanan menjadi salah satu dari sedikit pilihan untuk membuat mereka merasa tenang. Sampai saat ini, kotak pelukan telah digunakan dalam berbagai program penelitian dan terapi untuk para penderita autisme dan telah banyak membantu para penderita autisme untuk menghadapi dunia.

Temple Grandin saat ini telah menjadi profesor di Colorado State University bidang animal science, penulis bestseller, dan konsultan industri peternakan tentang perilaku hewan. Nama Temple Grandin juga terdaftar sebagai 100 orang paling berpengaruh dalam kategori “heroes” versi majalah TIME 2010. Dia tetap menggunakan kotak pelukan hingga rusak pada tahun 2010 dan dia tidak berencana untuk memperbaikinya karena sekarang dia sudah lebih bisa untuk menerima pelukan dari orang lain.

 

Silvia Rachmy_10608032

 

Sumber:

http://www.time.com/time/specials/packages/article/0,28804,1984685_1984949_1985222,00.html

 

Edelson, Stephen M; Edelson, M.G; Kerr, David C.R; Grandin, Temple. Phsyological Effects of Deep Presure on  Children with Autism: A Pilot Study Evaluating the Efficacy of Grandin’s Hug Machine. American Journal of Occupational Therapy, 53: 145-152

 

 

Ditandai:
Posted in: peristiwa