Mengapa Harus Bahagia?

Posted on Desember 16, 2012

0


Pencarian kebahagiaan adalah salah satu sumber utama ketidakbahagiaan”- Eric Hoffer

Ada banyak cara yang dapat dilakukan  meraih kebahagiaan. Bahagia, memang tidak untuk dicari dan ditemukan, tapi mungkin dapat ditemukan dalam bentuk yang tak berwujud tapi nyata. Mencari kebahagiaan, ibarat mencari gula dalam secangkir teh. Melebur menjadi ada tapi tak terlihat oleh mata, terasa tapi tiada.

Meski sudah tahu jawaban yang tidak memuaskan atas pencariannya, seorang wartawan Amerika, Eric Weinner  tetap melakukan pencarian negara paling membahagiakan di dunia. Ia berkeliling dunia, singgah dari suatu negara ke negara lain. Perjalanannya tersebut ia rangkum dalam sebuah buku. Dalam bukunya berjudul The Geography of Bliss ia ingin menuntaskan rasa ingin tahunya , negara yang seperti apa yang membuat penduduknya bahagia? Apakah negara yang kaya dan bebas pajak, penduduknya bahagia? Atau negara tanpa aturan? Atau justru negara yang miskin dan sengsara, penduduknya bahagia karena adanya kesedihan menciptakan pengertian lebih sacral terhadap kebahagiaan?

Dalam suatu seminar, Sujiwo Tedjo seminarnya pernah berkata bahwa bahagia adalah ketika seseorang mengetahui potensinya dan mampu untuk mengembangkannya. Dan menurutnya, bahagia tidak sama dengan senang. Senang dikatakan luapan emosi suka cita sesaat, sedangkan bahagia pengertiannya lebih dalam, lebih masuk dan menghayati esensi seseorang untuk dapat berbuat dalam hidup. Hal tersebut juga yang mendasari Eric menaruh kata Bliss, bukan Happy. Happy menurut arti katanya adalah senang, misalkan untuk mengungkapkan perasaan seseorang setelah menerima hadiah atau semacam traktiran.

Apakah bahagia ada kaitannya dengan kehidupan yang sejahtera seperti kutipan dari Bung Hatta berikut, “Isi daripada Indonesia Merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur ialah bahagia, sejahtera, damai, dan merdeka bagi rakyat Indonesia, keluar dan ke dalam”.

Saya kira, jika Eric berkunjung ke Indonesia untuk survey kebahagiaan, ia tidak akan menempatkannya di jajaran atas. Jalanan macet, tatakota berantakan, dan orang-orang yang melanggar aturan, rasanya cukup alasan untuk itu. Tapi, sebagai penduduk Indonesia, kita masih bertahan, kita masih betah di negeri ini, dan kita menikmati. Jakarta, yang konon kota paling dihindari oleh sejumlah orang, meski kumuh dan sering banjir, tidak lantas membuatnya kehilangan banyak penduduk. Mereka yang tinggal di Jakarta justru menikmati kehidupannya, entah sengsara atau suka cita.

Kehidupan, bagaimanapun didambakan orang untuk, setidaknya, bahagia. Dan tiap orang tidak bisa memilih di mana ia dilahirkan. Kadang bila kesedihan datang, ia dicacimaki, padahal tanpa kesedihan orang tak akan mengenal kebahagiaan, begitulah teori yang sering disebut-sebut. Itulah mengapa jutaan penduduk Indonesia memilih tinggal di negeri ini, karena mereka tahu akan ada saat bahagia ketika saat duka telah terlewati.

Kita kembali ke buku The Geography of Bliss, cacatan perjalanan Eric. Negeri pertama yang dikunjunginya adalah Belanda. Kita tahu prostitusi, ganja, dan semcamnya ‘dihalalkan’ di negara ini. Berita ini cukup mengejutkan orang-orang yang tinggal di negeri yang banyak aturan, misalnya saja Indonesia. Tidak heran jika suatu kedai kopi di Belanda menjual beraneka macam marijuana dari yang berat atau yang ringan. Tapi di akhir kunjungannya di negeri kincir angin tersebut, Eric menulis kalimat yang sesungguhnya begitu adanya

“Saya terlalu lemah. Seandainya saya pindah ke Belanda, mungkin beberapa bulan kemudian Anda akan mendapati saya ditelan asap ganja Maroko sambil merangkul seorang pelacur di lengan kiri dan kanan”.

Di sisi lain, berangkulan meski tak berkaitan, Ninuk Mardiana Pambudy, wakil pemimpin redaksi Kompas dalam makalahnya mengatakan bahwa, penduduk Indonesia bahagia bila memenuhi indicator berikut. Pertama, pembangunan manusia yang dapat dikatakan memperpanjang harapan hidup, lalu pendidikan yang memadai, dan meningkatkan kualitas di berbagai sektor. Kemiskinan dan kerja juga ia hadirkan sebagai sosok yang  perlu dibenahi untuk “membawa kesejahteraan yang adil dan merata dan membahagiakan rakyat Indonesia….”

Dari kesemua contoh yang saya uraikan di atas. Ibarat varietas, sangat banyak. Dan dalam kasus ini kebahagiaan bersinggungan dengan banyak aspek, salah satunya kebebasan (yang tidak begitu bebas), kesejahteraan, kematangan jiwa dan sebagainya.

Sebagian dari Anda mungkin juga tidak dapat menyimpulkan apa-apa dari wacana di atas. Tapi dari kesekian pemahaman tentang kebahagiaan yang ada saya lebih setuju dengan Sujiwo Tedjo, bahwa kebahagiaan adalah menemukan potensi, menemukan diri sendir, yang mungkin sekarang sedang berperan sebagai sosok yang kita kagumi, misalnya. Menemukan diri dengan segera sebelum ‘kita’ terlanjur menyukai peran yang kita mainkan.

Apakah setelah menemukan diri sendiri, lantas kebahagiaan itu bisa memudar? Saya rasa bisa, jika kita berhenti berusaha dan cukup bahagia dengan membahagiakan diri sendiri, tanpa melakukan apa-apa.

Menemukan kebahagiaan, lebih pas daripada mencari kebahagiaan. Ibarat mencari gula dalam secangkir teh manis. Sepanjang minum kita akan terus bertanya-tanya “Dimana gula, dimana bahagia?” Dan hingga gelas kosong kita tak menemukan apa-apa dan tak bisa menikmati manis dan bahagia.***

Pipit Uky Vivitasari

Ditandai:
Posted in: peristiwa