Menang Bukan untuk Menang

Posted on Desember 16, 2012

0


Pada tahun 2005, dalam sebuah pidato pelepasan sarjana Stanford, Steve Jobs mengungkapkan pandangannya terhadap masa lalu, kini, dan masa mendatang dalam kalimat “Connecting the Dots”. Segala perbuatan kita di masa lalu – baik disengaja maupun tidak – akan mempengaruhi kehidupan kita yang akan datang. Kalimat tersebut mungkin cukup menerangkan kisah kemenangan “Tim 28” dalam acara Hack-a-thon lalu. Segala pengalaman pahit kekalahan dalam mengikuti perlombaan di masa lampau tidak menyurutkan semangat; kini mereka memetik buah manis di atas bibit kekecewaan yang mereka pendam dari jauh hari.

Jatuh dan jatuh lagi

Kesuksesan ini tidak membuat Tim 28 lupa daratan. Sambil menunggu waktu kuliah, Sam, salah satu anggota Tim 28 yang masih berstatus mahasiswa semester tujuh Teknik Informatika ITB, menceritakan lika-liku jejak perjalanan mereka menuju podium juara Hack-a-thon se-Asia di Bandung pada tanggal 13-14 Oktober lalu.

Pengalaman perlombaan pertama Sam adalah ketika mengikuti pengembangan permainan dalam Imagine Cup 2012 yang diselenggarakan oleh Microsoft. Dalam kompetisi bergengsi tersebut, Sam dan Unggul (anggota Tim 28 lainnya) mempersiapkan segalanya dengan matang: mulai dari pengonsepan nilai-nilai dalam permainan, perancangan user experience dan gameplay, hingga pengerjaan yang intensif. Bahkan dalam tahap pengerjaan, Sam sempat absen dari kuliah selama beberapa hari demi menyelesaikan proyek mereka sebelum deadline. Namun apa daya, prototipe yang mereka kirimkan untuk dinilai dewan juri ternyata tidak termasuk dalam daftar finalis.

“Jujur, pengalaman kalah saat Imagine Cup sempat menimbulkan kekecewaan mendalam bagi kami,” kata Sam, menyunggingkan senyum yang dikulum. “Semenjak saat itu kami lebih memfokuskan diri untuk mengikuti perlombaan dalam skala yang lebih kecil – supaya bisa mengumpulkan pengalaman dan keterampilan yang lebih mumpuni.”

Pada titik ini jejak Sam menuju Hack-a-thon mulai terbentuk. Hack-a-thon memang sesuai dengan karakteristik lomba yang diharapkan oleh Sam. Durasi pendek namun intensif – setiap tim ditantang untuk membangun aplikasi dari nol dalam waktu 24 jam. Selain kerjuaraan utama, setiap tim bisa mencoba memenangkan beberapa challenge yang diberikan oleh pihak penyelenggara. Misalnya pembangunan aplikasi yang mengutamakan aspek interaksi, aplikasi terbaik dalam mengusung tema ‘anti-piracy’, atau aplikasi terbaik untuk aliran social-game. Oleh karena itu setiap tim dituntut untuk lebih inovatif dan kreatif dalam mengembangkan aplikasi.

“Keikutsertaan kami bukan kebetulan, kami sudah pernah mengikuti Hack-a-thon sebelumnya di Jakarta pada bulan Juli lalu.” Pada awalnya, Sam bahkan mengakui bahwa dirinya sama sekali tidak tahu-menahu tentang acara Hack-a-thon. Bulan Juli lalu, ketika menjalani praktek kerja nyata bersama Unggul di sebuah start-up Jakarta, mereka diajak oleh CEO mereka untuk bergabung dalam timnya untuk mengikuti Hack-a-thon. Meskipun tim mereka gagal menyabet posisi juara maupun menuntaskan challenge, rupanya pengalaman tersebut menjadi batu loncatan Sam dan Unggul untuk mengikuti Hack-a-thon berikutnya.

“Meskipun konsepnya bagus, tapi aplikasi serupa sudah cukup banyak di pasaran,” ujar Sam tenang, menganalisis penyebab kekalahan mereka saat itu. “Padahal kalau dari segi kemampuan, tim kami sudah di atas rata-rata.”

Menang tanpa ambisi

Tidak puas dengan kekalahan mereka, Sam merasa tertantang ketika mendengar kabar bahwa Hack-a-thon berikutnya diadakan di Bandung. Dia segera membentuk tim dan mendaftarkan diri. Kali ini Sam membentuk timnya dengan komposisi peran yang lebih terstruktur – Dodo sebagai desainer, kemudian Edwin sebagai manajer tim. “Setiap orang memiliki keahliannya sendiri-sendiri. Namun perbedaan keahlian tersebut justru membuat tim menjadi lebih kompak dan sinergis dalam eksekusi.”

Dalam Hack-a-thon ini, tim mereka terdaftar sebagai “Tim 28”. Pada waktu perlombaan, serentetan kejadian tidak menguntungkan sempat menghambat kerja mereka. Koneksi internet di area perlombaan cukup lambat, dan ketersediaan listrik di meja kerja mereka sering terputus. Namun Tim 28 tidak gentar, mereka berinisiatif meminta izin kepada pihak panitia untuk mengerjakan lomba di kosan Edwin. Namun masalah tidak berhenti sampai di situ. Ketika persoalan sebelumnya teratasi, malam itu mereka harus berkutat menghadapi kantuk.

“Aku sempat tertidur setengah jam. Yang lain tidur terputus-putus hahaha,” papar Sam cerah ketika mengingat usaha mereka. “Paginya kami berangkat lebih awal satu jam untuk menghindari kemacetan akibat Car Free Day.”

Menjelang siang Tim 28 melakukan presentasi kepada pihak-pihak penyelenggara. Meskipun Sam mengaku bahwa presentasi mereka tidak terlalu lancar, nyatanya dewan juri menganggap Startup Story (permainan yang mereka buat) layak untuk memengangkan posisi runner-up dalam Hack-a-thon Bandung. “Ketika sadar bahwa kami sudah gagal memenangkan challenge, rupanya kami malah memenangkan kejuaraan utama. Benar-benar di luar ekspektasi kami.”

Setelah berhasil memetik kemenangan, kini Sam merasa lebih percaya diri untuk terus mengembangkan karyanya. “Kami berencana merampungkan permainan Startup Story. Doakan saja semoga usaha kami lancar, dan semoga Startup Story disambut dengan positif,” ujar Sam tenang. Mungkin saja Startup Story akan berhasil. Siapa yang tahu, yang pasti Sam selalu tenang dan tidak berharap tinggi; namun dia menjalankan semuanya dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkannya.***

 

Akhiles L. Danny Sindra

135 09 063 – Teknik Informatika ITB

Ditandai:
Posted in: feature