Lahan Parkir yang Mulai Kehilangan Rohnya

Posted on Desember 16, 2012

0


Tulisan hitam diatas putih “DILARANG PARKIR DISINI” terpampang jelas sebagai kalimat perintah rambu rambu peringatan yang dibuat satpam ITB agar tidak memarkirkan kendaraan di tempat tersebut. Tulisan itu bahkan tidak digubris dan hanya sebagai angin lalu oleh pemilik kendaraan yang “sengaja” memarkirkan kendaraannya. Susunan parkir kendaraan bermotor pun kelihatan tidak rapi, tak terlihat petugas parkir yang bertanggung jawab melihat keadaan tersebut. Apakah kampus ITB mulai kekurangan lahan parkir sehingga lahan yang dilarang pun “terpaksa” dijadikan lahan parkir bagi para mahasiswa yang “kebingungan” mencari lahan parkir yang kosong. Padahal kampus ITB punya 3 lahan parkir yang disediakan untuk parkir mahasiswanya, yaitu Parkir Sipil, Parkir Gerbang Belakang, dan Parkir Seni Rupa yang kapasitasnya pun cukup besar untuk lahan parkir umum.

Lahan parkir kita mulai kehilangan roh untuk saling menghargai kendaraan yang diparkir satu sama lain, semuanya asal parkir, tidak peduli kendaraan yang berada di kanan dan kiri, tak peduli kendaraan mana yang datang duluan, setiap ada celah, geser kanan, geser kiri, parkirkan kendaraan seadanya, yang penting masuk, semuanya pengen jadi bos, tak ada yang mau mengalah, apalagi membetulkan posisi parkir kendaraan orang lain. Lahan parkir ini hanya menjadi saksi bisu keberhasilan mahasiswa yang datang dan pergi menitipkan sepeda motor untuk menuntut ilmu. Seorang mahasiswa yang melakukan tugas mulia untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.  Dulu lahan parkir ini sangat sepi,sepi sekali, sekarang lahan parkir ini sudah tidak muat lagi menampung semua kendaraan para mahasiswa yang datang dan pergi. Bahkan ia  tidak tega menolak kendaraan yang menunggu antri diluar.

Ketika kita kita kehilangan rohnya, mungkin kita juga kehilangan penjaga rohnya si baju orange. Siapa yang tidak kenal baju berwarna orange dengan peluit merdu bernadakan , “Yak Kanan Bos, kiri dikit, Stop Bos.” Suara itu pun sudah tidak asing lagi kita dengar di setiap pagi ketika kita memarkirkan sepeda motor untuk kuliah, suara itupun juga dapat kita dengar ketika kita membeli makan di warung pecel lele Simpang Dago, Bandung.

Baju berwarna orange itu adalah pakaian dinas kebanggan sebagai tukang parkir. Ditemani dengan tas mini di depan perut untuk kantong uang, tukang parkir pun siap siaga menjaga keamanan kendaraan kita. Sudah jarang pakaian identitas itu kita temui sekarang  di kota kota besar, mayoritas sekarang parkir sudah menggunakan sistem SIS. Parkir sekarang sudah modern, parkir tradisional sudah tidak jaman dengan keadaan sekarang. Sekarang sudah jamannya tehknologi. Tinggal pencet tombol, maka keluar secarik kertas sebagai bukti masuknya kendaraan yang parkir.

Sistem parkir pun sudah berubah. Seiring dengan kemajuan zaman, sistem parkir yang berbasiskan manusia diganti dengan kecanggihan tehknologi. Sekarang parkir sudah tak pandang bulu, tak ada yang namanya parkir gratis. Mesin tidak peduli pengendara memiliki uang atau tidak, mau tua, mau miskin, pelajar atau para dosen pun dilayani tanpa pandang bulu. Peraturannya ketika tombol tiket ditekan, maka pengendara yang parkir pun minimal harus membayar Rp 1.000,00 untuk sepeda motor dan Rp 2.000,00 untuk mobil walaupun cuma 5 menit saja parkirmya.

Parkir pun semakin mahal, harganya sekarang dipatok setiap kendaraan dihitung per jam. Dulu parkir kendaraan pun bebas, dimanapun parkir sepeda motor ya Rp 1000,00. Mau setengah hari, 24 jam, bahkan kendaraan sampai menginap 2 hari 2 malam  pun biayanya sama, cuma Rp 1000,00. Sekarang parkir punya tarif sendiri – sendiri di setiap tempat, tempat parkir yang satu dengan yang lainnya bisa saja harganya berbeda beda tergantung tingkat keramaiannya. Setiap mall beda tarif parkirnya, tidak ada keseragaman parkir yang dibuat standarisasi untuk setiap daerah. Kadang kadang parkir pun dikuasai sekelompok orang untuk kepentingan tertentu.  Bahkan harganya bisa berkali kali lipat dari harga normal, seperti yang terjadi ketika PRJ ( Pekan Raya Jakarta ), untuk mobil bisa mencapai Rp 15.000,00 dan sepeda motor mencapai Rp 8.000,00 sesuai dikutip panitia event Jakarta Fair 2012.

Lahan parkir pun mulai membisu, tak protes, dan pasrah mendapati lahannya berantakan ditempati motor yang parkir asal – asalan karena sempitnya lahan parkir. Lahan parkir mulai kehilangan ruhnya yang mulai sempit karena banyaknya kendaraan yang tidak diimbangi dengan pertambahan luasnya lahan parkir. Kendaraan sepeda motor pun juga pasrah ditinggal pemiliknya yang buru buru meninggalkannya. Ia hanya menunggu petugas parkir yang entah kapan datangnya untuk membenahi posisinya.

Parkir adalah suatu fasilitas masyarakat yang mungkin dianggap remeh tapi tanpa disadari manfaatnya sangat besar bagi masyarakat. Dapatkah anda membayangkan bahwa ketika kita memiliki kendaraan tetapi tidak ada lahan parkirnya ? Apa yang akan terjadi ? Macet ? Kendaraan mobilisasi tiap waktu ? Tidak ada tempat “peristirahatan” sementara kendaraan yang bisa kita gunakan apabila kita ingin menempuh tempat yang kita tuju dengan berjalan kaki. Lahan parkir jangan terus diadakan, bahkan ditambah luasnya, itu hanya menambah fasilitas bagi kendaraan untuk bertambah juga jumlahnya. Sudah saatnya kita sebagai mahasiswa, sebagai agen perubahan masyarakat menyadari untuk mengurangi penggunaan jumlah kendaraan yang jaraknya relatif dekat. Memberdayakan transportasi umum yang layak, melakukan kampanye tentang lahan parkir yang mulai menipis. Melakukan sosialisasi peduli lingkungan. Banyak yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan lahan parkir kita. Mulai dari diri kita sendiri dan saat ini yuk kita berdayakan untuk mengurangi kendaraan bermotor ke kampus. ***

 

Arif Pandu Winarta (10209009 

Ditandai:
Posted in: lingkungan