‘Buang Air’ di Bandung

Posted on Desember 16, 2012

0


Sudah seminggu berlalu sejak bencana tanah longsor dan banjir melanda kawasan Bandung Selatan. Dayeuh Kolot, Banjaran, dan Soreang merupakan kawasan yang terkena dampak dari bencana ini. Seminggu terakhir, curah hujan di kota Bandung dan sekitarnya memang tergolong tinggi. Data dari BMKG untuk bulan November 2012 menyebutkan bahwa prakiraan curah hujan berada pada level menengah (201-300 mm) hingga tinggi (301-400 mm). Data ini tentunya didukung oleh realitas yang terjadi di lapangan. Tanah sunda yang dikenal dengan istilah lemah cai – yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘tanah air, dekat dengan air’, seolah mendapat teguran dari Yang Maha Kuasa. Local genius masyarakat setempat seperti tidak mampu lagi menjalin kehidupan yang akur bersama alam. Pertanyaan yang muncul adalah apakah hujan ‘marah’ sehingga murka turun ke bumi parahyangan? Atau ini hanyalah sebuah fenomena biasa yang dilakukan alam untuk selalu mencapai titik kestabilannya? Prinsip yang dipegang adalah fenomena/musibah yang terjadi tidak terlepas dari peran air yang ada di bumi ini.

Air merupakan molekul yang mengisi sekitar 72% permukaan bumi, sisanya adalah daratan. Totalnya volume air di bumi mencapai 1,385 miliar triliun liter. Dari total tersebut, 97,5%proporsinyaadalah air asin yang bersumber dari samudera (lautan). Hanya ada 2,5% volume air tawar di bumi ini – yang sebagian besar berwujud es. Jumlah air yang berlimpah ini pada akhirnya menjadikan air sebagai salah satu potensi yang dapat mendukung kelangsungan hidup manusia, hewan, dan tumbuhan. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, potensi air kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan tenaga listrik, supply air baku industri dan rumah tangga, serta irigasi pertanian dan pelayaran. Indonesia sendiri merupakan negara yang memiliki potensi air sangat besar, mencapai angka 3,8 triliun m3 per tahun. Namun, hal yang disayangkan adalah persentase pemanfaatan potensi air masih tergolong kecil, terutama di Indonesia.

Di dalam perjalanannya mengisi ruang di dalam dan permukaan bumi, air mengalami suatu siklus yang dikenal dengan sebutan siklus hidrologi. Proses alamiah inilah yang berperan dalam menjaga kestabilan jumlah air di dunia. Hujan yang terjadi sehari-hari merupakan bagian dari siklus hidrologi. Hujan turun ke bumi mengisi ruang-ruang di dalam dan permukaan tanah untuk kemudian ‘menguap’ kembali ke angkasa, membentuk awan, terbawa angin, dan jatuh kembali sebagai hujan.

Air Tidak (Pernah) Marah

Meningkatnya curah hujan disinyalir menjadi faktor yang menyebabkan terjadinya banjir dan longsor. Secara teori, banjir terjadi karena ketidakmampuan medium penempatan air untuk mengakomodasi alirannya. Sebutlah banjir di kota dan/atau kabupaten Bandung, terjadi karena kanal-kanal, sungai, ataupun saluran drainase (selokan) tidak mampu lagi menampung debit aliran air. Air hanya melaksanakan kodratnya sebagai ‘benda’ yang diberi sifat untuk selalu mengisi ruang-ruang (medium) penempatannya. Wajar apabila sungai tidak lagi mampu menampung sejumlah volume air yang dialirinya akan mengalami kelebihan muatan – meluber ke tepian, mengisi ruang kosong yang tersedia. Itulah sifat air yang perlu dipahami. Namun, permasalahan sesungguhnya terjadi akibat adanya pihak yang tidak bijak dalam bersikap terhadap air. Tentunya manusia harus legawa untuk disalahkan dalam hal ini. Disalahkan karena tidak mampu bersahabat dengan air.Contoh yang paling dekat adalah sungai Citarum. Sungai yang menjadi salah satu sumber air di Jawa Barat ini kondisinya semakin buruk setiap harinnya. Pencemaran dan pendangkalan menjadi masalah yang seolah ‘diizinkan’ untuk terjadi. Hanya berjarak beberapa ratus meter dari hulu, Citarum sudah tercemar oleh limbah ternak dan industri tahu. Lebih jauh lagi ke pusat peradaban, sungai ini semakin kotor akibat limbah rumah tangga, industri, dan lainnya. Kondisi inilah yang mengakibatkan Citarum tidak hanya mengalami penurunan kualitas air, tapi juga mengalami pendangkalan akibat proses sedimentasi yang terus terjadi. Padahal, Citarum merupakan salah satu tulang punggung yang menopang kehidupan masyarakat Jawa Barat, mulai dari pembangkit listrik, air baku industri dan rumah tangga, hingga pertanian. Bagaimana mungkin manusia dengan akal sehatnya dapat melakukan kezaliman seperti ini. Nah, apakah air masih akan disalahkan atas semua musibah yang terjadi – sementara air hanya menjalankan fitrahnya.

Lain banjir, lain pula dengan tanah longsor. Satu-satunya kesamaan atas keduanya adalah adanya peran air dalam proses kejadiannya. Longsor terjadi akibat hilangnya stabilitas yang dimiliki oleh tanah, terutama di bagian lereng. Air tanah yang mengalir pada dasarnya mampu mengurangi daya lekat (kohesifitas) antarpartikel tanah. Lazimnya, tumbuhan menjadi salah satu faktor yang membantu tanah dalam ‘mengontrol’ aliran air. Akan tetapi, lagi-lagi ketidakidealan terjadi akibat ulah manusia. Hutan-hutan di lereng gunung telah diubah menjadi perkebunan sayur dan tanaman perdu. Akar dari sayur-sayuran seperti kentang dan wortel tentu saja tidak mampu menggantikan peran akar pohon yang kuat dalam menahan laju aliran air tanah dan air permukaan. Sekali lagi, air hanya menjalankan tugasnya.

Sebagai penutup dari tulisan, pertanyaan diawal hendaknya dijawab melalui tindakan nyata dalam kehidupan. Bencana yang telah terjadi perlu untuk disikapi secara ikhlas dan cerdas. Solusi teknis seperti perbaikan saluran drainase, kanal, atau pun sungai merupakan hal yang lebih mudah untuk diterapkan. Akan tetapi, gaya hidup masyarakat untuk bisa bijak dalam menjalin kehidupan bersama alam akan menjadi cerita lain. Air merupakan anugrah yang diberikan Tuhan untuk menyejahterakan kehidupan manusia dan alam – bukan untuk dirusak dan ditelantarkan. ***

Hari Triwibowo

Referensi :

http://www.bmkg.go.id

http://www.theglobejournal.com

Natinal Geographic – Edisi November 2010

Ditandai:
Posted in: lingkungan