Apa Jadinya Kalau Even Sebesar Career Day ITB Tanpa Listrik dan Internet?

Posted on Desember 16, 2012

0


Sabtu, 13 Oktober 2012, di siang yang terik ketika kampus ITB sedang sibuk menyelenggarakan acara yang terkenal dengan sebutan job fair, tiba-tiba listrik padam. Tentu saja panitia menjadi orang yang paling was-was pada saat itu. Ribuan pengunjung sempat beberapa saat tidak dapat terlayani, dan puluhan perusahaan yang menjadi peserta job fair pun tak berkutik tak bisa menampilkan multimedia yang serba disokong energi dari listrik. Namun dengan sigap dan berfikir jernih akhirnya panitia bisa segera menyelesaikan masalah tersebut. Namun, panitia pun menyadari bahwa kejadian tersebut di luar perkiraan dan kuasa mereka. Oleh sebab itu, kejadian tersebut bisa diterima oleh panitia dan harapannya bisa dimaklumi oleh semua pihak. Begitu kira-kira narasi yang bisa menggambarkan kejadian mati lampu di Titian Karir Terpadu ITB 2012.

Titian Karir terpadu ITB 2012, atau yang juga bisa disebut dengan ITB Integrated Career Days 2012 merupakan acara yang diselenggarakan dua kali dalam tiap tahunnya. Acara yang tiap evennya menyedot ribuan pengunjung tersebut diselenggarakan oleh ITB Career Center yang berada di bawah naungan Lembaga Kemahasiswaan ITB. Pada bulan Oktober 2012 kali ini event tersebut digelar di gedung Sasana Budaya Ganesha ITB tiga hari berturut-turut dari Jumat sampai dengan Minggu, 12-14 Oktober. Tiap penyelenggaraannya Career Day ITB selalu mendatangkan puluhan perusahaan besar nasional maupun internasional, termasuk pada gelaran kali ini, sebanyak 76 perusahaan ikut berpartisipasi. Perusahaan besar seperti Pertamina, Astra International, Exxonmobil, dan Telkom Indonesia menempati sponsor papan atas. “Fokus kita pada acara ini adalah pada Pelayanan untuk perusahaan mitra ITB, sehingga bekerjalah dengan hati untuk melayani mereka”, begitu yang disampaikan oleh Agung Setia Budi, selaku direktur ITB Career Center yang juga dosen ITB itu kepada panitia pada hari H.

Besarnya acara tersebut tentu saja membutuhkan energy listrik yang besar pula. Peralatan multimedia yang serba canggih milik perusahaan untuk menampilkan profilnya menuntut pasokan listrik yang cukup besar. Contohnya saja Pertamina yang memiliki boot 10 x 5 meter ini membutuhkan sepuluh ribu watt untuk penampilan mereka. Itu baru satu perusahaan, belum tujuh puluhan perusahaan lainnya yang hamper semua memakai fasilitas layar datar lebih dari 30 inci.

Selain kebutuhan listrik internet juga menjadi kebutuhan yang tak terbantahkan. Banyak perusahaan yang memakai  media online untuk melakukan recruitment. Selain itu tiket pengunjung untuk masuk ke acara tersebut juga menggunakan system online pula. Sehingga dengan system e-ticketing tersebut database pengunjung akan diakumulasi ke dalam server ITB Career Center dengan sangat cepat. Jadi pengunjung tinggal memasukkan identitas mereka, kemudian mereka mencetak tiket dan secara otomatis data mereka akan masuk ke dalam database, kemudian tiket tersebut bisa diaktifkan oleh petugas secara online pula setelah membayar Rp 20.000,-. Baru seteah itu tiket bisa dipakai untuk masuk ke dalam Sabuga.

Namun sungguh di luar dugaan, pada pukul 10.30 pagi tiba-tiba listrik padam. “Kami sungguh tak menyangka, tiba-tiba saja laptop yang kami gunakan untuk aktivasi tiket tidak bisa “connect” internet. kami kira itu hanya masalah jaringan saja yang tiba-tiba mati, namun ternyata ketika kami memanggil Zagalo (penanggungjawab IT) ternyata masalah bukan pada internetnya tapi pada aliran listriknya yang padam”, papar salah seorang petugas aktivasi tiket.

Akibat padamnya listrik tersebut sempat perusahaan-perusahaan tidak bisa berkutik. Dan AC pun mati, sehingga terbayang bagaimana panasnya ruang utama Sabuga (Sasana Budaya Ganesha) di siang bolong. Namun dengan segera panitia menambah genset sehingga multimedia bisa segera menyala lagi dan AC pun kembali menyegarkan balairung utama Sabuga.

Namun masalah yang tidak bisa terselesaikan adalah masalah internet. Masalah tersebut paling dirasakan oleh bagian cetak tiket dan aktivasi tiket. Untuk mencetak tiket sebuah computer dan printer harus tersambung dengan internet yang menghubungkan dengan Server ITB Career Center yang berada di kampus ITB GKU Timur. Demikian pula untuk aktivasi tiket, harus masuk ke website ITB Career Center pula. Sehingga dengan terpaksa tiket masuk dibuat dengan cara manual. Cukup dengan secarik kertas yang dibubuhi identitas pengunjung kemudian distempel “tiket aktiv” seorang pengunjung sudah bisa masuk ke dalam sabuga. Padahal seharusnya selain distempel juga harus diaktivasi secara online kemudia dipindai dengan barcode reader di pintu masuk. Mungkin agak cocok kata-kata Arbi (salah seorang panitia) dalam tweet nya “bagaimana ketiadaan sumber energi bernama “listrik” itu bisa mengacaukan segalanya. Lebay, sih”.

Ternyata setelah diselidiki yang menyebabkan listrik ITB mati adalah pusat gardu listrik ITB yang berada di gedung PAU meledak. Imbasnya ternyata bukan hanya dirasakan oleh gedung Sabuga saja. Tetapi juga seluruh ITB bahkan sampai rektorat ITB yang berada di Jl. Tamansari. Akibatnya aktivitas kampus pun mati. Aktivitas laboratorium yang biasanya adialiri listrik terus menerus harus berhenti dan terpaksa diulang dari awal. Penyebab meledaknya gardu listrik pun belum diketahui.

“Permasalahan jaringan internet ini cukup  kompleks. Semua koneksi internet di Career day ini terhubung dengan server ITB Career center yang berada di GKU Timur, server di sana cukup besar, sehingga kalau mau ditambah genset pun akan makan biaya cukup tinggi, itu pun belum menyelesaikan masalah, karena untuk menghubungkan sabuga dengan GKU timur harus melalui server di gedung PAU dan gedung Labtek VIII ITB sehingga panitia cenderung “menerima” matinya internet tersebut”, beitu jawaban Hendrik, salah satu anggota ARC (Amateur Radio Club) yang menjadi tim ITB Career Day ketika ditanya mengapa listriknya sudah menyala tetapi internetnya belum bisa menyala.

Tentu saja kejadian tersebut menuai banyak komplain. Baik dari perusahaan maupun pengunjung. Banyak perusahaan yang sempat ingin menutup boot lebih awal karena panasnya suhu udara pada saat itu tanpa AC.Komplain mereka tentang padamnya listrik juga terlihat dari kuesioner kesan dan pesan yang dibagikan kepada perusahaan peserta Job Fair. Penunjung Job fair juga mengeluhkan hal yang sama atas ketidaknyamanannya. Hal yang menunjukkan ada hal yang penting yang membuat ITB Career Center belum bisa memuaskan peserta maupun Pengunjung ITB Integrated Career Days 2012 kali ini. Sebelum akhirnya listrik kembali menyala pukul lima sore tepat ketika Career Day ditutup untuk hari itu.

Namun pada keseokan harinya , yaitu hari Mingu 14 Oktober 2012, pelaksanaan Career Days berjalan dengan lancer. Listrik dan Internet pun sudah tersambung kembali dengan baik.

Entah siapa yang salah, PLN atau ITB, atau pihak manapun. Yang banyak pihak yang dirugikan karena kejadian tersebut. Termasuk nama baik ITB sendiri. Pengunjung Career Days yang bukan hanya berasal dari Bandung tetapi juga dari luar kota bahkan dari luar Pulau Jawa bisa melihat bagaimana ketika ITB yang disebut-sebut menuju Word Class University “mati lampu” ketika mengadakan Career Days. Banyak yan bilang, “Untung PLN tidak membuka Boot di Job Fair kali ini, kalau ada mungkin mereka akan mendapatkan complain secara langsung dari para pengunjung yang merasakan ketidaknyamanan akibat tidak adanya listrik. Biar bagaimanapun PLN sebagai satu-satunya perusahaan milik negara yang memasok listrik di Indonesia ikut bertanggungjawab atas insiden tersebut. Tetapi biar bagaimanapun insiden bisa saja terjadi tanpa diduga-duga. Tidak ada yang menginginkan terjadinya insiden. Tindakan antisipasi yang dilakukan panitia sudah cukup bijak. Namun perlu dijadikan pembelajaran bahwa perlu dilakukan tindakan preventif untuk menanggulangi kejadian-kejadian serupa.***

 

Azka Muji Burohman

10109001

Matematika

Ditandai:
Posted in: feature