Ketika Bangunan dapat Berbicara

Posted on Desember 14, 2012

0


BANDUNG, Jumat sore itu (12/10) monumen kubus yang terletak di seberang gerbang utama kampus ITB di Jalan Ganesha terlihat ramai oleh sekumpulan mahasiswa yang terlihat asyik dengan ponsel dan perangkat musik mereka. Bukanlah sebuah pemandangan aneh yang dapat ditemui pada kampus ITB jika saja tidak ada balon warna-warni, mahasiswa berpakaian jadul, dan papan-papan yang dibawa-bawa oleh beberapa orang. Sedari pukul 5 sore, dua mahasiswa yang membawa pengeras suara mengarahkan dan mengajak agar lebih banyak orang bergabung.

Akhirnya, pada waktu yang ditentukan, secara serentak mereka mulai berjalan, menelusuri kawasan yang dulunya merupakan sekolah tinggi teknik paling tua di Indonesia sembari mengenakan headset dan earphone.

Tidak ada pemandu yang berjalan di depan dan berbicara keras-keras. Hanya ada kepala-kepala yang menjulur, kaki yang berjalan sesekali berhenti, dan telinga-telinga yang khusyuk mendengarkan.

Apa yang mereka lakukan? Apa yang mereka dengarkan? Apakah ini hanya sebuah keisengan belaka mahasiswa untuk menciptakan keramaian tiada guna?

Rupanya mereka sedang mendengarkan Audiotour, begitu para panitia memberikan judul track yang para mahasiswa ini dengarkan. Track yang berdurasi 27 menit 54 detik ini merupakan elemen utama dari Speaking Building, bangunan yang berbicara. Adalah sebuah event kecil yang juga termasuk dalam salah satu rangkaian acara ulang tahun Ikatan Mahasiswa Arsitektur – Gunadharma ITB (IMA-G ITB) yang ke-61, yang lebih beken disebut Gaung Bandung.

Speaking Building sendiri bertujuan untuk membuat mahasiswa ITB menyadari bahwa tiap gedung yang selama ini mereka gunakan dan lewati memiliki ceritanya sendiri-sendiri. Peserta hanya perlu mengunduh track Audiotour dan memasukkannya dalam ponsel atau perangkat musik mereka. “Dalam kesempatan ini, bangunannya seakan ‘berbicara’,” ujar Ivan, panitia Gaung Bandung. “Speaking Building ini terbuka untuk umum dan sesuai dengan tema Gaung Bandung yaitu konservasi. Kami harap semangat kami sampai pada mahasiswa yang bukan mahasiswa arsitektur sekalipun,” imbuhnya.

“Selain Speaking Building ini, kita telah melakukan banyak acara, antara lain bersih-bersih Gedung Gas Negara (GGN), mengukur gedung tersebut, freeze mob saat Braga Festival, lalu rencananya kami akan mengadakan pameran di GGN dan sedang dalam proses untuk membuat buku,” kata Audrey, ketua Tim Kreatif Gaung Bandung.

Rute perjalanan sambil mendengarkan ini bermula dari monumen kubus menuju ke utara, mengikuti sumbu utama ITB. Terdapat check point pada beberapa tempat, agar bisa lebih menikmati suasana dan beristirahat sejenak. Check point yang dipilih adalah tempat-tempat yang memiliki karakteristik khusus di kawasan ITB.

Sebut saja jam gadang, jam yang bersejarah dan telah menjadi saksi biksu dinamika kehidupan mahasiswa ITB dari generasi ke generasi. Lalu boulevard yang didesain dengan menggunakan ilusi optik oleh arsiteknya yang juga dosen arsitektur ITB, Baskoro Tedjo. Berlanjut ke Tugu Soekarno dengan slogan yang terukir di sana ‘Sekali Teman Tetap Teman’. Lalu kolam di tengah ITB, ‘Indonesia Tenggelam’ dengan filosofinya sendiri, Plaza Widya, pohon rindang (DPR), Sunken Court tempat banyak unit-unit kegiatan mahasiswa melaksanakan kesehariannya, dan check point terakhir adalah gerbang belakang, tempat paling utara dari kawasan kampus ITB.

“Acara ini akan diadakan lagi hari Senin (15/10), kali ini jam 11 siang,” jelas Ivan.

Kesan para peserta tergolong positif. “Acaranya sendiri seru, seperti asyik sendiri tapi beramai-ramai. Lalu  jadi tahu pernak-pernik menarik dari bangunan di ITB,” komentar Ichu, salah satu peserta. Prysha, peserta lainnya mengutarakan acara ini menyenangkan, “Dikemasnya secara menarik dan bagus. Secara nggak langsung belajar sambil jalan-jalan dan meskipun jalan, nggak terasa capek.”

Mance, yang mengikuti acara ini pada hari Jumat memiliki pendapat lain, “Track-nya kurang kedengeran, kadang sayup-sayup, rasanya lebih enak kalau memakai loudspeaker atau dibicarakan langsung,” komentarnya. Ia lalu menambahkan, “Acaranya sendiri, sih, seru karena bareng-bareng dan unik.”

 

Catherine Bana Aurora

15209053

Arsitektur

Ditandai:
Posted in: feature