Bedah Buku Surat Malam Untuk Presiden

Posted on Desember 13, 2012

0


Pada tanggal 3 Oktober 2012, 3 bulan setelah buku Surat Malam Untuk Presiden diterbitkan, dilangsungkan bedah buku untuk mengupas lebih dalam isi buku tersebut. Buku karangan Dr. Acep Iwan Saidi, M. Humaniora, yang sempat membuat heboh dunia kesusastraan Indonesia, diulas di Landmark Braga, yang terkenal sebagai salah satu pusat kesenian Kota Bandung.

Buku setebal 383 halaman ini diterbikan oleh Gradienmediatama. Jenis tulisannya non-fiksi umum, yang menuliskan opini dari penulisnya, Acep Iwan Saidi, terhadap fenomena-fenomena sosial yang terjadi di Indonesia. Fenomena yang tertulis merupakan persoalan yang sangat sering muncul di masyarakat kita. Bedah buku ini dilakukan oleh dua orang tokoh kesustraan Indonesia, yaitu saudara Aat Suratin dan saudara Tisna Sanjaya, dengan saudara Dhipa Galih Purba sebagai moderator. Acep Iwan Saidi sendiri menghadiri bedah buku tersebut.

Dalam buku ini, Acep Iwan Saidi berusaha memberitahu Presiden akan fenomena-fenomena pelik yang melanda bangsa ini., yang tidak lain adalah kumpulan kritik terhadap Presiden. Namun, menurut Aat Suratin, yang unik dari buku ini adalah kemampuan Acep Iwan Saidi menuliskan kritik-kritik tersebut secara halus. Kritik empatif terhadap Presiden dikedepankan. “Bukan bicara ke akalnya Presiden tetapi ke hati,” adalah pendapat Aat Suratin mengenai teknik penulisan buku ini.

Menurut Aat Suratin, kesundaan Acep Iwan Saidi dapat terlihat di dalam buku ini. Karakter orang Sunda yang terkenal halus, menjadi salah satu faktor penyebab penulisan buku ini yang bersifat empatif. Menurutnya juga, buku ini bersuasana malam, memiliki nada kontemplasi, dan merenung. Gambaran umum kegelisahan Acep Iwan Saidi tentang masalah-masalah yang dihadapi bangsa kita,  dituliskan dalam suasana nokturnal. Di antara kegelisahan-kegelisahan Acep Iwan Saidi tersebut, yang paling banyak diperdebatkan adalah perbedaan agama. Di dalam buku ini disebut bahwa agama itu dapat dibedakan dengan religiolitas sesorang.

Bentuk tulisan buku ini juga dianggap unik menurut Tisna Sanjaya. Buku ini memanfaatkan teknologi yang dapat dibilang baru muncul pada akhir dekade lalu, yaitu status Facebook. Sebelum ini, belum ada tulisan yang menggunakan status Facebook sebagai sarana penulisan buku. Kemampuan interaktif yang dapat terjadi berkat fitur Facebook tersebut, dianggap suatu inovasi baru oleh Tisna Sanjaya. Interaksi antara pembaca status dengan Acep Iwan Saidi sendiri, dituliskan secara lengkap di dalam buku tersebut, baik likes maupun feedback terhadap status-status milik Acep Iwan Saidi. Dengan begitu, buku ini lebih terlihat sebagai komunikasi dua arah dibandingkan monolog yang umumnya adalah bentuk buku kebanyakan.

Setelah ulasan yang dikemukakan Aat Suratin dan Tisna Sajaya yang berlangsung selama satu jam selesai, dilaksanakanlah sesi tanya jawab yang menjadi inti dari acara bedah buku Surat Malam untuk Presiden. Dikarenakan banyak peserta diskusi yang belum memiliki buku tersebut, pertanyaan yang diajukan lebih banyak ditujukan kepada interpretasi-interpretasi buku yang telah disampaikan oleh Aat Suratin dan Tisna Sanjaya. Misalkan, Rika, mahasiswa, menanyakan kembali pengaruh kesundaan Acep Iwan Saidi. Dijawab oleh Aat Surati “Sejatinya setiap orang begitu, begitu sadar akan ekosistemnya,” yang menandakan bahwa Acep Iwan Saidi adalah intelektual yang “menapak tanah”, yang sadar akan asalnya, yaitu Sunda. Aris, mahasiswa, juga menanyakan siapa tokoh “Presiden” yang dimaksud oleh Acep Iwan Saidi, yang dijawab setiap oleh Aat, “Idealisasi Acep untuk pemimpin,” yang berarti bisa siapa saja, mulai dari presiden, gubernur, bupati, camat, lurah, ketua RW, ketua RT, hingga setiap kepala keluarga.

Menarik untuk disebut, di dalam sesi diskusi, Aat Suratin dan Tisna Sanjaya melakukan aksi teatrikal. Tisna Sanjaya membaca puisi dalam bahasa Sunda tentang buku Surat Malam Untuk Presiden sedangkan Aat Suratin melemparkan satu sisir pisang raja ke audiens yang hadir. Aksi tersebut membuat suasana diskusi yang sudah hangat menjadi semakin kondusif.

Diskusi dan tanya jawab di akhiri oleh Acep Iwan Saidi. Pertanyaan mengenai keberanian Acep Iwan Saidi untuk menulis buku yang berisi kritik-kritik terhadap presiden dan menghadapi konsekuensi kemungkinan untuk dibredel dan dipenjara, dijawab dengan mantap “Apabila saya tidak menulis buku ini, saya yang akan terpenjara.” Secara formal bedah buku yang dihadiri sekitar 40 orang, ditutup oleh Dhipa Galih Purba, pada pukul 17:31.

 

Dimas Prameshwara

13507001

Ditandai:
Posted in: peristiwa