Surat Malam untuk Presiden

Posted on Oktober 9, 2012

0


“Pemimpin, raja itu harus seperti cau raja bulu. Enak dilihat, rasanya juga enak.” celoteh Tisna Sanjaya, yang kemudian mengupas dan melahap satu buah pisang raja bulu. Ketika itu Tisna Sanjaya sedang menjadi narasumber dari acara diskusi buku ‘Surat Kecil untuk Presiden’ karya Acep Iwan Saidi.

Acara diskusi buku ini diadakan pada hari Rabu, tanggal 3 Oktober 2012 di Landmark Braga, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pameran buku yang digelar pemerintah kota bandung dalam rangka menyemarakkan ulang tahun kota Bandung yang ke 202 tanggal 25 September lalu. Dalam kegiatan diskusi buku yang dimoderatori oleh Dhipa Galuh Purba ini, selain menghadirkan Acep sebagai penulis, juga hadir Tisna Sanjaya dan Aat Suratin sebagai narasumber.

Buku ‘Surat Malam Untuk Presiden’ sendiri merupakan sebuah buku hasil dokumentasi 501 kumpulan status facebook milik Acep beserta komentar-komentarnya. Status-status facebook ini mulai ditulis Acep semenjak dirinya pulang kampung lebaran silam.

Diskusi buku dimulai dengan ulasan Tisna Sanjaya mengenai buku ‘Surat Malam Untuk Presiden’. Menurut beliau, buku ini unik, karena proses pembuatannya memiliki siklus ‘dari manual ke maya, kemudian kembali ke manual’. Artinya Acep memberi input manual berupa pemikiran-pemikiran kepada dunia maya, yaitu status facebook, dan kemudian Acep membumikannya kembali menjadi bentuk manual, yaitu sebuah buku.

Tisna Sanjaya, yang juga menjadi staff pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB menilai bahwa buku ini bisa dimasukkan ke dalam kategori buku seni sosial atau social-art book, karena sifatnya yang sangat interaktif dengan pembacanya.

Lalu sesi berikutnya adalah ulasan oleh Aat suratin. Ia menyatakan bahwa dalam buku ini Acep seperti ‘mencuri adegan’ dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan Acep, baik itu di lingkungan nyata maupun maya. Aat juga mengatakan bahwa pemilihan judul untuk buku ini sangat tepat, karena memang buku ini bersuasana malam, “penyampaian kritik yang lembut, kontemplatif, dan nocturnal. Buku ini sangat bersuasana malam hari.” Katanya.

Dalam sesi ini Aat juga menekankan status Acep sebagai Doktor memiliki tanggung jawab besar. Dan agar Acep sanggup memikul tanggung jawab itu, Acep harus menjaga akal sehatnya. Aat berpendapat bahwa Acep menjaga akal sehatnya dengan menulis buku ini.

“menurut saya, Acep adalah seorang intelektual yang terlibat, dan ini sangat dibutuhkan karena kondisi masyarakat yang semakin skeptis. Butuh bukti nyata.”, tambahnya

Kemudian acara dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab dan diskusi. Rika, salah satu penanya mendapatkan kesempatan untuk bertanya pertama kali. Rika bertanya tentang alasan dibalik penggunaan foto mesin tik sebagai cover buku. Tisna menjawab bahwasannya mungkin mesin tik mempunyai daya magis tersendiri bagi orang-orang tertentu. Mesin tik juga menggambarkan kemanualan peristiwa dunia. Aat Suratin juga menambahkan jika mesin tik itu memiliki keunikan yang menuntut penggunanya lebih disiplin dan teratur dibandingkan dengan menggunakan laptop atau perangkat komputer.

Tisna Sanjaya juga menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan penanya dengan membacakan sebuah tulisan yang ditulisnya, “Surat dari Kabayan dan si Iteung, untuk presiden, gubernur, walikota, bupati, dan seterusnya..”. Pemeran si Kabayan nyintreuk ini mebacakan tulisannya dengan menggebu-gebu. Tulisan yang berisi berbagai keluh kesah dan kekesalan yang ditujukan untuk jajaran pemerintahan ini diselingi dengan saweran pisang raja bulu yang cukup mengejutkan para hadirin. Kemudian setelah membacakan tulisannya, ia menutup dengan aksi meremas kertas tulisan yang ia pegang lalu melemparnya sambil berteriak, “tah, presiden!” disambut dengan tepuk tangan meriah dari para hadirin yang menyaksikan.

Setelah sesi tanya jawab selesai, Acep iwan Saidi sebagai penulis lalu menjawab beberapa pertanyaan dari penanya. Acep berkata bahwa setelah diskusi ini ia memiliki tanggung jawab yang besar. Selain itu, Acep yang juga menjabat sebagai ketua Forum Diskusi Kebudayaan ITB memaparkan pemilihan kata ‘malam’ sebagai judul bukunya. Menurutnya, hal itu karena memang 80%-90% dari status facebook miliknya ia tulis pada waktu malam hari.

 

13308035_Hizbulloh Husnul

Ditandai:
Posted in: peristiwa