Surat Malam untuk Presiden, dari Sejuta Facebookers untuk Presiden

Posted on Oktober 9, 2012

0


Biasanya surat malam itu dikirimkan oleh seorang pemuda yang sedang kasmaran kepada kekasih yang sangat dirindukannya. Biasanya surat itu berisi tentang rasa rindu ingin bertemu, rasa cinta yang belum berbalas dan kegelisahan-kegelisahan yang dituliskan dalam sajak-sajak pujangga. Namun bagaimana jika surat malam itu dikirimkan kepada presiden oleh seorang penulis bernama Acep Iwan Saidi?

Dalam sebuah acara yang bertajuk  bedah buku  Surat Malam untuk  Presiden ini, Acep Iwan Saidi memamerkan buku terbarunya itu. Bedah buku yang merupakan rangkaian acara dari Pameran Buku Bandung 2012 tersebut mengundang dua pembicara yang sudah cukup terkenal yaitu Tisna Sanjaya dan Aat Suratin yang keduanya meruapakan seniman.

Berawal dari kegelisahan Acep terhadap keadaan di negeri ini seperti  perubahan lingkungan alam dan pemimpin-pemimpin yang korup, dia mendokumentasikan 501 status facebook miliknya menjadi sebuah buku. Facebook memang kini menjadi media yang berisi tentang berbagai macam komentar, kritik, maupun opini banyak orang tentang berbagai macam hal. Termasuk komentar-komentar tentang permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan kebijakan publik. Dengan cermat Acep Iwan Saidi merangkum status-status facebook tersebut beserta komentar-komentarnya menjadi satu kesatuan buku Surat Malam untuk Presiden agar pembaca merasa ikut berinteraksi dengan penulis.

Kata “Malam” pada judul buku tersebut memang sengaja dipilih oleh penulis dengan maksud agar buku ini bisa dijadikan sebagai bahan perenungan bagi pemimpin negara ini. Karena waktu malam biasanya dipandang sebagai waktu orang untuk merenung atas segala aktivitas yang telah dilakukannya di hari itu dan merenung untuk melakukan lebih baik di esok hari. Pemilihan kata Malam juga dimaksudkan agar pesan yang disampaikan bisa benar-benar dirasakan oleh presiden dalam keadaan kepala terbuka dan menyentuh hati.

“Buku ini seperti untaian kritik yang bersifat empatif. Bukan kritik yang keras. Karena kritik-kritik itu perlu supaya membuka hati orang-orang yang dikritiknya,”  begitu yang disampaikan oleh Aat Suratin. Dia juga menambahkan bahwa dibutuhkan kritik dari seorang intelektual yang dekat dengan publik, karena dianggapnya sekarang jarang sekali pemimpin benar-benar tahu permasalahan publik. Karena itu menyatukan pendapat-pendapat orang di facebook merupakan salah satu upaya Acep untuk bisa berinteraksi dengan publik.

Menurutnya buku ini juga merupakan kritik yang cerdas dari seorang intelektual yang cerdas pula. Kritikan dari facebook menjadikan buku ini berisi kritik yang disampaikan dengan cara-cara kebudayaan. Bukan berisi kritikan-kritikan yang keras, dan berisi celotehan-celotehan tidak penting seperti yang biasa kita lihat di laman facebook, namun berisi kritik yang dibangun dari opini, analisis, bahkan digali dari referensi tertentu.

Hal yang sama juga dipaparkan oleh Tisna Sanjaya bahwa  buku ini berupaya untuk bisa berinteraksi dengan publik . “Buku ini berawal dari kegelisahan yang dituangkan secara sistemik. Kegelisahan mengenai kampung yang tersisih, hingga pemimpin yang korup. Lewat buku ini pula, seolah terjadi interaksi dengan publik seperti mengajak diskusi,” , Ungkap Tisna Sanjaya.

“Bagi saya, menulis status Facebook itu mirip menulis buku karena perlu ada referensi. Ternyata menulis status Facebook itu banyak orang yang menanggapinya serius,” , ungkap Acep Iwan Saidi yang juga merupakan Ketua Forum Kebudayaan ITB ini ketika menceritakan idenya merangkum status facebook menjadi sebuah buku.

Bedah buku yang berlangsung di Gedung Landmark Bandung, pada Rabu (3/10) ini berlangsung menarik. Penonton yang hadir pada acara tersebut antusias mengikuti diskusi. Ditunjukkan dengan banyaknya penonton bedah buku yang bertanya jawab dengan pembicara. Setelah dua jam berlangsung bedah buku yang juga dimoderatori oleh penulis Dian Galuh Purba ini pun ditutup dengan tepuk tangan meriah.

 

Azka Muji Burohman/10109001

Ditandai:
Posted in: peristiwa