Surat Malam Untuk Presiden, Dari Kumpulan Status Jadilah Buku

Posted on Oktober 9, 2012

1


“Lebih baik dipenjara karena menulis buku ini. Jika tidak ditulis, malah akan membuat terpenjara selamanya.”

Panggung telah terisi dua pembicara, yaitu Aat Suratin dan Tisna Sanjaya. Keduanya hadir sebagai pembicara bedah buku “Surat Malam Untuk Presiden”, karya Acep Iwan Saidi. Kursi yang berjejer depan panggung awalnya masih sepi pengunjung. Bedah buku ini terlaksana Rabu (3/10) di Gedung Landmark Jalan Braga, Bandung. Diskusi bedah buku ini dimoderatori Dian Galuh Purba.

Beberapa menit berlalu, peserta diskusi sudah cukup ramai mengisi kursi yang disediakan. Lebih kurang lima puluh orang pendengar hadir di diskusi ini. Belum termasuk pengunjung pameran buku yang datang sebentar, atau mendengar sebagian-sebagian saja. Bedah buku ini merupakan rangkaian kegiatan Pameran Buku Bandung 2012.

Buku ini ditulis pengarang yang katanya hasil dokumentasi ratusan status Facebook. Tentunya, status yang dibuat merupakan hasil tulisan yang terkonsep terlebih dahulu. Status facebook yang oleh beberapa orang dijadikan dijadikan sebagai tempat curhat, mengeluh, dan meluapkan perasaan yang sedang dirasakan. Tapi penulis, menjadikannya sebagai penyampai kritik dan pemikiran dalam kehidupan sosial yang cerdas dan bernas. Bagi penulis, menulis status Facebook, seperti melulis buku. Karena, ternyata perlu referensi pula untuk tulisan statusnya itu untuk menanggapai beberpa komentar orang yang serius. Oleh karenanya, membaca buku ini, pembaca seperti diajak berdialog dengan penulis statusnya. Jangkauan bahasan buku ini pun menjadi meluas karena orang yang menanggapi status. Pembaca akan dimanjakan isi pikiran lain, tidak hanya pikiran si penulis.

Dalam bedahan buku ini, Aat Suratin menekankan benar-benar kritik yang membangun dan kritik yang menjatuhkan. Kritik yang bersifat empatif, bahasanya akan sampai ke hatinya karena kritik terbit dari kejujuran. Berbeda dengan kritik yang emosional, bukan malah akan memberikan perbaikan pada sasaran kritik, tapi malah semakin menjadi.

Pemilihan sampul buku berupa gambar mesin ketik, dimaksudkan bahwa suatu proses menulis dengan mesin ketik, membutuhkan pola fikir sistemik yang terasah, disiplin, sehingga apa yang akan dituliskan itu telah tersusun sebelumnya dan mengalir dengan baik mengikuti alurnya. Mesin ketik pula, memiliki daya magis yang beda bagi beberapa penulis.

Isi buku ini, sebenarnya tidak hanya ditujukan kepada presiden semata, tetapi ditujukan pula untuk para pemimpin lainya seperti gubernur, walikota, bupati dan pejabat publik lainnya. Pemimpin di Indonesia sekarang, tidak cukup hanya dibekali kemampuan manajemen yang baik, kemampuan ini mungkin perlu bila yang dipimpinya pabrik. Tapi, seorang pemimpin di Indonesia apa lagi presiden, kemampuan yang harus dimilikinya haruslah seperti konduktor. Kemampuan konduktor yang dapat memainkan harmoni berbagai nada yang beda dan dari alat yang berbeda. Peran inilah yang harus dimainkan pemimpin Indonesia untuk memimpin Indonesia yang beragam ini.

Sosok pemimpin ideal pun digambarkan penulis dalam buku ini bak metamor Arok dalam karya Pramoedya. Sosok ini dilahirkan dari kaum bawah, satria, dan santun pada yang dipimpinnya

Tisna Sanjaya di sela diskusi ini pula membacakan puisi yang begitu indah, sembari membagikan Pisang Raja Bulu pada beberapa peserta yang hadir di bedah buku ini.

Sikap apa yang harus dibangun setelah membaca buku ini ?

Orang yang membaca buku ini dapat merdeka. Ibaratnya, buku ini seperti menjual benih, ketika kita telah membelinya, maka benih itu adalah miliki kita, dan kita dapat mengambil manfaat dari benih itu bila kita merawat dan menumbuhkannya dengan baik. Begitu pula dengan buku ini, pembacanya akan dibekali benih untuk menumbuhkan tulisan yang berkwalitas yang menjadi miliknya sendiri.

Ihsan Budi Rachman/10508043/Mahasiswa Kimia ITB

 

 

Ditandai:
Posted in: peristiwa