Sudah Sakit Kepala, Tertimpa Bambu

Posted on September 25, 2012

0


            Merasakan dua sakit kepala yang berbeda dalam sehari, adalah nasib Mahasiswa Arsitektur ITB 2008. Hari Selasa 18 September 2012, tepatnya pada siang hari salah satu bambu struktur pembantu buatan tukang yang digunakan dalam proyek pengecetan bangunan Arsitektur ITB jatuh menimpa inyonk di sebelah amphitheater Arsitektur. Menurut kesaksian, bambu terlepas dari ikatanya karena ikatan ijuk kurang kuat.

 

Pemandangan gedung arsitektur ITB sejak pertengahan bulan Ramadhan memang sudah terlihat ramai  dengan scafholding atau struktur pembantu dan para tukang baik berseliweran di lantai dasar maupun yang sedang di struktur pembantu. Proyek pengecetan ulang bangunan Arsitektur ITB-lah alasan dari pemandangan yang sampai sekarang kian ramai oleh struktur dan tukang, tidak seperti biasanya dimana proyek seperti ini harusnya tidak memerlukan waktu yang begitu lama, mungkin proyek yang dikerjakan dan dipercayakan kepada PT. SASMITO ini mengusahakan hasil yang maksimal.

Proyek yang dikerjakan demi pengguna bangunan ini termasuk mahasiswanya adalah hal yang menguntungkan bagi pengguna, namun di sisi lain tidak bagi Muhammad Ilham Fajar alias Inyonk(22) pada hari selasa (18/09/12) kemarin,siang pukul 13:40  beliau yang baru saja pulang dari Bumi Medika Ganesha, klinik kesehatan milik ITB, untuk memeriksa sekaligus berobat karena sakit kepala yang dialaminya. Sakit kepala yang mungkin disebabkan oleh pola kerja beliau selama mengerjakan Tugas Akhir. Dalam perjalanan pulangnya ke gedung Arsitektur, Inyonk nekat menyusuri sela-sela struktur pendukung, garis polisi tidak menghalangi niatnya untuk cepat kembali ke dalam gedung Arsitektur agar segera kembali melanjutkan progres kerja Tugas Akhir.  Namun nasib sial menjadikan penghalang baginya, tidak lain bambu yang jatuh menimpa kepala dan langsung membuat beliau jatuh tidak sadarkan diri. Bambu yang jatuh ini pastinya bukan karena kesengajan, namun karena tidak kuatnya ikatan ijuk antar bambu pada struktur penahan, untungnya hanya satu bambu yang jatuh dan menimpa Inyonk. Setelah kejadian tersebut, beliau langsung dibawa teman-temanya ke Bumi Medika Ganesha lagi untuk memeriksa keadaanya. Hasil pemeriksaan menyatakan Inyonk beruntung tidak mengalami cedera berat, Inyonk memang sudah tidak kuat fisiknya sejak sakit kepala yang ia alami sebelum tertimpa bambu, atas instruksi dokter, inyonk diminta untuk istirahat sampai keesokan harinya.

Tentunya hal ini bukanlah kesalahan sepenuhnya dari para tukang atau secara keseluruhan PT. SASMITO. Bagaimanapun juga sejak awal proyek ini memang telah memperhatikan keamanan dan kenyamanan pengguna atau pengguna jalan di sekitar bangunan Arsitektur ITB, hal ini didukung dengan adanya garis polisi yang telah diperkirakan dalam jarak aman bagi pengguna jalur, sekaligus menandakan adalah suatu larangan untuk memasuki garis polisi yang sudah ditentukan. Seperti yang dilansir dari salah seorang tukang yang tidak mau disebutkan namanya, terlepasnya bambu dari kesatuan struktur adalah karena kerenggangan dalam pengikatan ijuk antar bambu, kecerobohan kecil ini memang biasa terjadi, walaupun jarang menimbulkan kecelakaan seperti yang dialami oleh Inyonk.

Rabu (19/09/12), paginya inyonk sudah bisa ditemui, dan menurut pernyataan dokter beliau sudah bisa melakukan aktivitas rutin kembali. Ketika ditanya, inyonk mengaku menyesal telah melewati jalur polisi, hanya saja karena ia terbiasa melihat teman-temanya melakukan hal yang sama (mungkin) dengan tujuan yang sama untuk cepat sampai tujuan ia tidak merasakan kekhawatiran karena kemungkinan kecelakaan terjadi sangat kecil. Beliau juga mengaku telah didatangi oleh beberapa tukang dan kontraktor pengawas pada malam sebelumnya, mereka mengunjungi Inyonk dalam rangka meminta maaf atas kejadian buruk yang menimpanya sekaligus berusaha bertanggung jawab dengan membiayai perawatan dan pengobatan beliau. Setidaknya hal buruk yang menimpa inyonk adalah pembelajaran untuk senantiasa taat pada peraturan; “peraturan ada agar teratur coy” ,kata beliau.

Setelah kejadian naas itu, atas perintah salah satu dosen Arsitektur, pak Eko Purwono kepada para tukang lewat kontraktor pengawas dilakukan pemeriksaan di semua ikatan pada struktur pembantu juga memperketat peraturan serta memperbaiki lagi garis polisi lebih sedikit melebar untuk menghindari kejadian yang sama terulang lagi.***

Zulfikri Mokoagow/15208064/Teknik Arsitektur

Posted in: jurnalistik