Parkir ITB Tidak Mencukupi Kebutuhan Parkir Motor Mahasiswa

Posted on September 25, 2012

0


Pada hari Selasa, 18 September 2012 pukul 12.00 terdapat tanda di setiap tempat parkir di ITB yang menunjukkan bahwa tempat parkir tersebut tidak mampu menampung kendaraan roda dua. Hal ini terjadi di beberapa titik parkir ITB yaitu, tempat parkir di dekat jurusan teknik sipil, tempat parkir di dekat jurusan seni rupa dan tempat parkir di dekat perpustakaan pusat ITB.

Penuhnya slot tempat parkir ITB untuk kendaraan roda dua sudah terlihat dari minggu pertama kuliah diadakan. Namun penuhnya slot tempat parkir tersebut dapat diatasi dengan strategi antara lain dengan membuat jarak antar motor menjadi sangat dekat dan pengalih fungsian beberapa slot tempat parkir kendaraan roda empat menjadi tempat parkir kendaraan roda dua. Strategi penyempitan jarak antar kendaraan roda dua juga sudah membuat banyak kendaraan roda dua menjadi korban. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak kendaraan roda yang mengalami lecet pada badan kendaraannya.

Jika pada tahun-tahun sebelumnya slot parkir yang penuh hanya untuk kendaraan roda empat, pada tahun ajaran 2012/2013 ternyata slot parkir untuk kendaraan roda dua juga harus mengalami nasib yang sama. Bahkan dengan pengalih fungsian dari beberapa slot tempat parkir roda empat menjadi slot tempat parkir roda dua, masih tidak mampu menangani masalah ini.

Jika menilik pada tahun 2009, tempat parkir di ITB masih sangat leluasa. Tempat parkir yang terlihat sangat padat hanya terjadi pada tempat parkir di dekat perpustakaan pusat ITB. Kendaraan roda dua berbadan besar dan berharga mahal seperti Kawasaki Ninja 250, masih mendapat tempat khusus agar dapat melindungi badan kendaraannya dari gesekan antara kendaraan roda dua yang dapat menyebabkan lecet.

Semakin padatnya kendaraan bermotor yang parkir di tempat parkir ITB menyebabkan beberapa permasalahan baru antara lain semakin lamanya waktu yang diperlukan kendaraan untuk keluar dari tempat parkir ketika jam selesainya waktu kuliah mayoritas mahasiswa yaitu sekitar jam setengah 6 sore. Sebagai contoh ketika parkir di tempat parkir di dekat perpustakaan pusat ITB, waktu untuk keluar dari tempat parkir dapat memakan waktu 15-20 menit. Banyaknya kendaraan yang parkir di tempat parkir tersebut hanya dilayani oleh dua gerbang keluar parkir. Ditambah dengan beberapa mahasiswa yang tidak mau mengantri dengan tertib, membuat semakin lamanya waktu yang diperlukan untuk keluar dari tempat parkir tersebut.

Banyaknya kendaraan yang memerlukan tempat parkir di ITB membuat munculnya beberapa tempat parkir liar di sekitar ITB, antara lain di depan gerbang ITB dan di belakang ITB. Namun ternyata kedua tempat tersebut juga menunjukkan bahwa keduanya tidak mampu menampung kendaraan roda dua. Hal ini ditunjukkan dengan seringnya tukang parkir menolak permintaan mahasiswa untuk memarkir kendaraan roda duanya.

Permasalahan ini disebabkan semakin meningkatnya jumlah mahasiswa yang membawa kendaraan bermotor roda duanya ke lingkungan kampus ITB. Peningkatan ini diperkirakan karena efek semakin membaiknya perekonomian Indonesia dan semakin mudahnya akses untuk mendapatkan kendaraan bermotor roda dua. Penyebab lain adalah buruknya transportasi umum di Bandung. Ketidaknyamanan, ketidak tepatan waktu dan ketidak amanan menjadi faktor utama enggannya masyarakat menggunakan transportasi umum.***

 

Ade/13509075

Posted in: jurnalistik