Mahasiswa ITB Bersih-bersih Gedung Gas Negara

Posted on September 25, 2012

0


BANDUNG, Mahasiswa arsitektur ITB yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Arsitektur – Gunadharma ITB (IMA-G ITB) terlihat memadati gedung Perusahaan Gas Negara (PGN), Sabtu (15/09). Sedari pukul 09:00, mahasiswa yang mengenakan pakaian kasual itu membersihkan gedung PGN, yang biasanya lengang dan tertutup, dengan peralatan yang mereka bawa. Kegiatan bersih-bersih ini rupanya adalah salah satu kegiatan dari rangkaian acara memperingati hari ulang tahun (dies) IMA-G ITB ke-61 yang jatuh pada tanggal 15 November.

“Dies kali ini mengangkat tema Heritage atau konservasi,” jelas Audrey Suhadi, kepala divisi tim kreatif, “Pendokumentasian merupakan esensi penting dalam lingkup konservasi. Kami ingin melakukan measured drawing pada bangunan PGN ini. Bersih-bersih hanya merupakan kegiatan awal sebelum kami melakukan pengukuran minggu depan.”

Isu konservasi sudah bukanlah hal yang baru di dunia, sebut saja kota-kota budaya seperti Paris dan Venezia. Namun istilah ini cukup asing di Indonesia sampai pada akhirnya mulai hangat dibicarakan civitas akademika khususnya arsitektur beberapa tahun belakangan. Di Bandung sendiri, isu ini telah dibicarakan sejak lama. Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage) telah mendata lebih dari 300 bangunan bersejarah di Bandung namun hanya 99 yang diakui Pemerintah Kotamadya Bandung sebagai bangunan konservasi.

Adapun gedung bersejarah yang terletak di Jalan Braga no. 40, Bandung, ini dulunya merupakan kantor N. V. Nederlandsch Indische Gas Maatschappij (NIGM), perusahaan gas pada masa Hindia Belanda, lalu kemudian berpindah tangan ke Perusahaan Gas Negara pasca kemerdekaan. Pada tahun 1997, krisis melanda Perusahaan Gas Negara dan akhirnya gedung yang dirancang tahun 1919 ini terpaksa ditutup dan baru dibuka kembali saat IMA-G ITB berniat mendokumentasikannya. Perusahaan Gas Negara sendiri memiliki rencana untuk memanfaatkan kembali gedung bersejarah ini, mereka memiliki wacana untuk menjadikannya museum atau executive lounge.

Bersih-bersih berlangsung selama dua hari, Sabtu dan Minggu, dari jam sembilan pagi sampai jam empat sore dengan dukungan air dari RW sekitar karena gedung PGN tidak memiliki pasokan air dan listrik sendiri. “Sebenarnya kami memiliki ekspektasi agar warga ikut berpartisipasi, namun meskipun hanya mendapatkan bantuan air, kami sudah cukup berterima kasih,” tukas Audrey. Menurut pendapatnya, bangunan PGN ini memang harus dibersihkan karena dapat mengganggu workshop pengukuran yang merupakah salah satu acara utama. Kondisi bangunan memang cukup parah dengan vandalisme dan debu karena sudah lama tidak dibuka. “Salah satu ruangan bahkan penuh dengan kotoran dan bangkai burung,” jelasnya lagi.

Alat-alat sederhana seperti sapu, kain pel bekas, ember, dan sikat dikumpulkan dari kalangan mahasiswa sendiri. Masker dan sabun pun mereka bawa dari kampus. Tidak ada mekanisme khusus, pembagian kerja dilakukan sesuai alat yang mereka pegang. “Just grab what you can and do what you can,” kata Audrey.

IMA-G ITB berharap dapat merilis buku mengenai gedung PGN ini pada puncak acara mereka yang jatuh pada bulan November nanti.***

 

Catherine Bana Aurora/15209053/Arsitektur

 

 

Posted in: jurnalistik