Gedung Baru Dibangun, Seorang Dosen Naik Pitam

Posted on September 25, 2012

0


Institut Teknologi Bandung– Proses pembangunan sarana baru  yang seharusnya berdampak positif bagi para mahasiswanya malah berujung pada terganggunya proses belajar dan marahnya seorang dosen. Selasa (4/9/12), pukul 16.30 WIB, Pada saat itu kuliah Sosiologi Industri sedang berlangsung di Ruang 9232 Gedung GKU Timur lantai 3. Pada awalnya sang dosen sedang mengajar dengan lancar dan tidak ada gangguan sama sekali. Lalu tiba-tiba suara keras akibat mesin pembangunan di depan gedung tersebut memecah konsentrasi kuliah dan bahkan suara dosen pun tidak terdengar akibat gangguan tadi. Lantas sang dosen keluar kelas mencoba menghentikan gangguan tersebut dengan menepuk tangannya berkali-kali. Karena tindakan tersebut tidak berpengaruh, secara spontan dosen tersebut berteriak dengan sangat keras sehingga pekerja bangunan yang terletak di lantai dasar mendengarnya lalu mengehentikan pekerjaannya. “Kalian dengar itu ? itu salah satu fenomena sosial. Seharusnya para pekerja tersebut berkoordinasi dengan pihak sarana prasarana, bukan kejar setoran seperti itu.”Ucap Bapak Chairil Nur Siregar, Dosen mata kuliah tersebut, kepada mahasiswanya.

Kebisingan tersebut ternyata berasal dari pembangunan gedung laboratorium uji doping, yang akan berperan mengurangi ketergantungan pengujian sampel anti-doping atlit Indonesia ke laboratorium yang berada di luar negeri. Laboratorium tersebut akan menjadi laboratorium doping pertama di Indonesia dan merupakan kerjasama ITB dengan Kementrian Negara Pemuda dan Olah Raga Republik Indonesia untuk meningkatkan peran serta dan kemampuan para atlit untuk bersaing di tingkat Internasional. Gedung tersebut dibangun di tempat yang sebelumnya merupakan lahan parkir karyawan sebelah selatan gedung GKU Timur mengingat sempitnya lahan kampus ITB.

Pembangunan Laboratorium uji doping merupakan salah satu proyek “Rancangan Pembangunan & Penataan Kampus ITB Tahun 2012 – 2014” yang digagas untuk mencetak sarjana dengan kuantitas dan kualitas yang lebih baik. Untuk mencetak lebih banyak sarjana, ITB harus meningkatkan kapasitasnya dengan membangun gedung-gedung perkuliahan. Selain itu, pengembangan ilmu dari beberapa bidang studi membutuhkan fasilitas lebih dari yang sudah ada saat ini. Proyek ini sebenarnya sudah digagas sejak 2006. Namun, pembangunan baru akan gencar pada 2012 akhir hingga 2014. Dana untuk pembangunan ini sendiri berasal dari berbagai pihak, yaitu Kemenpora, Japan International Cooperation Agency (JICA), IA-ITB, dll. Pembangunan utama kampus ITB yang saat ini sedang berjalan berfokus pada pembangunan gedung-gedung baru dan revitalisasi gedung yang sudah ada.

“Seharusnya pembangunan fasilitas-fasilitas baru tersebut tidak boleh mengganggu proses kuliah mahasiswa.” Ujar Irawan, salah seorang mahasiswa S1 ITB. Memang pembangunan fasilitas tersebut terkesan tergesa-gesa sehingga prosesnya berjalan tidak sesuai waktu yang seharusnya. Masalah ini seharusnya ditangani pihak perencana pembangunan secepatnya sehingga tidak terjadi hal serupa.***

Hazmanu Hermawan Yosandian/12009008/Teknik Geologi

Posted in: jurnalistik