Diskusi Publik KM ITB sebagai Refleksi 202 Tahun Kota Bandung

Posted on September 25, 2012

0


“BANDUNG, – Merayakan 202 tahun Kota Bandung, KM ITB menjadikan alat refleksi agar mahasiswa mau peduli terhadap keadaan kotanya.”

Jumat (21/9) KM ITB mengadakan diskusi publik tentang refleksi 202 tahun Kota Bandung. Diskusi tersebut membicarakan tentang tiga tema besar. Pertama yaitu, tentang perubahan sosial budaya dari masa ke masa. Kedua, pembangunan di Kota Bandung. Dan yang ketiga adalah komunitas sebagai generator pembangunan.

Diskusi tersebut menghadirkan tiga pembicara yang cukup tersohor baik di lingkungan ITB maupun di Kota Bandung. Beliau adalah Drs. Tisna Sanjaya budayawan senior di Kota Bandung. Kemudian Dr. Ir. Denny Zulkaidi MUP, salah seorang  pencetus gagasan zonasi di Indonesia. Dan yang terakhir adalah Pak M. Ridwan Kamil S.T. MUD seorang aktivis komunitas di Kota bandung. Ketiga pembicara tersebut merupakan dosen ITB.

Acara diskusi dibuka pukul 13.30 tepat dengan diawali menyenyikan lagu Indonesia Raya untuk meningkatkan nasionalisme. Dalam sambutan pembukaannya, Anjar, Presiden KM ITB mengungkapkan, “Dengan adanya diskusi ini saya berharap kita tidak  tidak hanya mendapatkan transfer inspirasi dari ketiga pembicara, namun kami berharap akan muncul Pak Ridwan Kamil muda, Pak Tisna Sanjaya muda, dan Pak Denny muda yang nantinya akan menadi orang yang lebih hebat dari ketiga pembicara yang ada di depan kita ini untuk membangun Kota Bandung”

Kementrian kebijakan daerah kabinet  KM ITB selaku penyelenggara acara tersebut mengungkapkan bahwa tujuan diselenggarakannya acara tersebut adalah agar mahasiswa ITB paham akan transformasi Kota Bandung, Mahasiswa care akan isu-isu Kota Bandung. Dan diharapkan output dari diskusi akan  dijadikan bahan inputan kajian-kajian tentang kebijakan Kota di tiap himpunan mahasiswa jurusan di ITB.

Dalam keberjalanannya, diskusi yang diadakan di ruang 29 Gedung Campus Center Barat ITB tersebut diikuti dengan antusias oleh para audiens. Diskusi tersebut diikuti oleh 50-an orang dari berbagai angkatan dari angkatan paling tua 2008 sampai angkatan termuda 2012 ITB. Baik datang secara pribadi maupun mewakili lembaga.

Masing-masing pembicara memang sengaja diundang oleh panitia untuk berbicara sesuai dengan ‘minat’ masing-masing. Tisna Sanjaya berbicara tentang sosial budaya, Pak Denny Zulkaidi bicara tentang pembangunan fisik, dan Ridwan Kamil bicara soal komunitas di Kota Bandung.

“Kegagalan system hanya diakhiri dengan tindakan apologik, bukan dengan perbaikan”, ungkap Ridwan Kamil pada diskusi tersebut. Ungkapan tersebut menyatakan kritik terhadap pemerintah Kota Bandung yang masih dianggap belum bisa memberikan solusi atas kegagalan-kegagalan yang terjadi.

“Pembangunan milik siapa?” begitulah kira-kira pertanyaan besar yang dimunculkan di hadapan para peserta diskusi. “kalau kita lihat kembali pembangunan-pembangunan di Kota Bandung itu sebenarnya untuk siapa? Sosial budaya di masyarakat itu sudah jarang yang memperhatikan, kalau seperti ini terus lama-lama kapitalis yang akan menguasai Kota Bandung” ungkap Ikrar Eka Prayagumilar, mahasiswa jurusan PWK ITB yang juga menjadi penyelenggara.

Refleksi 202 tahun Kota Bandung memang sengaja dipilih sebagai momentum untuk menstimulus mahasiswa ITB agar peduli dengan lingkungan sekitarnya. Karena biar bagaimanapun kampus ini terletak di Bandung dan seperti yang dikatakan Anjar juga, kedatangan seorang mahasiswa  ke Kota ini harus memberikan kontribusi untuk kota ini. “kami berharap mahasiswa ITB bisa lebih paham, dan care terhadap Kodisi Kota Bandung, tidak hanya itu, harapannya dengan diskusi ini juga mahasiswa akan mau terlibat dalam pengawalan pembangunan kota Bandung yang dilakukan oleh pemerintah.***

 

Azka Muji Burohman

Posted in: jurnalistik