Bukan Lagi Sekadar Lahan Parkir

Posted on September 25, 2012

0


Saat melangkahkan kaki di  bagian timur ITB sekarang ini, rasanya tak pernah sepi dengan suara-suara bising. Entah suara palu diketok, tembok dihancurkan, alat berat sedang bekerja, las besi, dan sebagainya. Ada apakah gerangan?

Menyusuri lapangan parkir di daerah Seni Rupa ITB, kita akan melewati gedung Arsitektur yang memang sedang dibenahi. Bambu-bambu telah tertata rapi di sekeliling gedung bagian atas, terlihat juga tukang-tukang bangunan sedang melakukan bagiannya. Ada yang mengecat, mengganti atap, atau menambal beberapa tembok yang retak.

Tapi, ternyata bukan hanya itu sumber kebisingan yang ada. Bila kita melangkah lagi ke sekitar GKU Timur, terlihat aktivitas yang tak kalah sibuknya pun terjadi di sana. Hanya saja bedanya bukan bambu yang dipasang, melainkan seng yang mengelilingi bagian lapangan parkir di samping gedung tersebut. Nampaknya sebuah bangunan baru akan didirikan di sana.

Ya, sebuah laboratorium doping sedang dikerjakan di kawasan ITB Ganesa Bandung. Pemerintah menggandeng ITB, khususnya keilmuan farmasi -satu-satunya jurusan kesehatan- untuk pembangunan laboratorium doping dengan tujuan menguji dan mengetahui hasil tes doping para atlet Indonesia.

Bangunan baru yang sedang dikerjakan itu merupakan laboraturium doping pertama di Indonesia. Doping merupakan salah satu istilah dalam olahraga yaitu penggunaan zat kimia tertentu yang memicu stamina tubuh, biasanya untuk meningkatkan performa atlet. Hal ini tentu dapat dianggap kecurangan dan menurunkan nilai sportvitas dalam olahraga.

Tak dapat dipungkiri, atlet Indonesia sekarang semakin terlibat di berbagai kompetisi olahraga, baik nasional hingga ke internasional. Tentu saja pemerintah ingin agar kualitas dan sportivitas atlet pun terus terjaga. Sayangnya, saat ini laboratorium uji anti-doping di Asia Tenggara yang terakreditasi oleh WADA (World Anti Doping Agency) sebagai badan akreditasi laboratorium pengujian doping berada di Penang, Malaysia dan Bangkok,Thailand dari 34 laboratorium sejenis di dunia. Kondisi ini tentu menyulitkan Indonesia yang semakin meningkat jumlah atletnya untuk secara rutin mengirimkan sampel pengujian anti-doping ke laboratorium pengujian doping di luar negeri.

Menurut situs resmi ITB sendiri, secara garis besar ada tiga tujuan dibangunnya laboratorium pengujian doping oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga ini, yaitu:

  1. Agar Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga melalui persatuan keolahragaan terkait dapat menyelenggarakan dan menjadi tuan rumah even olah raga nasional, regional dan internasional.
  2. Dapat memonitor atlet agar bebas doping, baik in competition maupun saat out of competition.
  3. Menghilangkan ketergantungan pengujian sampel uji doping ke laboratorium anti-doping di luar negeri.

Laboratorium antidoping  yang akan dibangun nanti berbasis laboratorium kimia analisis yang sebagian besar kegiatannya adalah pengujian sampel biologis (urin dan darah) atlet. Mahasiswa S2 Farmasi akan dilibatkan di dalamnya, beserta dengan dosen-dosen yang mengampu ilmu yang sesuai tentunya. Hasil pengujiannya tentu adalah fakta bahwa apakah atlet tersebut telah menggunakan zat-zat yang masuk dalam Prohibited List yang dikeluarkan oleh WADA.

Bangunan ini rencananya akan selesai di bulan Desember 2012. Memang sepertinya agak dikebut dalam pengerjaannya, namun tidak berarti mengurangi fungsi dan kualitasnya sebagai tempat yang dipercaya pemerintah pada ITB. Belum lama ini pun, kita melewati suatu hari olahraga nasional (9 September). Pekan Olahraga Nasional (PON) di Riau pun baru saja berakhir (9 September – 20 September 2012). Semoga saja di momen olahraga selanjutnya, laboratorium ini sudah dapat mendukung kualitas atlet nasional kita dan semakin banyak prestasi yang dapat ditorehkan untuk bangsa Indonesia.[]

 

Linda Agustina Surono/107 09 053/Sains dan Teknologi Farmasi

Posted in: jurnalistik