Berita Seputar Rohis Sarang Teroris oleh Metro TV ditanggapi dengan tantangan keras dari Gamais ITB

Posted on September 25, 2012

0


            Pemberitaan seputar pola rekrutmen teroris muda yang dilakukan oleh Metro-TV ternyata menimbulkan polemik dan memiliki informasi yang salah. Salah satu poin berita yang disorot oleh banyak pihak yaitu bahwa kaderisasi teroris masuk melalui program ekstra kurikuler di masjid-masjid sekolah (rohis). Keluarga Mahasiswa (Gamais) yang merupakan satu-satunya lembaga rohis resmi di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) mengemukakan pendapatnya bahwa banyak ketidakjujuran dan penyesatan opini yang memenuhi poin berita tersebut. Gamais ITB pun menambahkan pendapatnya bahwa kegiatan rohis erat hubungannya dengan perbaikan diri dan penebar kemaslahatan bukan kebencian dari para penggeraknya.

            Kabarnya,data yang dibeberkan Metro TV, itu merupakan hasil penelitian salah seorang sumber yang bernama Prof. Dr. Bambang Pranowo. Namun, pendapat yang salah itu menimbulkan banyak pertanyaan, khususnya terkait kesahihan data yang digunakan. Pemberitaan seputar rohis sarang teroris itu menuai berbagai kecaman, dan terkesan memberi dampak buruk kepada para penggerak rohis, sehingga memberikan ketakutan ketika mahasiswa mengikuti kegiatan rohis. Sebagai respon terhadap pemberitaan itu, banyak kecaman dan kekhawatiran yang muncul terhadap pemediaan ini. Bentuk kecaman dan kekhawatiran itu diungkapkan oleh para aktivis rohis sekolah,kampus dan para alumninya dalam bentuk media online (facebook,twitter,tumblr,email, berita online), media cetak (majalah, tabloid, koran) dan berbagai aksi protes untuk menentang pemberitaan menyesatkan itu. Harapan dari banyak orang adalah agar informasi berita menyesatkan itu tidak memberikan dampak buruk untuk para penggerak rohis ataupun memberikan ketakutan dari banyak orang dalam mengikuti kegiatan rohis.

Sebagai organisasi dakwah kampus nasional yang senantiasa membangun kemitraan dengan aktivitas rohis dan memiliki misi yang sama dalam memberikan perubahan karakter dan kemaslahatan yang luas, Gamais ITB belum lama ini di Bandung, 15 September 2012, menyatakan keprihatinannya via beberapa hal dan himbauan untuk masyarakat dalam menindaklanjuti pemediaan yang bisa menyesatkan opini tersebut, yaitu :

  1.  Keprihatinan Gamais ITB terhadap pemberitaan media nasional yang bisa menyesatkan opini publik terkait dengan rohis
  2. Gamais ITB menghimbau media nasional bersangkutan untuk mengklarifikasi ulang hingga meralat informasi sesat yang diberikan kepada masyarakat.
  3. Gamais ITB mengajak semua masyarakat agar tetap jernih dalam menilai segala bentuk pemberitaan di media yang belum jelas asal usulnya
  4. Gamais ITB mengajak orangtua dan para anak muda muslim agar jangan khawatir untuk beraktivitas bersama ekstrakulikuler sekolah khususnya ekstrakulikuler masjid (rohis).
  5.  Sebagai organisasi kemahasiswaan yang menjunjung tinggi integritas, sikap kritis, dan budaya penelitian, Gamais ITB mengundang pembicara Prof. Dr. Bambang Pranowo untuk menjadi salah satu pembicara dalam diskusi terbuka terkait dengan“Aktivitas Keislaman Pemuda” di Bandung. Selain itu, Gamais ITB mengundang Metro – TV untuk melakukan peliputan secara langsung.

Beberapa hal dan himbauan,sebagai bentuk pernyataan sikap Gamais ITB juga terhadap pemberitaan keliru dari Metro-TV,di atas itu dilontarkan dalam surat resmi Gamais ITB pada tanggal 15 September 2012 di kota Bandung yang dikemukakan langsung oleh ketua umum atau kepala Gamais ITB periode 2012, Adam Habibie dari jurusan Geologi ITB angkatan 2009.

Rupanya pernyataan sikap dari Gamais ITB dan berbagai aksi serta aktivitasdi media online dan cetak yang menentang pemberitaan keliru Metro-TV seputar rohis sarang teroris mulai membuahkan hasil. Metro-TV merasa kewalahan karena sudah dicap oleh banyak pihak di Indonesia sebagai stasiun televisi yang tidak kompeten dan juga terkesan buruk. Oleh sebab itu, Metro-TV lewat berbagai medianya telah meminta maaf kepada berbagai pihak rohis dan masyarakat Indonesia atas berita yang keliru tersebut dan  segera melakukan proses  klarifikasi terhadap beritanya tersebut.***

Ariesta Rakhmat Isfandito/10409022/Mikrobiologi ITB

Posted in: jurnalistik