Semarak Pemilu Presiden Mahasiswa di Kampus ITB

Posted on Maret 2, 2012

0


Oleh

Ghazi Binarandi (15008096)

BANDUNG (1/3) – Keluarga Mahasiswa ITB (KM-ITB) sedang menggelar perhelatan Pemilihan Umum Raya (disingkat Pemilu Raya atau Pemira) untuk memilih Presiden KM-ITB yang baru sehubungan dengan akan habisnya masa jabatan Presiden KM-ITB petahana, Tizar Satria Bijaksana. Kegiatan ini sudah rutin diadakan pada setiap tahun oleh organisasi yang beranggotakan seluruh mahasiswa S1 ITB tersebut. Namun bagaimanakah suasana kampus ITB dalam menghadapi suasana Pemilu Raya ini?

Rangkaian Pemilu Raya tahun ini berlangsung selama sekitar 1 bulan dan 1 minggu. Rangkaian ini dimulai sejak tanggal 1 Februari dengan dibukanya pengambilan berkas formulir pendaftaran calon Presiden. Terdapat tiga calon Presiden KM-ITB yang dinyatakan lolos verifikasi, yaitu Mohamad Asyhari Sastrosubroto (Teknik Sipil), Taufik Nurcahyo (Teknik Geologi), dan Anjar Dimara Sakti (Teknik Geodesi dan Geomatika). Setelah itu, Pemilu Raya memasuki masa kampanye dan rangkaian ini diakhiri dengan proses pemungutan (6-8 Maret) dan penghitungan suara (9 Maret).

Selama masa kampanye, kampus ITB diramaikan dengan berbagai publikasi kampanye yang dibuat oleh setiap calon Presiden untuk mengenalkan dirinya kepada segenap massa kampus. Terlihat berbagai poster, spanduk, serta selebaran tersebar di berbagai penjuru kampus.

Hal lain yang ikut menyemarakkan kampus di masa Pemilu Raya ini adalah dengan diadakannya rangkaian Hearing. Hearing adalah forum di mana seluruh calon Presiden menyampaikan konten yang mereka bawa dan dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab. Rangkaian Hearing yang dilaksanakan hampir setiap hari dalam dua minggu masa kampanye ini mendapat banyak kritik dari massa kampus. Dika Anindyajati, mahasiswa Teknik Material, berpendapat, “Pemira kali ini nggak manusiawi. Biarpun harusnya capres [calon Presiden—red] itu hebat, nggak tiap hari juga kali Hearing­-nya.”

Terobosan baru yang dibuat pada Pemilu Raya tahun ini ada pada sistem pemungutan suara yang digunakan. Untuk tahun ini, pemungutan suara menggunakan metode e-vote (electronic vote). Sistem ini membuat pemungutan suara dilakukan dengan menggunakan mesin yang sudah terprogram untuk menyimpan pilihan dari setiap pemilih untuk kemudian dihitung hasil keseluruhannya pada saat penghitungan suara. Digunakannya sistem e-vote ini mendapat tanggapan positif, seperti yang diutarakan oleh Anggara Hascaryanto, mahasiswa Teknik Geodesi dan Geomatika. “E-vote baik karena mempermudah perhitungan [suara—red],” ujarnya.

Perbedaan lain yang juga terdapat pada Pemilu Raya tahun ini adalah diberikannya hak pilih untuk mahasiswa Tahap Persiapan Bersama (TPB, mahasiswa tingkat satu). Di tahun-tahun sebelumnya, mahasiswa TPB tidak punya hak pilih pada Pemilu Raya sehingga hanya mahasiswa tingkat dua ke atas yang menjadi pemilih pada Pemilu Raya ketika itu. Namun meskipun sudah diberikan hak pilih, tingkat antusiasme mahasiswa TPB terhadap Pemilu Raya masih tergolong rendah. Hal ini ditunjukkan oleh data kehadiran mahasiswa TPB pada Hearing yang dikhususkan untuk mahasiswa TPB yang hanya dihadiri oleh rata-rata 18 hingga 19 orang per fakultas. Padahal, jumlah mahasiswa TPB per fakultas bisa mencapai lebih dari 300 orang.

Berbagai pengauraan yang telah dilakukan untuk membuat gaung Pemilu Raya ini terasa oleh seluruh mahasiswa ITB juga masih belum dirasakan oleh beberapa mahasiswa. Contohnya adalah Kusbandono, mahasiswa Seni Murni yang menyatakan, “Gua nggak tahu lagi ada Pemilu. Yang gua tahu cuma ada grup kampanye di Facebook dan ada banyak kontroversi di situ.”

Namun ada juga mahasiswa yang menyambut Pemilu Raya ini dengan antusias. Salah satunya adalah Gini Arimbi, mahasiswa Teknik Sipil. “Pemilu Raya ini proses penting untuk regenerasi Kabinet KM-ITB. Gagasan apa yang dibawa capres, sedikit-banyak akan mempengaruhi nasib 12.000 mahasiswa S1 ITB. Jadi, seharusnya semua orang sadar dan tahu tentang hal ini,” tegasnya.***

 

*penulis mahasiswa Teknik Sipil ITB

Ditandai:
Posted in: organisasi