Publikasi Karya Ilmiah, Penghambat atau Penyemangat?

Posted on Maret 2, 2012

0


Oleh

Helin Mayangsari

 

Mahasiswa Indonesia “panik” saat mengetahui isi surat edaran dari Direktur Jendral Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 27 Januari 2012 untuk seluruh perguruan tinggi di Indonesia yang berisi keputusan tentang syarat kelulusan untuk mahasiswa S1, S2 dan S3 PTN/PTS. Banyak tanggapan dan kritik bertebaran baik di media cetak maupun di media elektronik yang rata-rata kurang setuju dengan putusan DIKTI karena dinilai menghambat proses kelulusan mahasiswa. ”Perguruan tinggi swasta (PTS) memahami niat dan tujuan baik Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi yang menginginkan kualitas lulusan sarjana, magister, dan doktor meningkat, terutama terkait peningkatan jumlah karya ilmiah. Tetapi, publikasi ilmiah di jurnal ilmiah tidak harus dikaitkan dengan kelulusan mahasiswa,” kata Edy Suandi Hamid, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) dalam KOMPAS edisi 13 Februari 2012 lalu.

Putusan DIKTI ini tidak menutup kemungkinan munculnya suara-suara positif dari berbagai kalangan yang cukup mendukung adanya program ini. “Mahasiswa tingkat sarjana terlebih magister seharusnya sudah cukup kompeten untuk menulis karya ilmiah,” ucap Danni Utomo, mahasiswa S1 Meteorologi ITB.

Setiap jurnal memiliki suatu standar tertentu sehingga tidak semua karya ilmiah bisa dimasukkan ke dalam jurnal ilmiah nasional maupun internasional. Sulitnya akses kelulusan dikhawatirkan akan menurunkan tingkat kelulusan mahasiswa PTN/PTS sehingga dapat berdampak menurunnya minat siswa lulusan SMA/SMK untuk melanjutkan jenjang pendidikan formal ke tingkat perguruan tinggi. Andi Juandi Manaf, mahasiswa S2 Sains Kebumian ITB cukup mendukung program DIKTI ini walaupun banyak ketentuan yang belum jelas dari program ini. “Program ini bagus bila tujuannya menciptakan mahasiswa-mahasiwa yang mampu menulis karya ilmiah. Namun sampai saat ini masih belum jelas bagaimana prosedur penerimaan karya ilmiah dari mahasiwa ke DIKTI, dikhawatirkan akan ada jeda waktu yang nantinya malah akan jadi penghambat kelulusan,” ujarnya.

Sejak diedarkannya edaran tersebut pada akhir Januari 2012 lalu belum ada langkah terpadu dari pihak ITB untuk mensosialisasikan program ini pada pihak mahasiwa sehingga program ini terlihat masih simpang-siur kejelasannya. “Dari fakultas (FITB ITB) sendiri belum ada  kelanjutan dari surat edaran ini. Prosedur seleksi, standar kelayakan karya ilmiah dan bagaimana sistem kerja pelaksana ( Tata Usaha Program Studi) dalam pengarsipan karya ilmiah belum dijelaskan di surat edaran,” ujar Wawan, pegawai Tata Usaha Prodi Meteorologi ITB.

Tingkat kompetensi setiap mahasiswa PTN/PTS di Indonesia sejauh ini masih belum maksimal, hal ini disebabkan oleh sistem pendidikan sejak tingkat dasar yang kurang baik. Budaya mencontek dan plagiarisme (copy – paste) yang cukup kental pada kaum pelajar Indonesia berkontribusi banyak dalam sulitnya kemampuan menulis karya ilmiah berkembang di tingkat perguruan tinggi. Bila program ini benar-benar berjalan dengan efektif, rasa “terpaksa” bukan tidak mungkin timbul dari mahasiswa-mahasiswa yang berada di “garis akhir” masa perkuliahan. Butuh banyak kajian lebih lanjut mengenai prosedur penerimaan karya ilmiah yang dijadikan sebagai syarat kelulusan mahasiswa S1. S2 dan S3, terlebih persebaran kualitas dan orientasi pendidikan tiap PTN/PTS di Indonesia sangat beragam.***

 

Ditandai:
Posted in: pendidikan