Identitas yang Tertinggal

Posted on Maret 2, 2012

0


Oleh

Helin Mayangasari

Sebagai mahasiswa sudah tentu kita memiliki sebuah identitas atau simbol almamater yang salah satunya adalah jas almamater. Merupakan suatu kebanggan tersendiri saat kita berhasil lulus dalam sebuah seleksi mahasiswa baru dalam sebuah institusi ataupun unversitas yang sangat diinginkan, apalagi bila penjaringan yang harus dilalui sebelumnya sangat sulit dan melalui perjuangan yang cukup keras. Ya, jas almamater. Mahasiswa Institut Teknologi Bandung memiliki sebuah jas almamater (jamal) berciri khas berwarna biru tua yang konon dapat berganti warna sesuai kondisi atau sesuai jam matahari.

Ribuan siswa SMA seluruh pelosok negri sungguh menginginkannya, bahkan ada yang sampai rela menyebrangi tanah kampung halamannya demi mengadu ilmu dengan siswa-siswa sebaya lainnya di kota bunga ini. Namun kini, sebuah realita “lucu” terjadi. Jamal hanya dipakai pada masa orientasi siswa saat masuk ITB. Selebihnya kadang hanya jadi pajangan di lemari rumah atau kost-kostan, bahkan dari beberapa penuturan beberapa teman penulis ada yang sudah lupa dimana terakhir kali menyimpan jas almamaternya.

Dibandingkan mahasiswa-mahasiswa universitas lain di Indonesia, mahasiswa ITB umumnya lebih sering mengenakan jaket himpunan (jahim) dibandingkan jamal ke kampus maupun ke tempat selain kampus. Tidak jarang jahimlah yang dibawa sampai menyebrangi pulau Jawa untuk ditunjukkan pada orang tua dan sanak saudara di kampung halaman. “Terjadinya degradasi rasa memiliki dari jas almamater sendiri sudah berlangsung sejak dulu. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan dalam proses perjuangan untuk mendapatkan jas almamater dengan jahim (jaket himpunan) dimana lebih sulit mendapatkan jahim dibandingkan jamal.” ujar Andi, mahasiswa ITB angkatan 2002.

Saat seorang mahasiswa ITB mengenakan jamal sehari-hari, banyak mahasiswa ITB lain yang berkata “anak KM banget ya” atau “wah, aktifis KM nih!”. Komentar-komentar tersebut memberi pensosokan mahasiswa yang menggunakan jamal adalah mahasiswa yang aktif dalam kepengurusan Keluarga Mahasiswa (KM) ITB meskipun sebagian faktanya tidak seperti itu. “Kebanggan terhadap jurusan masing-masing cukup dominan di ITB. Ada beberapa mahasiswa yang menganggap bahwa jamal adalah ‘jaket himpunan’ yang dibanggakan oleh anak-anak KM (aktifis KM atau petinggi kabinet KM ITB), hal itu sebenarnya salah karena sebenarnya jamal adalah milik seluruh mahasiswa ITB yang merupakan bagian dari KM ITB itu sendiri.” ucap Bimo, mahasiswa ITB angkatan 2008.

Menurut pengakuan beberapa narasumber yang merupakan mahasiswa ITB, mereka lebih bangga mengenakan jahim dibandingkan jamal, bahkan sebagian besar mahasiswa ITB tingkat 2 ke atas, yang mayoritas sudah memiliki jaket himpunan jurusan masing-masing, tidak tahu pasti dimana mereka menyimpan jas almamater mereka. Apakah hal tersebut menunjukkan bentuk lain dari arogansi mahasiswa ITB terhadap almamaternya? Apakah sebuah identitas asal yang merupakan pintu gerbang menuju identitas lainnya harus “ditinggalkan”? Kebanggaan akan suatu hal bersifat subjektif, tergantung bagaimana kita menjadikannya sebagai jembatan menuju sebuah kesuksesan.***

Ditandai:
Posted in: organisasi