Workshop Jurnalistik dan Multimedia, Menanamkan Keberpihakan Media terhadap Masyarakat kepada Mahasiswa

Posted on Maret 1, 2012

0


oleh

Nur Aini Annapurna

(12908031)

“Kita boleh menampar pipinya berkali-kali, tapi tidak boleh mencolok matanya,” begitu analogi yang diberikan oleh Alexander Wibisono, salah seorang narasumber Workshop Jurnalistik dan Multimedia yang diadakan pada Sabtu (25/2) mengenai bagaimana seorang jurnalis harus bersikap terhadap subyek beritanya. Analogi tersebut memberikan pelajaran berharga kepada peserta pelatihan, yaitu bahwa seorang jurnalis harus bisa bersikap kritis dan diperbolehkan mengkritik habis-habisan, namun tidak boleh sampai menyudutkan.

 

Pelatihan jurnalistik yang terselenggara atas kerjasama Himpunan Mahasiswa SITH “NYMPHAEA” serta Keluarga Mahasiswa ITB dalam rangka Pekan Media dan Jurnalistik ITB 2012 di Auditorium CC Timur kampus Institut Teknologi Bandung itu memang berupaya untuk menimbulkan jiwa seorang jurnalis dalam pesertanya. Betapa tidak, selain narasumber-narasumber yang berasal dari media massa terkemuka, bahkan MC-nya pun pada kesehariannya memiliki pekerjaan sebagai news anchor, atau pembaca berita di Stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI) Jawa Barat.

Pelatihan yang berlangsung selama enam jam ini tidak menyurutkan minat peserta, terlihat dengan kursi-kursi di auditorium yang hampir semuanya terisi penuh. Peserta yang merupakan mahasiswa ITB mengikuti pelatihan dengan bersemangat, terbukti dengan berbagai pertanyaan yang memberondong para narasumber di akhir setiap sesi.

Sesi pertama diisi oleh materi “Jurnalisme Dasar” yang disampaikan oleh Alexander Wibisono, Kepala Peliputan KompasTV. Materi yang diberikan oleh Alexander berisi dasar-dasar jurnalisme, termasuk tujuan dasar profesi jurnalis serta teknik-teknik jurnalistik.

“Intinya, pekerjaan seorang jurnalis itu subjektif, karena kita berpihak kepada masyarakat, yaitu bagaimana kita melindungi hak-hak publik,” papar Alexander, “karena seorang jurnalis itu memiliki akses ke berbagai lapisan masyarakat, dari rakyat hingga jajaran pemerintah. Media muncul ke kehidupan bukan untuk memperkeruh suasana, tetapi untuk mencerahkan.”

Pelajaran-pelajaran mengenai jurnalisme tersebut dipertegas dengan diskusi mengenai berbagai peristiwa yang tengah hangat dibicarakan oleh masyarakat, salah satunya adalah mengenai mobil SMK. Bagaimana media tidak hanya menyampaikan berita buruk seperti kasus-kasus korupsi, namun juga menyampaikan berita baik seperti mobil SMK tersebut.

Selanjutnya, sesi kedua diisi oleh Firman Firdaus, lulusan jurusan Kimia Universitas Indonesia yang kini berprofesi sebagai Editor National Geographic Indonesia. Firman memberikan pelatihan menulis karya ilmiah populer dengan judul pelatihan “Mengasah Pena Kaum Cendekia”. Tujuan dari pelatihan sesi ini adalah mengajarkan bagaimana cara seorang ilmuwan menulis ilmiah di media massa dalam bentuk sains populer. Sains populer sendiri dapat diartikan sebagai penyampaian informasi ilmiah yang tidak ditujukan untuk para pakar di bidang terkait, sehingga informasi di dalamnya disajikan dengan gaya yang ringan, menghibur dan sederhana. Sifat-sifat ini sangat membedakan karya sains populer dengan makalah.

Selain penjelasan mengenai aspek-aspek teknis dalam menyusun suatu karya ilmiah poluer, salah satu hal yang disampaikan oleh Firman adalah modal utama menulis, yaitu menulis, menulis dan menulis. Artinya, tidak ada hal lain yang dibutuhkan seseorang untuk menulis selain niat dan usaha.

Setelah makan siang, dilanjutkan sesi ketiga, yaitu Workshop Multimedia dengan judul “Pelatihan Adobe InDesign” yang diberikan oleh Panji Wicaksono, alumni Teknik Geofisika ITB 2006 yang sekarang bekerja di Majalah ENERGI.

InDesign merupakan salah satu software yang dikeluarkan oleh Adobe untuk mendesain berbagai jenis publikasi. Pelatihan yang diberikan oleh Panji khususnya mengajarkan tentang bagaimana InDesign dapat digunakan untuk mendesain sebuah majalah. Setelah menjelaskan teknis-teknis penggunaan InDesign, Panji menegaskan bahwa satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah komposisi, karena komposisi sangat berpengaruh terhadap keindahan suatu halaman serta kemudahan seorang pembaca membaca apa yang disajikan dalam suatu halaman.

Berbagai materi telah diberikan dan pertanyaan-pertanyaan telah terjawab. Masyarakat tinggal menunggu bagaimana hasil pelatihan jurnalistik ini mengasah kemampuan serta kepekaan para cendekia muda ITB dalam bidang media sebagai salah satu bentuk kontribusi bagi bangsa.

 

*penulis mahasiswa Oseanografi 2008, email: ainiannapurna@gmail.com

 

Ditandai:
Posted in: jurnalistik