TANGGAPAN DARI SEBAGIAN MASYARAKAT ITB TENTANG SYARAT KELULUSAN DIKTI

Posted on Maret 1, 2012

0


Oleh

Irlyvara Nandini (10409032)

Bandung—Surat dari Dikti yang ditujukuan ke PNS/PTS di seluruh Indonesia dianggap membingungkan. Surat tersebut menyatakan bahwa setiap mahasiswa S1, S2, S3 yang akan lulus disyaratkan untuk membuat jurnal ilmiah. Hal ini dikarenakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Indonesia masih sangat sedikit, hanya sepertujuh dari jurnal yang dikeluarkan oleh Malaysia. Tanggapan dosen dan mahasiswa ITB adalah sebagai berikut.

Surat yang dikeluarkan pada tanggal 7 Februari 2012 dan ditandatangani oleh Djoko Santoso itu sempat membuat gempar universitas di Indonesia.  Terdapat tiga poin penting dari surat tersebut, yaitu untuk lulus program Sarjana (S1) sebagai syarat lulus harus menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah; untuk lulus program Magister (S2) sebagai syarat lulus harus telah menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah nasional, diutamakan yang terakreditasi Dikti, dan untuk lulus program Doktor (S3) sebagai syarat lulus harus telah menghasilkan makalah yang diterima untuk terbit pada jurnal internasional. Peraturan ini akan berlaku pada kelulusan kuliah setelah Agustus 2012.

Alasan lain peraturan ini dibuat, menurut Bapak Djoko Santoso selaku Dirjen DIkti, selain jurnal ilmiah yang hanya dikeluarkan hanya satu pertujuh dari yang dikeluarkan oleh Malaysia, karena jumlah publikasi ilmiah dari perguruan tinggi Indonesia yang terindeks dalam basis data jurnal dan prosiding penelitian internasional, seperti Scopus dan Google Scholar, masih sangat rendah.

Salah seorang dosen prodi Mikrobiologi ITB, Renni Suhardi, berpendapat bahwa kebijakan mensyaratkan mahasiswa program S-1 untuk menerbitkan paper-nya dalam jurnal ilmiah sangatlah berlebihan. “Yang wajib menerbitkan paper di jurnal ilmiah adalah peneliti. Seorang sarjana belum bisa disebut peneliti karena mahasiswa S-1 baru siap dikembangkan menjadi peneliti. Banyak jurusan yang tidak mensyaratkan mahasiswanya untuk membuat skripsi, tetapi dengan tugas akhir berupa studi lapangan, studi perbandingan, atau studi kasus. Pendidikan S-1, S-2, dan S-3 di negeri maju, seperti Amerika Serikat, tak pernah mensyaratkan mahasiswa menulis makalah di jurnal agar dapat lulus. Umumnya, program S-1 dan S-2 di negara maju dilakukan dengan jalur non-skripsi dan non-tesis. Mahasiswa S-3 di negara maju otomatis akan menuliskan hasil risetnya di jurnal ilmiah internasional karena disertasinya pasti bernilai ilmiah. Biasanya mereka menulis makalah setelah lulus,” kata Renni Suhardi, dosen prodi Mikrobiologi, SITH-ITB. “Surat edaran Pak Dirjen bisa saja dilaksanakan. Hanya, ada dua masalah. Pertama, siapa yang mau membaca ribuan makalah setiap bulan itu yang ditulis oleh mahasiswa yang belum lulus dan yang banyak akan lulus dengan nilai B atau C? Apa Dikti sendiri bisa mengecek 1.450.000 halaman makalah-makalah itu? Namun, dan itu masalah kedua, kalau mahasiswa tahu bahwa makalahnya tidak mungkin dibaca dengan sungguh-sungguh, mereka tidak punya motivasi apa pun untuk menulis sesuatu yang bermutu. Dan bagaimana dengan lulusan S1 Luar Negeri yang tidak menerbitkan paper ? Apakah akan tidak diakui ?”

Sedangkan menurut beberapa mahasiswa ITB yang sedang melakukan tugas akhir atau skripsi ini berpendapat, peraturan baru ini memberatkan mereka karena menyebabkan waktu kelulusan menjadi tidak tentu (ITB dalam satu tahun menyelenggarakan tiga kali wisuda, yaitu pada bulan April, Juli, dan Oktober). beberapa mahasiswa lain yang belum lulus dan juga sedang melakukan tugas akhir bertekad untuk cepat-cepat menyelesaikan tugas akhirnya supaya lulus pada bulan Juli tahun ini, supaya peraturan DIKTI ini berpengaruh kepada kelulusan mereka.

Berdasarkan website resmi ITB, ITB sendiri sudah memiliki beberapa jurnal yang telah diakreditasi oleh Dikti, yaitu ITB Journal of Science yang terakreditasi B, ITB Journal of Engineering Science dan diakreditasi B, dan ITB Journal of Information and Communication Technology yang mendapat akreditasi A.***

 

*Penulis mahasiswa Mikrobiologi, kontak irlyvara@gmail.com

Ditandai:
Posted in: pendidikan