Rahasia Kantong Biodiversitas di Institut Teknologi Bandung

Posted on Maret 1, 2012

0


Oleh

Danni Gathot H.

 

Institut Teknologi Bandung merupakan salah satu perguruan tinggi di Indonesia yang diprediksi menjadi perguruan tinggi berskala internasional. Tuntutan tersebut menjadi salah satu daya saing dengan perguruan tinggi nasional lainnya. Kepedulian terhadap lingkungan pun menjadi salah satu suasana yang dikemas menjadi sebuah isu ecocampus. Isu tersebut memberikan sebuah “label” tersendiri untuk menjajaki peringkat perguruan tinggi berskala internasional. Dari keseluruhan misi tersebut, biodiversitas menjadi titik temu dari isu ecocampus tersebut.

Seperti yang dilakukan oleh Kelompok Pengamat Burung Nymphaea ITB, isu biodiversitas tersebut diangkat menjadi garis merah dalam melindungi keanekaragaman di area ganesha. Inventaris tahunan dan evaluasi lingkungan menjadi ide utama dari kajian yang dilakukan. Dari hasil evaluasi tahun 2011, sekitar 43 spesies burung dapat ditemukan disekitar kampus ITB. Area pengamatan mencakupi Babakan Siliwangi, Kampus ITB, dan Taman Ganesha. Jumlah ini menjadi sangat luar biasa jika dibandingkan dilokasi-lokasi lainnya yang ada di kota Bandung, yang hanya dapat ditemukan 10 – 20 spesies burung dan dari hasil olah data ini dapat disimpulkan bahwa ITB menjadi kantung biodiversitas di region kota Bandung.

 Hasil hasil studi kelompok pengamat burung tersebut menunjukan bahwa area kampus Instutut Teknologi Bandung dapat dibagi berdasarkan sector-sektor khusus yang dibedakan berdasar susunan vegetasinya. Susunan vegetasi tersebut membentuk habitat sendiri bagi biota yang ada didalamnya, khususnya avifauna. Hal tersebut dapat diamati seperti yang terdapat di daerah jalan utara Student Center. Susunan pohon dammar (Agathis dammara) yang menyusun area tersebut menjadi titik penemuan burung jalak jawa (Acridoteres javanicus) tertinggi dibanding lokasi lainnya di Institut Teknologi Bandung. Beberapa spesies burung lainnya juga ditemukan di formasi vegetasi di selatan gedung Perpustakaan Pusat ITB, dilokasi tersebut umum ditemukan burung-burung kecil (8-12cm), diantaranya adalah burung madu sriganti (Nectaria jugularis) burung cabe jawa (Dicaeum trochileum), burung cinenen (Othotomus ruficeps), dan burung kacamata (Zosterops flavus).

Dari hasil pengamatan, beberapa spesies burung di Institut Teknologi Bandung tersebut memiliki preferensi habitat yang khusus. Pemilihan lokasi-lokasi untuk mencari makan, bersarang, ataupun berinteraksi menjadi unik diamati lebih detail. Sebagai kampus yang memiliki label ecocampus seharusnya tidak hanya memperhatikan permasalahan energi, sampah dan air. ada hal lainnya yang menjadi inti dari label ecocampus tersebut, keselarasan antara aktifitas kampus dengan lingkungan alam sekitar justru menjadi titik puncak dari keberhasilan label kampus tersebut. Seluruh aktiftas yang ada di kampus seharusnya bermuara pada keselarasan hal tersebut untuk mencapai lingkungan yang asri, nyaman, dan berkelanjutan. Isu pengembangan fasilitas dan pembangunan berkala yang akan dicanangkan oleh ITB pada tahun 2013 ini harusnya juga memperhatikan dampaknya terhadap keanekaragaman hayati serta metode-metode pembangunan yang tepat di masa depan. Dengan demikian Konsep ecocampus yang dibawa oleh institusi ini akan tetap menjadi garis utama untuk mencapai level perguruan tinggi berskala internasional.***

 

*penulis mahasiswa Jurusan Biologi

 

Ditandai:
Posted in: lingkungan