Mantan Mahasiswa ITB Bunuh Diri

Posted on Maret 1, 2012

0


Oleh

Glenda Gloria (10608066)

 

Minggu (19/2) pagi, daerah Ciumbuleuit, Bandung digegerkan dengan ditemukannya mayat laki-laki di sebuah rumah kos Jl Ciumbeuleuit Nomor 83 RT06/02. Mayat laki-laki ini diketahui eks mahasiswa ITB jurusan arsitektur angkatan 2007.

Ricky Ardianto, pria kelahiran Jakarta, 24 januari 1989 diduga tewas akibat aksi nekad bunuh diri dengan meloncat dari ketinggian 12 meter di lantai 3 kosannya. Warga yang menemukan korban menyebutkan bahwa posisi korban sudah terlentang dengan luka di bahu kanan, punggung, patah kaki dan hidung yang mengeluarkan darah. Saat itu korban mengenakan kaos pendek hitam dan celana pendek abu-abu.

Warga yang membawa korban ke RS Advent mengatakan bahwa korban masih sempat bernapas selama perjalanan, namun sesampainya di RS Advent nyawa korban tidak sempat terselamatkan lagi.

Menurut salah satu warga yang ditemui di lokasi kejadian, korban sempat terlihat sedang mondar-mandir di atap indekosnya seperti orang yang sedang mempunyai masalah. “saya sempat melihat korban ketika hendak pergi ke warung, korban Nampak sedang resah sambil memegang rambutnya dan berjalan mondar-mandir, saya tidak mengira korban bakal loncat dari lantai 3 kosnya tersebut” ujar Ayi, 40. Tetangga korban Asep Suarsa (42) sempat mendengar teriakan dan suara benda jatuh sekitar pukul 7.45.

Menurut Kanit Reskrim Polsekta Cidadap AKP Sugeng Gaib Rahayu, motif dari pelaku masih belum diketahui dan masih dalam proses penyelidikan. Beliau mengaku tidak menemukan barang bukti apapun saat memeriksa kosan pelaku. Namun pihaknya akan mencoba memeriksa isi laptop dan ponsel korban. Sementara ini sudah empat saksi yang dimintai keterangan terkait kejadian tersebut. Mereka dua rekan Ricky dan dua satpam yang bekerja di sekitar tempat kejadian.

Salah satu teman dekat korban, Hendra, mengaku sempat jalan bareng makan malam. Saat itu korban terlihat seperti biasa saja dan tidak menyinggung mengenai permasalahan yang dialaminya. Namun pacar korban belum bisa dimintai keterangan karena masih syok akibat kejadian ini.

Menurut Direktur Humas ITB Marlia Singgih, Ricky memang sempat terdaftar sebagai mahasiswa ITB namun sudah keluar dari ITB sejak 2008 dengan drop out. Keluarnya Ricky diduga karena nilai akademis yang kurang hal ini dikarenakan selama kuliah di ITB, tidak ditemukan catatan buruk mengenai tindakan indispliner yang dilakukan korban. Setelah itu Ricky mendaftar ke Universitas Parahyangan dengan jurusan yang sama yakni arsitektur. Hal ini yang memungkinkan Ricky kos di daerah Ciumbuleuit.

Bunuh diri sendiri dapat diakibatkan oleh beberapa faktor seperti yang disebutkan oleh Psikiater RSHS Bandung dr Teddy Hidayat, bisa dikarenakan oleh masalah akademis, percintaan, atau masalah keluarga. Melihat kasus yang dialami Ricky ini, kemungkinan besar korban memiliki masalah yang tidak bisa diselesaikan sendiri, sehingga tingkat stress korban memuncak dan akhirnya keputusan bunuh diri dilakukan sebagai cara menyelesaikan masalah.

Belakangan aksi bunuh diri menjadi trend di masyarakat, banyak orang mengambil jalan pintas untuk mengakhiri masalahnya dengan mengakhiri hidupnya juga. Banyak keputusan untuk melakukan bunuh diri tergantung pada cara menyikapi berbagai masalah. Tekanan dan masalah yang datang secara bertubi-tubi dapat mempengaruhi mental seseorang sehingga perlahan dapat melemah dan memperkuat keinginan untuk bunuh diri. Menurut Ida Rochmawati (Psikiater RSUD WOnosari) ada tiga faktor penyebab bunuh diri yakni aspek biologis, psikiatris dan sosiologis.

Aspek biologis ditandai dengan rasa sedih berlebihan, merasa bersalah dan pesimistis. “Pada aspek ini terjadi penurunan neurotransmitter di otak yang bernama serotonin yang mengakibatkan gangguan perasaan” jelasnya. Dari sisi psikiatris, 80% penyebab bunuh diri terjadi akibat depresi, penyakit kronis dan kesepian. Sedangkan dari sisi sosiologis, sebagian masyarakat memiliki anggapan bahwa bunuh diri sebagai salah satu alternatif pemecahan masalah.

Jika pikiran tetap dijaga positif maka segala masalah yang terjadi tidak akan menjadi sesuatu yang begitu menghancurkan. Keinginan untuk bunuh diri seperti sebuah penyakit. Namun dengan penanganan yang tepat, keinginan itu dapat diobati dan disembuhkan.***

 

 

 

 

Ditandai:
Posted in: peristiwa