Mahasiswa SITH ITB Mengajak Masyarakat untuk Budidaya Jamur Tiram

Posted on Maret 1, 2012

0


oleh 

Afina Nuur Farma Megaelectra (10409002)

“Ilmu hayati merupakan ilmu yang sangat mudah diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Untuk itu kami ingin mengenalkan aplikasi ilmu hayati ke masyarakat melalui Workshop Budidaya Jamur Tiram ini,” Ujar Navisan Najia sebagai ketua acara workshop.

Bandung-Himpunan Mahasiswa Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB, Nymnphaea pada tanggal 25 Februari kemarin menyelenggarakan Workshop Budidaya Jamur Tiram yang bertetmpat di Gedung Oktagon ITB. Workshop ini diikuti oleh 56 peserta, dimana 25 diantaranya merupakan warga RW 04 yang berada di dekat lingkungan ITB.

Workshop ini terdiri dari dua sesi, yaitu seminar dan praktik membuat baglog (media pertumbuhan) jamur dan penumbuhan bibit jamur secara langsung. Pada sesi seminar yang diadakan pada pukul 09.30-10.45, peserta diajak untuk mengetahui seluk-beluk pembudidayaan jamur. Seminar yang diadakan ini bersifat interaktif dua arah sehingga peserta dapat bertanya secara langsung jika terdapat hal yang kurang jelas. Seminar ini dibawakan oleh Rizal Anshori, salah satu alumni Biologi ITB 2006 yang saat ini merupakan pemilik Morfonesia. Morfonesia merupakan perusahaan yang bergerak di bidang agribisnis.

Setelah sesi seminar selesai, peserta diajak untuk membuat baglog (media pertumbuhan) jamur secara langsung di luar ruangan. Peserta dibagi menjadi empat kelompok besar dimana setiap kelompok memiliki mentor sebagai pendamping kelompok. Media pertumbuhan ini terdiri dari serbuk gergaji kayu, dedak, kapur, tepung jagung, gula, pupuk, dan air. Seluruh komponen media pertumbuhan dicampurkan dan ditimbang menjadi satu ke dalam suatu wadah plastik tahan panas. Masing-masing peserta diberikan kesempatan untuk membuat media pertumbuhan sendiri.

Setelah selesai waktu istirahat, pada pukul 12.45 WIB peserta kembali masuk ke ruangan untuk melakukan studi kasus. Studi kasus tersebut memberikan pandangan kepada peserta mengenai permasalahan yang dapat terjadi dan bagaimana mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu contoh kasus yang diberikan seperti permasalahan tata letak ruangan sterilisasi dengan ruangan penyimpanan.

Sesi selanjutnya adalah inokulasi bibit (penumbuhan bibit) ke dalam media pertumbuhan. Pada sesi ini peserta kembali diajak keluar ruangan untuk praktik secara langsung memasukan bibit jamur ke dalam media pertumbuhan. Media pertumbuhan yang tadi telah dibuat oleh peserta diganti dengan media yang sudah steril. Hal ini dikarenakan proses sterilisasi sebelum penginokulasian bibit sangat diperlukan. “Proses sterilisasi tidak dilakukan langsung oleh peserta. Selain dikarenakan peralatan yang kurang memungkinkan untuk dibawa ke sini, permasalahan waktu juga menjadi kendala. Hal ini dikarenakan proses sterilisasi membutuhkan waktu yang cukup lama,” ujar salah satu panitia yang sedang bertugas saat itu. Proses sterilisasi dilakukan untuk mencegah media pertumbuhan terkontaminasi oleh mikroorganisme lain yang dapat menghambat pertumbuhan jamur. Bibit jamur yang sudah diinokulasikan ke dalam media pertumbuhan dapat dibawa pulang oleh peserta.

Saat acara penutupan, terdapat doorprize yang dibagikan kepada tiga orang peserta yang beruntung. Doorproze yang diberikan merupakan salah satu contoh aplikasi budi daya jamur tiram yaitu nugget jamur. Nugget yang bernama Fan Jai Nugget ini merupakan usaha pembudidayaan jamur tiram yang dilakukan oleh alumni SITH.***