ITB Multikampus: Baik atau Buruk?

Posted on Maret 1, 2012

0


Oleh

Ghazi Binarandi (15008096)

 

ITB sedang menyusun rencana pengembangan jangka panjang dengan membuka beberapa kampus baru di luar kampus pertamanya yang terletak di Jalan Ganesha nomor 10. Kebijakan ini dipercaya mampu mendukung cita-cita ITB untuk menuju world class university. Namun, benarkah kebijakan multikampus yang akan diterapkan ITB ini akan membawa dampak yang positif?

Diterapkannya kebijakan ITB multikampus ini dilatarbelakangi kondisi bahwa kampus di Jalan Ganesha nomor 10 (ITB Ganesha) sudah tidak lagi mampu menampung kapasitas dari berbagai kegiatan di ITB. Bahkan Kementerian Advokasi Kebijakan Kampus Keluarga Mahasiswa ITB menyebutkan bahwa jumlah mahasiswa dikampus ITB Ganesha saat ini sudah melampaui batas, yaitukini ada sebanyak 20.000 mahasiswa dari daya tampung yang seharusnya hanya sejumlah 15.000 mahasiswa. Kebijakan pengembangan ITB multikampus merupakan bagian dari Strategi Jangka Panjang ITB untuk mencapai Visi 2010 ITB dan Rencana Induk Pengembangan (RIP) ITB. Kebijakan multikampus ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas riset serta mendukung pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas teknologi dalam skala regional maupun nasional.

Dengan diterapkannya kebijakan ITB multikampus, muncul istilah On-G Campus dan Kampus Off-G Campus. Istilah On-G Campus merujuk pada kampus ITB Ganesha sedangkan kampus-kampus ITB lain di luar itu akan disebut sebagai Off-G Campus.

Off-G Campus terdiri dari beberapa kampus, seperti kampus ITB Jatinangor (terletak Jalan Winaya Mukti nomor 1, Jatinangor), kampus ITB Walini (terletak di perkebunan Teh Walini), dan ITB Bekasi. Bahkan, ada isu yang mengatakan bahwa ITB juga akan membuka kampus di Malaysia, namun hal ini baru sebatas wacana meskipun ITB telah membentuk tim untuk melakukan studi kelayakan terhadap peluang ini. Off-G Campus ini nantinya akan lebih banyak difungsikan sebagai tempat dibangunnya pusat-pusat unggulan ITB, pusat kegiatan yangbekerjasama dengan berbagai kekuatan masyarakat dan industri, tempat inkubator bisnis,pusat kegiatan masyarakat binaan ITB, danpusat-pusat pemberdayaan masyarakat. Selain itu, Off-G Campus juga berfungsi sebagai kawasan untuk memamerkan potensi ITB di bidang industri (industrial exposer). Off-G Campus juga mengedepankan keseiringan perkembangan dengan pihak masyarakat dan industri dalam membangun berbagai pilot plant teknologi ITB.

Nantinya,kampus Jatinangor juga akan dimanfaatkan untuk kegiatan akademik mahasiswa, selain kampus Ganesha. Dalam hal ini, ITB mendapat keuntungan karena kampus ITB Jatinangor merupakan bekas akuisisi dari kampus milik Universitas Winaya Mukti sehingga kampus ini memiliki beberapa peninggalan fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan perkuliahan seperti laboratorium, ruang kelas, serta perpustakaan.

Pada awalnya, kampus ITB Jatinangor ini direncanakan akan digunakan oleh mahasiswa Tahap Persiapan Bersama (TPB, tingkat satu), namun kebijakan ini ternyata belum siap untuk diterapkan dalam jangka pendek ini. Hal ini disebabkan karena fasilitas fisik kampus yang belum mendukung (banyak fasilitas saat ini dalam kondisi rusak) serta terdapat penolakan dari beberapa dosen yang mengajar mahasiswa TPB. Akan tetapi, kebijakan penempatan mahasiswa TPB di kampus Jatinangor tetap akan dituju karena ini mendukung rencana ITB untuk mewajibkan mahasiswa tingkat satunya untuk tinggal di asrama (yang tidak mungkin dilakukan pada kampus Ganesha karena keterbatasan lahan). Menurut Prof. Indratmo, Koordinator Kampus ITB Jatinangor, ITB telah bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk membangun asrama yang nantinya akan ditempati oleh seluruh mahasiswa di ITB Jatinangor. Hingga saat ini, rencana penggunaan kampus ITB Jatinangor akan dikhususkan untuk mahasiswa dari program studi Rekayasa Hayati dan dua program studi yang baru saja disahkan pembentukannya oleh ITB, yaitu Rekayasa Pertanian dan Rekayasa Kehutanan. Rencana ini akan mulai diterapkan mulai tahun ajaran 2012/2013 bagi mahasiswa tingkat dua dari program studi-program studi tersebut.

Kebijakan ITB multikampus ini masih menjadi perdebatan di lingkungan ITB, termasuk di kalangan mahasiswa. Banyak pihak yang menyatakan pro terhadap kebijakan ini dan banyak pula yang menyatakan kontra. Kebanyakan dari pihak yang kontra masih meragukan kesiapan ITB dalam menyambut kebijakan multikampus ini, meskipun mereka sepakat dengan peluang baik yang bisa diraih jika kebijakan multikampus ini diterapkan di ITB. Dengan melihat masalah keterbatasan lahan jika ITB hanya menggunakan satu kampus saja, satu-satunya solusi untuk memecahkan masalah ini adalah dengan menambah lahan kampus. Hal ini sangat sulit jika dilakukan di kampus Ganesha karena lokasi ITB Ganesha yang terletak di pusat kota yang padat sehingga sulit untuk mencari lahan tambahan sehingga kebijakan multikampus ini merupakan solusi paling ultima hingga saat ini yang dapat dipikirkan. Kebijakan multikampus ini juga bukan yang pertama kalinya diterapkan pada suatu perguruan tinggi. Banyak perguruan tinggi terkenal di luar negeri sudah menerapkan kebijakan ini, bahkan beberapa perguruan tinggi di Indonesia pun juga sudah menjadi multikampus seperti Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor. Melihat pada pola kecenderungan dari kebijakan yang diterapkan oleh perguruan tinggi-perguruan tinggi tersebut, wajar jika ITB pun menggunakan pola kebijakan yang sama.

Namun, perlu dicermati bahwa kebijakan multikampus ini tidak akan berjalan dengan baik jika tidak didukung oleh seluruh elemen kampus, misalnya dari sisi kemahasiswaan. Akan sangat disayangkan jika nantinya mahasiswa yang berkuliah di Jatinangor tidak mendapat kegiatan kemahasiswaan selayaknya mahasiswa yang berkuliah di ITB Ganesha seperti Unit Kegiatan Mahasiswa karena kegiatan-kegiatan yang bersifat ekstrakurikuler seperti ini juga penting untuk pengembangan karakter mahasiswa.

Jadi,  apakah kebijakan ITB multikampus ini bisa membawa dampak yang positif bagi ITB di masa yang akan datang? Jawabannya tergantung dari seluruh elemen kampus ITB itu sendiri. ***

*penulis mahasiswa  Teknik Sipil, kontak ghazi.binarandi@gmail.com

Ditandai:
Posted in: pendidikan