Akhirnya, Tiga Warna Menghiasi Pesta Demokrasi Mahasiswa ITB

Posted on Maret 1, 2012

0


oleh

Yahdini Qornin  (10409009)

Setelah proses verifikasi yang cukup panjang, akhirnya pada tanggal 20 Februari 2012 didapatkanlah tiga nama calon presiden KM ITB yang disahkan oleh Kongres KM ITB. Ketiga nama tersebut adalah Anjar Dimara Sakti (Teknik Geodesi 2008), Mohamad Asyhari Sastrosubroto (Teknik Sipil 2008), dan Taufik Nurcahyo (Teknik Geologi 2008).

Menurut Ketua Bidang Sistem Pemilu, Ikhyan Dwi Kurniawan (Teknik Mesin 2008), untuk mendapatkan nama calon presiden, panitia Pemilu Raya kali ini dituntut untuk bekerja lebih keras dan lebih lembur, karena verifikasi bakal calon presiden dilakukan hingga tiga kali. Padahal sebenarnya verifikasi bisa hanya dilakukan satu kali saja bila bakal calon memenuhi seluruh persyaratan. Verifikasi merupakan proses pengecekan berkas persyaratan agar menjadi calon presiden. Bila bakal calon lolos pada proses verifikasi, bakal calon tersebut berubah statusnya menjadi calon presiden KM ITB. Dengan dilakukannya verifikasi hingga tiga kali, kegiatan kampanye menjadi mundur dari timeline yang sudah direncanakan dan kampanye akan dipadatkan karena panitia ingin Pemilu selesai sebelum masa UTS agar tidak mengganggu kegiatan akademis. “Hal itu membuat kami sebagai panitia, juga calon presiden beserta promotor dan tim sukses harus bekerja lebih keras”, tambah Ikhyan.

Mengenai penyebab mundurnya timeline Pemilu, Ikhyan memberi penjelasan yang panjang lebar. Awalnya ada empat orang yang mengambil formulir pendaftaran bakal calon presiden, yaitu Muhammad Asyhari yang dikenal dengan nama Ari, Anjar Dimara Sakti, Taufik Nurcahyo dan Mirza Ardian. Dari keempat orang tersebut, hanya Ari dan Anjar saja yang mengumpulkan kembali formulir dan berbagai persyaratan. Taufik terlambat enam menit dari waktu yang telah ditentukan sehingga tidak diterima oleh Panitia Pemilu Raya, sedangkan Mirza memang tidak mengumpulkan kembali formulir dan persyaratan. Setelah dilakukan verifikasi, baik Ari maupun Anjar tidak ada yang berhasil lolos menjadi calon presiden karena Ari kurang dukungan yang sah dari jurusan Tambang sedangkan Anjar kekurangan dukungan yang sah dari jurusan Seni Rupa.

Karena tidak ada bakal calon yang lolos, panitia Pemilu Raya membuka kembali pendaftaran calon presiden tahap dua. Ari, Anjar dan Taufik kembali mengambil formulir pendaftaran calon presiden dan diberi waktu selama satu minggu untuk mengembalikan formulir beserta berbagai persyaratannya. Setelah satu minggu ketiganya berhasil mengumpulkan formulir dan seluruh persyaratannya tepat waktu, namun hanya Anjar saja yang lolos dalam proses verifikasi. Ari dan Taufik tidak lolos verifikasi karena kurangnya dukungan yang sah.

Menurut kongres KM ITB, bila hanya ada satu calon saja yang lolos, proses pendaftaran harus diulangi lagi, tapi melihat waktu yang sudah sangat sempit, kongres memutuskan kedua bakal calon yang tidak lolos verifikasi diberi waktu selama 24 jam untuk melengkapi lembar dukungan yang masih tidak sah, sedangkan Anjar tidak perlu melengkapi lagi karena dia sudah berstatus calon presiden.

Ternyata tidak sia-sia usaha tim Ari dan Taufik dalam melengkapi persyaratan karena setelah dilakukan verifikasi yang ketiga, keduanya lolos menjadi calon presiden menyusul Anjar yang sudah terlebih dahulu lolos. Setelah disahkan menjadi calon presiden, ketiga calon presiden beserta promotornya harus menghadiri acara pembekalan aturan kampanye. Sebelum dilakukan pembekalan, ketiga calon harus mengambil kertas yang berisi urutan pada saat pemilihan. Uniknya urutan calon presiden tidak dalam bentuk angka, namun dalam bentuk abjad. Inovasi tersebut dilakukan karena tagline pemilu tahun ini adalah ‘Semua tahu! Semua Milih! Semua Bersatu!’. “Takutnya tagline kami mengacu pada calon nomor satu, jadi kami mengubah nama pengurutan menjadi calon A, calon B dan calon C. Ari itu calon A, Taufik calon B dan Anjar calon C.” jelas Sekretaris Umum Pemilu, Muhammad Ardhin (Teknik Informatika 2009).

Menurut Ardhin, semua calon presiden memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam hal kepemimpinan. Ketiganya pun memiliki latar belakang yang berbeda, Ari merupakan aktivis Kabinet KM ITB, Taufik dipercayai menjadi senator dari himpunan Geologi, sedangkan Anjar sedang menjabat sebagai Menteri Keprofesian dan Inovasi di Kabinet KM ITB. “Tetapi yang pasti ketiga calon presiden menginginkan agar KM ITB menjadi lebih baik. Supaya ga bingung mau milih calon presiden yang mana, sebaiknya kita mengikuti acara hearing” Ardhin menambahkan.***