ITB Akan Selenggarakan Pertunjukan Tari Saman Massal

Posted on Maret 1, 2012

0


Oleh

Luthfia Ayu Indriani (18109007)

 

Untuk pertama kalinya di ITB, akan ditampilkan tari Saman yang diperkirakan akan dibawakan oleh sekitar 300 mahasiswi dari seluruh penjuru kota Bandung.

BANDUNG- Unit Kesenian Aceh Institut Teknologi Bandung (UKA ITB) akan menyelenggarakan pementasan secara massal tari Ratoh Duek, sebuah tarian masyarakat asal Aceh, yang selama ini lebih dikenal oleh masyarakat dengan nama tari Saman. Bertempat di ITB, pementasan ini menurut rencana akan digelar pada tanggal 2 Maret 2012. Penampilan yang masih merupakan rangkaian acara dari perhelatan bertajuk “Gelar Budaya Aceh” ini adalah lanjutan acara dari pre-event yang telah dilaksanakan sejak sebulan sebelumnya, yaitu Pelatihan Tari Saman yang telah dimulai dari tanggal 2 Februari 2012. Dibuka untuk umum, sebanyak sekitar 300 mahasiswi yang tidak hanya berasal dari ITB, namun juga kampus-kampus lainnya yang tersebar di Bandung, ikut berpartisipasi dalam acara ini.

Nindi Nuansa Maharani, atau akrab disapa Nindi, salah satu mahasiswi ITB, menuturkan alasannya mengikuti pelatihan tari Saman ini. “Awalnya sih saya ikut pelatihan ini (pelatihan tari Saman – red) karena ajakan teman-teman. Karena teman-teman yang satu jurusan dengan saya banyak yang mendaftar, saya menjadi tertarik untuk ikut,” ungkapnya.

Lebih lanjut, gadis yang sedang berkuliah tingkat tiga jurusan Teknik Industri ini mengatakan, “Sebenarnya ketika pertama kali mendengar informasi tentang ini, saya sudah tertarik membayangkan bagaimana ratusan orang menari Saman bersama secara serentak. Yang membuat saya lebih tertarik adalah biaya pendaftarannya relatif murah.”

Memang untuk mengikuti pelatihan tari Saman yang diadakan dua kali seminggu selama sebulan ini, hanya dibutuhkan biaya Rp80.000,00 perorang. Dengan membayar biaya tersebut, tiap peserta juga mendapatkan satu buah CD Tutorial Menari Saman, baju tari, dan sertifikat sebagai penanda telah ikut berpastisipasi dalam pementasan tarian Saman.

Lain halnya dengan Nindi yang mengikuti pelatihan bersama teman-temannya, Ovie Gestari justru awalnya mengikuti pelatihan ini seorang diri. “Teman-teman saya menolak untuk diajak karena rumah mereka jauh, sedangkan jadwal latihan selalu malam,” tutur gadis yang akrab disapa Ovie ini.

Ketika ditanya mengenai kesanggupannya memelajari tari Saman dalam jangka waktu hanya satu bulan, gadis yang sedang berkuliah di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati ini mengatakan, “Saya belum pernah belajar menari sebelumnya dan sempat mengira bahwa menari Saman itu ribet. Namun jika dipelajari, gerakan Saman itu sebenarnya mudah dan cukup simpel. Yang membuat kagok itu jika harus mengompakkan gerakan dengan teman lainnya. Karena temponya makin lama makin cepat, dan gerakan harus tetap bersamaan, di situlah tantangannya. Tapi saya rasa satu bulan sudah cukup untuk memantapkan gerakannya”

Gerakan tari Saman, yang terdiri dari kombinasi gerakan dasar tepuk tangan dan tepuk dada, memang dikenal cepat dan serempak. Karena biasanya jumlah penari yang menampilkan tarian ini paling banyak hanya belasan orang, membawakan sebuah tarian Saman dengan jumlah penari mencapai 300 orang, apalagi hanya dengan berlatih selama satu bulan, menjadi sebuah tantangan tersendiri.

Salah satu panitia penanggung jawab pelatihan dan pementasan tari Saman, Devi Nandita, mengaku puas dengan jumlah peserta yang mendaftar. “Awalnya saya tidak menyangka yang mendaftar sebanyak ini, karena target awal kami hanya 250 orang. Banyak sekali mahasiswi dari luar ITB yang mendaftar, bahkan sebagian dari mereka tempat tinggalnya cukup jauh dari ITB.”

Devi mengaku sangat berbangga hati karena tidak banyak unit kegiatan mahasiswa dalam kampus seperti UKA ITB yang sukses menyelenggarakan acara berpartisipan banyak seperti ini. Gadis ini juga mempunyai harapan agar suatu saat UKA ITB dapat menyelenggarakan pementasan tari yang lebih besar, bahkan sampai memecahkan rekor MURI. “Saya harap tari tradisional dapat menjadi tren di kalangan anak muda, sehingga nilai-nilai kebudayaan tradisional Indonesia tetap terlestarikan,” tuturnya.***

About these ads
Ditandai:
Posted in: seni